Mahasiswa Untag Surabaya Bantu Peternak Mojokerto Atasi Stres Ayam Lewat Inovasi "Cek Kandangku"

harianmerahputih.id
Wahyu Enggar Jati, mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, hadir dengan inovasi berbasis Internet of Things (IoT) yang ia beri nama “Cek Kandangku.”

MERAHPUTIH I SURABAYA - Di Mojokerto, suhu udara siang hari kerap menyentuh titik ekstrem. Bagi masyarakat biasa, panas ini hanya sekadar membuat gerah. Namun, bagi peternak ayam petelur, panas berlebih berarti kerugian. Ayam menjadi stres, nafsu makan menurun, dan produksi telur pun merosot. Situasi ini sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa solusi yang benar-benar efektif.

Namun, siapa sangka, sebuah jawaban datang bukan dari laboratorium besar, melainkan dari seorang mahasiswa yang masih duduk di bangku kuliah. Wahyu Enggar Jati, mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, hadir dengan inovasi berbasis Internet of Things (IoT) yang ia beri nama “Cek Kandangku.”

Baca juga: Pemkot Surabaya Dirikan Posko Peduli Bencana di Taman Surya, Salurkan Bantuan untuk Korban di Sumatera

Alat yang mulanya hanya proyek Kuliah Kerja Nyata (KKN) ini kini membuka jalan baru bagi peternak kecil Mojokerto untuk keluar dari lingkaran masalah klasik: stres termal pada ayam.

Enggar mengaku, ide tersebut lahir dari mendengarkan langsung keluhan peternak mitra. Ia terjun ke lapangan, berbincang dengan para peternak yang setiap hari harus berjibaku dengan kondisi kandang. Dari situlah ia mendengar cerita tentang ayam yang megap-megap, nafsu makan hilang, hingga hasil panen telur menurun drastis.

“Kalau ayam sudah stres karena panas, napasnya tersengal-sengal. Pakan tidak habis, produksi telur turun. Itu masalah nyata,” kata Enggar.

Situasi itu mendorongnya berpikir bagaimana teknologi sederhana bisa hadir untuk mengubah keadaan. Ia pun mulai merancang sistem pemantauan kandang yang tidak hanya praktis, tetapi juga terjangkau untuk peternak kecil.

Uji coba pertama pada kandang mitra di Mojokerto membuahkan hasil mengejutkan. Sebelum penggunaan sistem, rata-rata produksi telur hanya 23 kilogram per hari. Setelah alat dipasang dan mulai bekerja, angka produksi stabil naik menjadi 25 kilogram per hari.

Kenaikan 2 kilogram per hari memang tampak kecil, namun bagi peternak kecil, tambahan tersebut sangat berarti. Dengan harga telur yang fluktuatif, selisih itu bisa membantu menutup biaya pakan atau menambah pendapatan harian.

“Dari sisi peternak, mereka langsung merasa terbantu. Produktivitas naik, kerja lebih ringan, dan yang paling penting ayam tidak gampang stres,” ujar Enggar.

Keunggulan alat ini terletak pada integrasi teknologi sederhana namun efektif. Menggunakan mikrokontroler sebagai pusat kendali, Enggar melengkapi sistem dengan beberapa sensor:

  • Sensor suhu DHT22, untuk memantau suhu udara di dalam kandang.
  • Sensor amonia, guna mendeteksi kadar gas berbahaya yang berpotensi meracuni ayam.
  • Sensor ultrasonik, yang berfungsi mengukur ketinggian air di tandon.

Semua data tersebut terhubung langsung ke sebuah website yang dapat diakses peternak melalui smartphone. Dengan begitu, pemantauan kandang tidak lagi mengandalkan perkiraan atau kehadiran fisik, melainkan berbasis data real-time.

“Kalau suhu naik, langsung bisa ketahuan. Kalau air menipis, juga ada notifikasi. Jadi peternak lebih tenang,” papar Enggar.

Menariknya, perakitan alat ini hanya membutuhkan waktu sekitar dua minggu. Enggar menyebut, kunci keberhasilan adalah perencanaan matang sejak awal. Selama KKN, ia sudah merancang langkah demi langkah yang akan diambil.

“Dari KKN, saya sudah kepikiran step by step. Jadi waktu bikin, tinggal jalankan saja sesuai rencana,” ujarnya.

Baca juga: Eri Cahyadi Raih Anugerah Tertinggi PGRI

Walaupun masih dalam tahap prototipe, keberhasilan awal “Cek Kandangku” sudah membuat Enggar berpikir jauh ke depan. Ia ingin menyempurnakan perangkat ini agar bisa digunakan dalam skala yang lebih luas, bahkan skala industri.

“Saya ingin menambahkan sistem kontrol otomatis untuk kipas. Jadi suhu bisa dijaga stabil tanpa harus menunggu peternak turun tangan,” ungkapnya.

Bagi Enggar, “Cek Kandangku” bukan hanya sebuah alat elektronik, melainkan simbol bahwa inovasi dari kampus bisa memberi dampak nyata bagi masyarakat. Ia berharap karya ini bisa menjadi salah satu solusi massal yang meningkatkan kesejahteraan peternak di Indonesia.

Jika nantinya diproduksi secara massal, sistem ini bisa menjadi standar baru dalam peternakan modern, sekaligus mengurangi kerugian akibat stres termal yang selama ini menghantui peternak.

“Harapan saya sederhana, alat ini bisa membantu lebih banyak orang. Kalau bisa diproduksi massal, tentu manfaatnya jauh lebih besar,” pungkasnya.

Inovasi Wahyu Enggar Jati membuktikan satu hal: solusi besar kadang datang dari ide yang sederhana. Dengan memanfaatkan teknologi digital yang kini semakin terjangkau, persoalan klasik di lapangan bisa dijawab secara efektif.

“Cek Kandangku” juga menjadi bukti bahwa generasi muda tidak sekadar belajar teori di kelas, tetapi mampu menghadirkan karya nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Baca juga: Pemkot Surabaya Sisir Jalan Dharmawangsa–Semarang: Trotoar Dibersihkan, Parkir Liar Ditertibkan

Jika terus dikembangkan, bukan tidak mungkin alat ini akan menjadi salah satu tonggak penting transformasi peternakan rakyat di Indonesia dari pola tradisional menuju era digital berbasis data. (DPR)

 

 

 

 

 

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru