MERAHPUTIH I BANDUNG — Tak sekadar angka, nomor punggung 10 selalu hadir dengan beban sejarah dan harapan. Di Persib Bandung musim ini, nomor keramat itu akan kembali mengisi lembaran baru, kali ini di punggung seorang gelandang serang asal Brasil: Wiliam Marcilio.
Ketika Wiliam memperkenalkan diri kepada publik Maung Bandung, satu hal langsung mencuri perhatian: pilihannya mengenakan nomor 10, angka yang dalam sepak bola Brasil nyaris setara dengan mahkota tak terlihat. Ia menyebut, mengenakan angka tersebut di klub besar seperti Persib bukan sekadar kebetulan, melainkan keputusan yang sarat makna personal dan historis.
Baca juga: Lion City Sailors Kalahkan Persib 3-2, Perebutan Tiket 16 Besar Grup G Memanas
"Di Brasil, nomor 10 itu sakral, apalagi untuk pemain bertipe menyerang seperti saya," ujar Wiliam, dalam wawancara eksklusif usai latihan tim, Senin (1/7). “Banyak legenda mengenakannya—Pele, Zico, Ronaldinho, Rivaldo, hingga Neymar. Itu bukan hanya nomor, tapi simbol kebanggaan dan tanggung jawab.”
Bagi Wiliam, jejak para maestro Brasil adalah inspirasi. Ia tumbuh menyaksikan magis Neymar di Camp Nou dan sambaran petir Ronaldinho di Parc des Princes. Dalam dirinya, terkumpul harapan untuk meneruskan semangat bermain indah, penuh kreativitas, dan tetap tajam di lini serang. Nomor 10 menjadi semacam jubah tak terlihat yang menyatukan impian masa kecilnya dengan tantangan profesional di masa kini.
“Ini bukan sekadar simbol. Nomor 10 memberi saya energi, memacu saya tampil maksimal untuk Persib. Saya tahu ekspektasi suporter sangat tinggi, tapi itu justru yang saya cari—tantangan besar di klub besar,” tegasnya.
Baca juga: PERSIB Tahan Gempuran Lion City Sailors, Babak Pertama Berakhir 1-1
Wiliam bukan satu-satunya yang pernah mencicipi aura magis angka 10 di kubu Persib. Nama-nama besar sebelumnya pernah memikul beban serupa. Kini, estafet itu berada di tangan pemain berusia 26 tahun yang pernah mencicipi kompetisi Serie B Brasil bersama Tombense dan sempat merumput di Liga Asia.
Tak butuh waktu lama bagi Wiliam menyatu dalam sistem permainan tim asuhan Bojan Hodak. Dalam beberapa laga pramusim, pergerakannya menunjukkan naluri ofensif dan kemampuan membaca ruang yang baik. Bola-bola pendek cepat dan insting menembaknya mulai memperlihatkan karakter nomor 10 klasik yang menghibur sekaligus mematikan.
Namun, ia sadar, perjalanan di Liga 1 bukan perkara mudah. “Saya tahu Persib punya sejarah panjang dan basis pendukung yang luar biasa. Saya ingin membalas kepercayaan itu lewat performa, bukan hanya gaya,” katanya.
Baca juga: Target Juara Grup G, Saddil Tegaskan PERSIB Akan Tempur Total di Markas Lion City Sailors
Ketika ditanya siapa panutannya dalam sepak bola modern, Wiliam menjawab cepat, “Neymar Jr.” Idolanya itu, menurut Wiliam, adalah contoh terbaik dari gabungan flair Brasil dan determinasi Eropa. “Dia bermain dengan kebebasan, tapi tetap tajam dan cerdas. Itu yang ingin saya terapkan di sini.”
Musim baru pun tinggal menghitung hari. Di stadion-stadion yang akan dipenuhi biru dan chant fanatik bobotoh, Wiliam tak hanya membawa sepasang sepatu dan taktik menyerang. Ia membawa warisan dari negeri Samba, dengan angka keramat di punggungnya, dan tekad untuk menjadikannya lebih dari sekadar angka: sebagai bukti bahwa pesona “10” masih hidup di tanah Pasundan. (red)
Editor : Redaksi