MERAHPUTIH I PASURUAN – Langkah baru menuju industri hijau kembali dimulai di Jawa Timur. Gubernur Khofifah Indar Parawansa, Rabu (15/10), memimpin prosesi groundbreaking pembangunan Dyeing and Finishing Factory milik PT Coats Rejo Indonesia di Pleret, Kabupaten Pasuruan.
Didampingi Konsul Kehormatan Kerajaan Inggris untuk Jawa Timur Ivy Kamadjaja dan Managing Director Coats Rejo Indonesia Nguyen Phan, Khofifah menandai dimulainya pembangunan pabrik yang diklaim sebagai fasilitas alas kaki terintegrasi pertama di Indonesia, bahkan dunia.
Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya
“Kontribusi terhadap ekonomi, devisa, dan lapangan kerja tentu penting. Tapi lebih dari itu, kita ingin industri ini memberi contoh bagaimana industrialisasi bisa berjalan seiring dengan tanggung jawab lingkungan,” ujar Khofifah.
Dengan nilai investasi mencapai Rp623,9 miliar, pabrik ini ditargetkan menyerap sekitar 547 tenaga kerja. Namun, bagi Khofifah, makna proyek ini melampaui angka ekonomi. Ia menilai Coats Rejo Indonesia menjadi simbol komitmen terhadap keberlanjutan, sejalan dengan target Net Zero Emission 2060 yang diusung pemerintah.
Di pabrik ini, konsep green industry bukan sekadar slogan. Penggunaan solar panel, pengolahan limbah menuju no waste production, dan penerapan ekonomi sirkular menjadikan Coats Rejo sebagai laboratorium hidup bagi industri ramah lingkungan.
“Inggris adalah negara dengan komitmen kuat pada industri hijau menuju blue industry. Dan di Coats Rejo, kita bisa melihat semangat itu diwujudkan,” tutur Khofifah.
Baca juga: Imam Utomo Kembali Pimpin PMI Jawa Timur: Aklamasi yang Menegaskan Soliditas dan Kepercayaan Publik
Sementara itu, Ivy Kamadjaja menilai kehadiran Coats Rejo di Pleret sebagai bentuk kemitraan strategis antara Inggris dan Indonesia di sektor industri berkelanjutan.
“Ini bukan hanya investasi ekonomi, tapi juga investasi nilai dan masa depan,” ucap Ivy.
Nguyen Phan, Managing Director Coats Rejo Indonesia, menambahkan bahwa pabrik ini akan mengintegrasikan berbagai proses, mulai pemintalan, pencelupan, hingga produksi komponen sepatu dalam satu lokasi. Kapasitas produksi ditargetkan meningkat menjadi 9 ton per hari pada 2030.
Baca juga: Jatim Ciptakan Lompatan Ekonomi, TransJatim Jadi Sorotan: Khofifah Raih Dua Penghargaan Sekaligus
“Kami ingin menjadi bagian dari transformasi industri lokal yang tidak hanya kuat secara ekonomi, tapi juga bertanggung jawab terhadap bumi,” tegas Nguyen.
Dengan semangat kolaborasi antara pemerintah, dunia industri, dan mitra internasional, Pleret kini bersiap menjadi contoh baru: bahwa Jawa Timur bukan hanya pusat manufaktur, tetapi juga pusat inovasi menuju masa depan yang berkelanjutan.(RED)
Editor : Redaksi