MERAHPUTIH|JAKARTA- Dalam upaya penurunan angka kekerdilan pada anak, Dinas Kesehatan Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) melakukan langkah strategis dengan pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri dan ibu hamil.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Baubau melalui Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Effendi, melalui pesan WhatsApp, di Kendari, Kamis, menuturkan persentase daerah setempat dalam penurunan angka kekerdilan 13,9 persen masih di bawah angka nasionial yang 14 persen, demikian seperti dilansir ANTARA.
Baca juga: Menkes Dorong Deteksi Dini TBC, Targetkan Penurunan Kematian Secara Signifikan
"Bagi ibu hamil yang mengalami kekurangan gizi kronis dengan lingkar lengan di bawah 23,5 cm akan diintervensi dengan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berupa biskuit," katanya.
Data 2020 menyebutkan dari 7.733 bayi dan balita diukur tinggi badannya terdapat 1.053 atau 13,9 persen di antaranya kategori balita pendek berdasarkan indeks tinggi badan dan umur.
"Sementara dari 7.000-an balita tersebut 3,8 atau 286 balita dikategorikan sebagai balita kurus dilihat dari indeks tinggi badan dan berat badan,” tutur Effendi.
Baca juga: Pemkot Surabaya Siaga Hadapi Lonjakan ISPA, Balita Jadi Fokus Utama
Ahli Gizi Dinas Kesehatan Kota Baubau Endang Yulianti mengatakan ibu yang memiliki kekurangan gizi kronis saat hamil dapat berpotensi melahirkan bayi dengan berat badan rendah sehingga memengaruhi kesehatan, perkembangan, dan intelegensi anak pada masa mendatang.
"Kalau asupan gizi ibu hamilnya tidak mencukupi tentu akan berdampak pada bayi yang ada dalam kandungan,” katanya.
Ia mengatakan ibu hamil minimal mengonsumsi 90 tablet tambah darah selama kehamilan.
Baca juga: Paramesti Tak Takut Jarum Suntik: Cerita Anak-anak SLB N Semarang Jalani Cek Kesehatan Gratis
Untuk itu, katanya, sejak remaja putri perlu memperhatikan kesehatan tubuh dan memiliki berat badan ideal.
Ia mengatakan perbaikan gizi bayi dengan berat badan rendah masih bisa dilakukan dengan pemberian makan bergizi dan seimbang selama periode bayi hingga balita.(red)
Editor : Eko Yudiono