MERAHPUTIH|Surabaya – Di saat masa transisi masyarakat dituntut berdaptasi dengan berbagai aspek yang meliputi kebiasaan hidup, perilaku sosial hingga pola kerja untuk memasuki saat new normal yang sesungguhnya nanti.
Dan mereka yang pertama kali mendapat tantangan ini adalah perusahaan serta karyawan-karyawannya. Disampaikan Dosen Psikologi Industri Universitas Airlangga, Dimas Aryo Wicaksono, S. Psi., M. Sc. menyebut berbagai perubahan harus dilakukan oleh perusahaan dan karyawan untuk saling komitmen dalam hal perekonomian dan kesehatan.
"Tentunya masa new normal menjadi tantangan baru bagi perusahaan dan karyawan untuk saling peduli terutama dalam masalah kesehatan,” ujarnya.
Bagi perusahaan, menurutnya, dituntut mampu menyeimbangkan perekonomian perusahaan dengan kesehatan karyawan. Keseimbangan yang dimaksud itu yakni perusahaan dan karyawan dalam jangka panjang mampu bertahan ditengah krisis.
Sementara bagi karyawan juga dituntut lebih adaptif dengan perubahan seperti pengembangan skill teknologi dan disiplin kesehatan. Kesehatan karyawan, menurut Aryo, tidak hanya terfokus pada masalah fisik, namun juga kesehatan mental.
“SDM bagi perusahaan merupakan aset berharga yang harus dijaga dan menjadikan mereka dapat terjamin dengan sebuah komitmen antar keduanya,” katanya.
Sementara Pakar Ekonomi dan Bisnis dari Studi Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Dr. Gancar Candra Premananto menilai masa new normal merupakan masa untuk mengubah kesadaran, yakni perubahan dalam dunia kerja akan memunculkan penyesuaian baru seperti cuti. “Bahkan kita akan melihat penyesuaian baru itu seperti cuti akan muncul cuti karena flu,” jelasnya.
Site plan jangka panjang harus dilakukan oleh perusahaan agar dapat bertahan era masa new normal. Tentu, Perusahaan yang tidak dapat berubah dan berinovasi secara otomatis akan tergilas secara perlahan.
Gancar mengatakan, nilai siap untuk berevolusi harus diterapkan sejak dini pada perusahaan dan karyawannya. Salah satunya dengan pemetaan karyawan pada saat ini menjadi alternatif bagi perusahaan untuk tetap menjalankan roda perekonomian.
Dengan anjuran Work From Home (WFH) oleh pemerintah, menurut Gancar, menjadi tantangan baru bagi perusahaan untuk lebih resposif dan tanggal terhadap teknologi dan kebiasaan kerja. Penerapan WFH tentu telah mengubah jam kerja secara lebih fleksibel secara tempat maupun waktu.
“Bahkan diprediksi protokol kesehatan dan kemampuan teknologi menjadi tolak ukur baru era new normal secara jangka panjang di dunia kerja saat ini," jelas Koordinator Studi Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga tersebut. (ton/ayn)
Editor : Ayun Rahmawati