Surabaya Menyulam Masa Depan Lewat 342 Inovasi

harianmerahputih.id
Pemkot Surabaya terus mengembangkan sejumlah inovasi unggulan untuk memudahkan layanan publik.

MERAHPUTIH I SURABAYA - Di balik wajah kota yang terus bergerak dan berubah, Surabaya menanam harapan dalam bentuk inovasi. Tak kurang dari 342 terobosan telah dikembangkan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya—menyentuh hampir setiap aspek kehidupan, dari layanan administrasi kependudukan hingga pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan.

Di tengah deru pembangunan dan tantangan sosial yang terus bergulir, inovasi menjadi bahasa baru Surabaya untuk menjawab kebutuhan warganya.

Baca juga: Surabaya Genjot Wisata Akhir Tahun, Tiket Empat Destinasi Cuma Rp500 via QRIS Bank Jatim

“Tujuannya bukan hanya sekadar percepatan layanan,” ujar Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Senin (28/7/2025). “Tapi bagaimana setiap inovasi punya dampak jangka panjang untuk menurunkan kemiskinan, stunting, hingga pengangguran. Semuanya harus menuju ke sana.”

Tak hanya menggugurkan kewajiban administratif, inovasi-inovasi ini dimaksudkan menjadi suluh bagi perubahan sosial. Eri Cahyadi—yang akrab disapa Cak Eri—menyebut tujuh target utama yang harus menjadi napas dari setiap inovasi: penurunan kemiskinan, kematian ibu dan anak, stunting, pengangguran terbuka, serta peningkatan IPM, pertumbuhan ekonomi, dan penurunan gini rasio.

Dan hasilnya mulai terlihat. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Surabaya mengalami kenaikan. Angka kemiskinan, stunting, dan pengangguran perlahan menurun. Ini bukan hanya soal angka. Ini tentang manusia.

Namun Surabaya tidak berdiri sendiri dalam mewujudkannya. Ada anak-anak muda, aparatur kelurahan, guru, bahkan pengurus masjid yang ikut ambil bagian. Semangat ini ditampung melalui Inovboyo, ajang tahunan yang digagas Pemkot Surabaya melalui Bappedalitbang.

“Inovboyo bukan sekadar lomba,” kata Kepala Bappedalitbang Irvan Wahyudrajad. “Ia adalah panggung bagi semua warga untuk menjadi inovator. Inilah bentuk demokratisasi inovasi.”

Tiga pilar menjadi penopangnya. Pertama, Demokratis Inovasi, yang menempatkan setiap warga sebagai pencetus gagasan. Kedua, Ekonomi Sirkular dan Berkelanjutan, sebagai upaya mentransformasi kota menjadi pelopor ekonomi hijau. Dan ketiga, Teknologi Humanis, yang mendorong penggunaan AI dan IoT sebagai alat bantu untuk menghadirkan solusi.

Baca juga: Pemkot Surabaya Dirikan Posko Peduli Bencana di Taman Surya, Salurkan Bantuan untuk Korban di Sumatera

“Bayangkan jika AI bisa memberi peringatan dini banjir ke ponsel warga,” lanjut Irvan. “Inilah teknologi yang tidak jauh dari rakyat, tapi menyatu dengan kebutuhan mereka.”

Inovasi-inovasi itu hadir dalam bentuk konkret: aplikasi SIMBA dari Bakesbangpol untuk mengelola administrasi barang, SIPENA untuk mengatur arsip, hingga SIORMAS yang mendata organisasi masyarakat.

Bappedalitbang sendiri punya barisan inovasi strategis, seperti SI TALAS (akses informasi ramah anak), Opslan dan Devplan (penyusunan rencana strategis), hingga e-Kajian dan e-Monev yang mendukung keterbukaan informasi dan efisiensi kerja birokrasi.

Ada pula Inovboyo yang tak hanya menjadi ajang, tapi juga sistem untuk menyimpan, menumbuhkan, dan menyebarkan ide. Ia menjadi nadi yang menghubungkan gagasan dengan kebutuhan kota.

Baca juga: Eri Cahyadi Raih Anugerah Tertinggi PGRI


Pada 2024 lalu, Surabaya dinobatkan sebagai Kota Terinovatif oleh Kementerian Dalam Negeri dalam ajang Innovative Government Award (IGA). Sebuah pengakuan yang, menurut Cak Eri, mustahil dicapai tanpa keterlibatan masyarakat.

“Yang paling penting itu, menggerakkan anak muda,” tegasnya. “Karena saya percaya, ide-ide besar lahir dari mereka.”

Di kota ini, inovasi bukan hanya tentang alat dan teknologi. Ia adalah cara lain untuk mencintai kota. Cara lain untuk merawat harapan. Dan mungkin, cara paling jujur untuk menjawab masa depan. (red)

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru