MERAHPUTIH | SURABAYA - Ini bisa menjadi contoh untuk para pelaku bisnis kuliner, umumnya pemilik kedai kopi dalam mendukung New Normal Baru dan melindungi kesehatan pelanggan yang datang, dari bahaya penyebaran Covid-19.
Memasuki era normal baru, bisnis Food And Beverage (FnB) pun berbondong-bondong melakukan pembenahan dalam penerapan protokol kesehatan. Meski telah memasuki era transisi normal baru, namun nyatanya bisnis FnB belum menunjukkan perkembangan yang positif.
Richard Andrea, pemilik kedai kopi di Surabaya ini mengaku setelah dicabutnya status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Surabaya Raya, omset kedainya justru merosot jauh ketimbang masa PSBB. Dia menyebut, itu juga dialami sejumlah usaha FnB milik beberapa rekannya yang lain. Menurut Richard, saingannya kini bukan restoran atau cafe lagi, tapi korban PHK yang membuka usaha makanan dan minuman.
"Logikanya begini, 10 pegawai hotel yang dirumahkan, diantara mereka mungkin tidak akan ada yang membuka usaha hotel baru, tapi kalau yang dirumahkan itu pegawai FnB? Bisa dibayangkan berapa usaha makanan dan minuman baru yang muncul, tanpa memikirkan biaya sewa dan gaji pegawai," kata Richard Andrea, Senin (22/6).
Richard menambahkan, bahwa mereka yang dirumahkan dan merintis usaha FnB membawa semangat new born dalam menjalankan usahanya. Sedangkan para pengusaha cafe dan kedai menjalankan usahanya dengan semangat new normal yang bisa dibilang tidak seperti dulu lagi, karena dari segi kapasitas meja dan kursi pun harus dikurangi minimal 50%, hal itu akhirnya berimbas pada omset harian.
Richard tidak menyalahkan atau menyesali kondisi yang terjadi saat ini, ia hanya memaparkan fenomena deadly silent yang terjadi pada pengusaha FnB, dan memberi sudut pandang lain terhadap era new normal pada bisnis makanan dan minuman.
Ketika ditanya soal inovasinya dalam penerapan protokoler kesehatan untuk rumah makan ataupun cafe, Richard mengatakan bahwa sekat yang ia buat di kedainya bukan semata mata untuk mentaati peraturan pemerintah, tapi bagaimana menciptakan rasa nyaman kepada para pelanggannya.
Vira dan Naomi, pelanggan kedai network merasa lebih nyaman dengan sekat model ruangan seperti ini.
"Kalau sekatnya ada di meja bikin sempit, dan rasanya kayak mengunjungi tahanan. Tapi kalau sekatnya seperti ini, saya lebih luwes dan aman dari kontak dengan orang lain," ucap Vira yang diamini temannya, Naomi. (zul/tji)
Editor : Tudji Martudji