PERSIB Tegaskan Komitmen Lawan Rasisme di Sepak Bola Nasional
MERAHPUTIH I BANDUNG — Klub sepak bola PERSIB Bandung menegaskan komitmennya dalam memerangi segala bentuk rasisme di dunia olahraga, khususnya di sepak bola nasional. Komitmen ini disampaikan secara tegas sebagai bagian dari upaya klub menjaga nilai-nilai sportivitas, inklusivitas, dan saling menghormati yang telah menjadi fondasi dalam perjalanan panjang tim berjuluk Maung Bandung ini.
Pernyataan ini disampaikan Deputy CEO PT PERSIB Bandung Bermartabat, Adhitia Putra Herawan, dalam sebuah pernyataan resmi klub. Ia menyoroti pentingnya membangun ruang sepak bola yang aman, setara, dan terbuka bagi siapa pun, tanpa memandang latar belakang suku, agama, ras, ataupun golongan.
“PERSIB menegaskan komitmennya untuk selalu menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas, inklusivitas, dan rasa saling menghormati di dalam maupun di luar lapangan. Sebagai salah satu klub profesional di Liga 1, kami secara konsisten mendukung segala upaya untuk memerangi rasisme dalam industri sepak bola nasional,” ujar Adhitia.
Sepak bola, menurut Adhitia, bukan hanya soal pertandingan 90 menit, tetapi juga mencerminkan wajah masyarakat. Ia menekankan bahwa sepak bola seharusnya menjadi jembatan yang menyatukan keberagaman, bukan justru memperlebar jarak sosial di tengah masyarakat.
“Kami percaya bahwa sepak bola adalah ruang yang menyatukan perbedaan, bukan sebaliknya,” ujarnya. “Oleh karena itu, PERSIB selalu menghormati dan menaati seluruh aturan serta regulasi yang berlaku, termasuk yang berkaitan dengan etika, fair play, dan semangat anti-diskriminasi dalam olahraga.”
Langkah konkret pun telah dilakukan. Klub yang berdiri sejak 1933 itu secara aktif mengedukasi para pemain, ofisial, hingga pendukungnya mengenai pentingnya menciptakan atmosfer pertandingan yang sehat dan bebas dari ujaran kebencian maupun tindakan diskriminatif. Pendidikan ini dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya saat ada insiden, tetapi menjadi bagian dari kultur internal klub.
Di tribun stadion, suara dukungan dari Bobotoh—julukan suporter setia PERSIB—menjadi denyut kehidupan pertandingan. Namun, klub juga menyadari bahwa suara itu harus bebas dari ujaran kebencian, provokasi bernada rasial, maupun simbol-simbol yang mengarah pada diskriminasi.
“Sepak bola Indonesia tidak akan maju jika kita masih membiarkan praktik rasisme dan diskriminasi tumbuh di dalamnya. Kami mengajak seluruh insan sepak bola, dari pemain, pelatih, pengurus, hingga suporter di seluruh penjuru Tanah Air, untuk bersama-sama menjaga nilai-nilai kemanusiaan dalam olahraga ini,” tutur Adhitia.
Seruan ini datang di tengah meningkatnya kesadaran global tentang pentingnya perlawanan terhadap rasisme, termasuk di bidang olahraga. Di berbagai belahan dunia, klub-klub besar telah mengambil sikap keras terhadap pelanggaran nilai-nilai inklusif, mulai dari larangan masuk stadion bagi pelaku rasis, hingga kampanye edukatif yang masif.
Langkah PERSIB menunjukkan bahwa semangat itu tidak hanya bergema di pentas internasional, tetapi juga hidup dalam denyut sepak bola nasional. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, suara penolakan terhadap rasisme dari klub sebesar PERSIB mengandung pesan kuat: bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan kelemahan.
Di tengah rivalitas yang kerap memanas, nilai-nilai kemanusiaan menjadi penyeimbang. Dan di atas lapangan hijau, bukan hanya gol dan kemenangan yang dirayakan, tetapi juga kesetaraan, penghargaan terhadap perbedaan, dan semangat kebersamaan.
“Sepak bola adalah milik semua. Hanya dengan saling menghormati, kita bisa membangun masa depan sepak bola Indonesia yang beradab,” tutup Adhitia.(red)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih