Hatur Nuhun, Rachmat Irianto

harianmerahputih.id
Rachmat Irianto

MERAHPUTIH I BANDUNG - Ada kalimat sederhana yang terus bergema di Stadion Gelora Bandung Lautan Api setiap kali PERSIB berlaga: "Sekali PERSIB, tetap PERSIB." Kalimat itu bukan hanya semboyan, melainkan napas yang menyatu dalam setiap langkah para pemain yang mengenakan kostum biru. Dan kali ini, napas itu mengiringi kepergian salah satu sosok sentral yang selama tiga musim terakhir menjadi fondasi di lini tengah: Rachmat Irianto.

Musim 2024/25 menjadi penanda berakhirnya kebersamaan antara PERSIB dan Rian begitu ia akrab disapa. Sang gelandang bertahan berusia 25 tahun tak lagi tercantum dalam daftar skuad Pangeran Biru untuk musim 2025/26. Keputusan itu diambil bersama, setelah diskusi panjang yang menempatkan rasa hormat di atas segalanya.

Baca juga: Persebaya Gaspol ke Lampung, Uston Pastikan Skuad Tetap Bugar Meski Jadwal Melelahkan

"Selama tiga tahun, Rian menjadi bagian penting dari perjalanan tim ini, baik dalam suka maupun duka. Ia sosok pekerja keras, tanpa banyak kata, tapi kontribusinya nyata," ujar Deputy CEO PT PERSIB Bandung Bermartabat, Adhitia Putra Herawan.

Tak sedikit Bobotoh sebutan untuk suporter setia PERSIB yang mengaku kehilangan. Rian bukanlah pemain flamboyan, bukan pula pencetak gol terbanyak. Tapi ia adalah nyawa di lini tengah: menjembatani pertahanan dan serangan, tak kenal takut dalam duel, dan menjadi simbol kerja tanpa pamrih.

Sejak kedatangannya pada awal musim 2022/23, Rian segera menempati ruang penting dalam strategi Robert Alberts. Dalam musim pertamanya, ia tampil 25 kali dan mencatatkan satu gol. Ketika tongkat kepelatihan berpindah ke tangan Luis Milla, lalu berlanjut ke Bojan Hodak, perannya tak tergoyahkan.

Musim kedua menjadi titik kulminasi. Di bawah Hodak, PERSIB menapak tangga juara. Rian tampil dalam 29 laga, bermain tidak hanya sebagai gelandang, tetapi juga di posisi bek tengah dan bek kanan. Ketangguhannya menjadi kunci kestabilan tim yang kala itu menyegel gelar Liga 1 2023/24.

Baca juga: PERSIB Langsung Terbang ke Surabaya, Siapkan Diri Hadapi Madura United di Tengah Padatnya Jadwal

Musim ketiga justru memperlihatkan sisi lain dari Rian: ketabahan. Cedera memaksanya absen panjang. Hanya 12 pertandingan yang bisa ia lakoni. Namun suara dari ruang ganti menyebut, kehadirannya tetap besar. Rian tetap jadi panutan, jadi pembakar semangat.

Secara keseluruhan, ia membukukan 66 penampilan dan 2 gol di Liga 1, serta turut mengisi line-up PERSIB dalam 4 laga AFC Champions League Two. Catatan yang, jika hanya dibaca lewat angka, mungkin tak menggetarkan. Tapi dalam dinamika sebuah tim juara, angka hanya sebagian kecil dari makna sebenarnya.

Kini, langkahnya akan berlanjut. Belum diketahui ke mana ia akan berlabuh. Namun satu hal yang pasti, jejaknya telah tertulis dalam sejarah klub ini. Nomor 53 yang dikenakannya mungkin akan segera digunakan pemain lain. Tapi keberadaan Rian di hati Bobotoh dan di lembar sejarah klub akan abadi.

Baca juga: Lion City Sailors Kalahkan Persib 3-2, Perebutan Tiket 16 Besar Grup G Memanas

"Hatur nuhun, Mas Rian. Sukses untuk perjalanan berikutnya," ujar Adhitia menutup.

Ada pemain yang datang dan pergi. Tapi hanya sedikit yang bisa meninggalkan kesan yang lebih dalam dari sekadar statistik. Rachmat Irianto, dengan kerja keras, ketulusan, dan loyalitasnya, termasuk dalam golongan langka itu. Ia datang sebagai pemain, dan pulang sebagai legenda kecil yang dicintai. Karena dalam sepak bola, seperti dalam hidup, yang paling membekas bukan sekadar kemenangan, melainkan mereka yang bertarung sepenuh hati. (RED)

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru