Fakultas Psikologi Untag Surabaya Optimalkan Merdeka Belajar Kampus Merdeka

harianmerahputih.id
mahasiswa untag surabaya saat melakukan pendampingan dari sisi akademis dan non akademis, serta menjalin sinergi dengan sekolah di SD Mojo VI Surabaya

MERAHPUTIH I SURABAYA - Terhitung 26 Maret lalu, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya terpilih sebagai mitra Program Surabaya Mengajar (PSM) yang diluncurkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) bersama Pemerintah Kota Surabaya dan 23 perguruan tinggi lainnya. 

Dosen Pembimbing Lapangan Bentuk Kegiatan Pembelajaran Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Mengajar di Sekolah, Isrida Yul Arfiana berhasil mengantarkan 17 mahasiswa Fakultas Psikologi untuk terlibat langsung selama enam bulan sebagai pengajar muda. 

Baca juga: Untag Surabaya Mantapkan Langkah Global, Gandeng UTHM Malaysia Perkuat Riset dan Akademik

“Terpilihnya Untag Surabaya sebagai mitra Surabaya Mengajar yaitu karena salah satunya adanya kerja sama antara Fakultas Psikologi Untag Surabaya dengan Dinas Pendidikan Kota Surabaya terkait Tri Dharma Perguruan Tinggi pada tahun 2019 silam. Peluang ini kita optimalkan untuk mahasiswa ber-Merdeka Belajar Kampus Merdeka dalam Bentuk Kegiatan Pembelajaran (BKP) Kampus Mengajar,” ujar Isrida. 

Dosen Fakultas Psikologi Untag Surabaya itu menjelaskan mahasiswa yang terpilih sebagai pengajar muda tersebut melakukan pendampingan dari sisi akademis dan non akademis, serta menjalin sinergi dengan sekolah untuk peningkatan mutu sekolah. 

“Dalam PSM para pengajar muda melakukan pendampingan untuk peningkatan mutu melalui identifikasi, perancangan, implementasi serta evaluasi masalah belajar pada sekolah, salah satunya di SD Mojo VI Surabaya,” jelasnya.

Baca juga: Untag Surabaya Raih Best Poster di Gelar Inovasi Harmoni Nusantara 2025

Pada proses pelaksanaan PSM ini bertepatan dengan bulan ramadhan namun tidak mengecilkan semangat pengajar muda dalam melaksanakan PSM. Kehadiran pengajar muda di sekolah justru memberikan sinergi antar mahasiswa dengan guru, siswa, bahkan orang tua. 

“Dalam implementasinya program ini telah berjalan sejak bulan April hingga Juni kemarin dan bertepatan dengan bulan ramadhan, namun hal ini tidak mengecilkan semangat mahasiswa, terbukti meski singkat namun bounding telah terbentuk contohnya seperti siswa maupun orang tua melepas mahasiswa dengan acara perpisahan,” kenangnya.

Rida juga memaparkan bahwa kegiatan yang berlangsung selama tiga bulan ini kemudian dikonversikan dalam satuan kredit semester (SKS). “PSM ini dikonversi ke 18 SKS dalam empat mata kuliah antara lain asesmen siswa berkebutuhan khusus dengan bobot enam SKS, bimbingan dan penyuluhan sekolah dengan bobot lima sks, penyusunan media pembelajaran dengan bobot enam SKS, dan kuliah kerja nyata (KKN) dengan bobot dua sks, jadi ber-MBKM mengajar sekaligus KKN,” ujarnya.

Baca juga: Untag Surabaya Kukuhkan Dua Guru Besar Baru, Tekankan Isu Konstitusi dan Nasionalisme Teknologi

Ia menyebutkan terdapatnya dua indikator dalam tercapainya PSM. “Dalam pelaksanaan PSM indikator tercapainya program ini ditentukan oleh persentase mahasiswa yang terlibat serta terlaksananya aktivitas MBKM dalam tajuk Surabaya Mengajar dengan tuntas. Artinya mulai dari pelaporan, logbook, proses bimbingan terlaksana secara baik,” ujar Rida. (red)

 

Editor : prass prasetyo

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru