Tiga Bintang di Dada Jupe: Legenda yang Tak Pernah Lelah Pulang ke PERSIB

Bek PERSIB, Achmad Jufriyanto mengangkat trofi juara Liga 1 2024/25 di Gedung Sate, Kota Bandung, Minggu, 25 Mei 2025. (PERSIB.co.id/Barly Isham)
Bek PERSIB, Achmad Jufriyanto mengangkat trofi juara Liga 1 2024/25 di Gedung Sate, Kota Bandung, Minggu, 25 Mei 2025. (PERSIB.co.id/Barly Isham)

MERAHPUTIH I BANDUNG — Dalam jagat sepak bola nasional yang penuh dinamika, kisah setia seorang pemain terhadap klubnya kian langka. Namun, Achmad Jufriyanto atau akrab disapa Jupe, membuktikan bahwa loyalitas dan cinta pada lambang di dada tetap memiliki tempat. Bek tengah berusia 38 tahun itu menorehkan sejarah dengan mencatatkan tiga gelar juara Liga 1 bersama PERSIB Bandung — pencapaian yang nyaris sejajar dengan legenda hidup klub, Robby Darwis.

“Ada kebahagiaan dan rasa syukur yang sulit digambarkan. Mungkin saya termasuk orang yang beruntung,” ujar Jupe.

PERSIB meraih gelar juara Liga Super Indonesia 2014, lalu menyabet dua titel berturut-turut di Liga 1 musim 2023/2024 dan 2024/2025. Tiga mahkota kompetisi kasta tertinggi Indonesia itu menjadi catatan emas dalam karier Jupe, yang mulai berseragam Maung Bandung sejak satu dekade silam.

Namun, kisah Jupe bersama PERSIB bukan hanya soal trofi. Itu adalah cerita tentang perjalanan bolak-balik, jatuh cinta dan kembali pulang, tentang pintu yang tak pernah tertutup rapat.

Sejak bergabung pertama kali pada musim 2014, Jupe sempat menepi dari Bandung, hijrah ke Sriwijaya FC pada 2015, mencoba tantangan di Kuala Lumpur FC (2018), dan sempat berseragam Bhayangkara FC pada musim 2020. Namun, setiap kali pergi, Bandung tetap menjadi pelabuhan terakhir.

“Sepertinya tidak banyak yang bisa mengalami ini. Saya pernah keluar, lalu kembali lagi... dan diterima seperti tak pernah pergi,” ucapnya, tersenyum. “Ini bukan hanya karena saya bermain baik, tapi karena hubungan baik yang dijaga. Saya bersyukur dan berterima kasih.”

Ia menyebut seluruh elemen klub dari manajemen, tim pelatih, hingga suporter setia Bobotoh sebagai bagian dari ‘keluarga besar’ yang selalu membuatnya merasa pulang ke rumah.

Selama kariernya di PERSIB, Jupe telah tampil dalam 132 pertandingan kompetisi resmi. Meski dalam dua musim terakhir perannya lebih banyak berada di luar lapangan, membantu staf pelatih, ia masih sempat turun di lima laga penting.

Baginya, memberi contoh dan memotivasi para pemain muda tak kalah penting dari merebut bola di lapangan.

“Saya coba untuk terus bersaing. Saya tidak ingin menyerah hanya karena usia. Kalau saya bisa tetap kerja keras, saya harap pemain muda termotivasi. Ini bukan cuma tentang fisik, tapi juga tentang semangat,” ujar pemilik nomor punggung 16 itu.

Tiga gelar Jupe menjadikannya salah satu pemain tersukses dalam sejarah PERSIB di era modern. Ia kini berdiri tak jauh dari catatan sang legenda Robby Darwis, yang mengangkat empat trofi era Perserikatan dan Liga Indonesia pada masa kejayaan klub biru-putih.

Namun, Jupe tak terlalu memikirkan soal perbandingan. Baginya, bisa menorehkan jejak meski hanya sebagian dari legenda klub sudah merupakan kehormatan tersendiri.

“Saya tidak pernah membayangkan bisa menyamai Pak Robby. Tapi jika pencapaian ini membuat saya dikenang sebagai bagian dari sejarah PERSIB, itu sudah cukup membahagiakan.”

Dengan usia yang mendekati empat dekade, banyak yang bertanya-tanya soal rencana pensiun. Namun, Jupe tampak belum sepenuhnya ingin melepas sepatu.

“Saya masih menikmati ini. Entah sebagai pemain, pelatih, atau bagian dari tim, saya ingin terus bersama PERSIB. Karena bagi saya, klub ini bukan hanya tempat bermain ini bagian dari hidup saya.”

Tiga bintang telah tersemat di dada Jupe bukan sekadar lambang kejayaan, melainkan simbol perjalanan panjang, luka, harapan, dan cinta yang tak pernah padam.

Di tengah ingar-bingar industri sepak bola, Jupe telah menunjukkan bahwa kesetiaan dan ketekunan masih punya panggungnya sendiri. Dan selama Stadion GBLA masih menggema dengan chant Bobotoh, nama Achmad Jufriyanto akan tetap dikenang. Bukan karena ia tak pernah pergi, tetapi karena ia selalu memilih untuk kembali. (red)

 

Editor : Redaksi