Curhat Si Yatim Soal Bansos dan Usulan Dibentuk Satgas Pengawasan

harianmerahputih.id
Di rumah ini yatim bersaudara tinggal (Foto: ist)

MERAHPUTIH | SURABAYA - Seiring penanganan kasus Covid-19, juga ikut diberitakan turunnya Bantuan Sosial (Bansos) berbagai jenis dan penyebutannya yang dikucurkan pemerintah. Diantaranya ada Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT DD) sebesar Rp 3 miliar. Diperuntukkan bagi 5.006 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Jatim. Sementara, Jatim mendapatkan alokasi Dana Desa tahun 2020 sebesar 7,570 triliun.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa saat memberikan paparan penanganan Covid-19 di Gedung Negara Grahadi Surabaya, menyebut setiap keluarga penerima BLT memperoleh Rp600 ribu selama tiga bulan atau sebesar Rp 1,8 juta. Itu diharapkan bermanfaat untuk membeli kebutuhan selama ramadhan dan meringankan beban ekonomi mereka. "BLT diberikan selama tiga bulan, mulai April hingga Juni. Skemanya non tunai atau cashless," kata Gubernur Khofifah, saat itu.

Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya

Untuk Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang berlaku di Surabaya Raya juga diiringi dengan kucuran dana. Kota Surabaya mendapatkan Rp 27 miliar, Sidoarjo 39 miliar dan Gresik 21 miliar. Jumlah yang tidak sedikit dan harus tepat sasaran, penerima harus warga terdampak atau keluarga miskin yang berhak menerima.

Sejumlah fakta terkait pencairan bantuan mulai memunculkan berbagai kisah. Diantaranya disuarakan anak yatim di Surabaya ini. Tiga bersaudara, Wahyu Azis, Ahimsa dan Akfah ini tak bisa senyum layaknya keluarga lain yang hidup berkecukupan.

Sebagai saudara tertua, Wahyu Azis alias Dedat mengaku ekonomi keluarganya sulit sejak kepergian almarhum ibunya. Ditambah lagi saat ini bergulir PSBB di musim pandemi Covid-19. Dirinya mengaku bisa menghibur diri lantaran masih kerja, sambil mengatakan meski sedikit masih bisa cari duit. Berbeda dengan kedua adiknya masih butuh biaya. Itu yang membuat dia kelimpungan, 'besar pasak daripada tiang'.

"Di hari biasa aja sulit, apalagi sekarang ada Covid dan diterapkan PSBB. Adik harus sekolah dari rumah, kebutuhan terus berjalan juga beli pulsa paket data, duh pusing Om," tulis Dedat saat mengadu melalui Whattshap (WA) handphonenya, Sabtu (9/4).

Baca juga: Jatim Ciptakan Lompatan Ekonomi, TransJatim Jadi Sorotan: Khofifah Raih Dua Penghargaan Sekaligus

Tiga bersaudara yang dua tahun silam ibunya meninggal itu harus putar otak untuk memenuhi kebutuhan di dapur rumahnya, Babadan Rukun 5, Kelurahan Dupak, Kecamatan Krembangan, Surabaya. Sementara, bapaknya di rantau dipastikan tidak bisa pulang ke rumah (lantaran pelarangan mudik) membuat beban hidup harus dipikul sendiri.

Lulusan sekolah menengah kejuruan yang ingin kuliah namun tak ada biaya itu mengaku juga tidak paham kategori apa yang membuat dia dan adiknya tak tersentuh bansos untuk masyarakat kurang mampu. Adik keduanya di SMK pun disebutkan juga sering telat membayar uang sekolah. 

"Ndak tahu, gimana sih Om aturannya untuk mendapatkan Bansos. Apa kriterianya? Saya dan dua adik tiap hari kekurangan, tapi ndak tersentuh (Bansos). Termasuk untuk musibah Covid-19 ini," ucapnya.

Baca juga: HKTI Deklarasikan Jatim Lumbung Ternak, Inovasi Peternakan Jadi Fokus

Remaja yang aktif di perkumpulan pemuda masjid itu hanya bisa menggerutu. Sambil bergumam model penyaluran dan pengawasan bansos perlu dicermati, bila perlu harus ada Satgas Pengawasan (dalam penyaluran). "Masak yang tergolong mampu atau kaya, malah mereka dapat, aduh gimana ini. Kasihan orang yang miskin dan berhak menerima malah tidak dapat," ucapnya. (*)

 

Editor : Tudji Martudji

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru