Mario Jozic Mulai Tugas di PERSIB, Bawa Semangat Baru dari Eropa Timur
MERAHPUTIH I BANDUNG — Sinar mentari belum sepenuhnya meninggi ketika derap langkah para penjaga gawang PERSIB mulai menggetarkan rumput Lapangan Pendamping Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Senin (30/6/2025) pagi. Di antara mereka, tampak satu sosok baru yang menyita perhatian: Mario Jozic, pelatih kiper anyar asal Kroasia.
Datang dari negara yang melahirkan banyak kiper tangguh di kancah Eropa, Jozic mengawali petualangan barunya di tanah Pasundan dengan antusiasme tinggi. Meski baru tiba di Indonesia tak sampai 24 jam sebelumnya, ia langsung turun ke lapangan memimpin latihan. Tanpa jeda aklimatisasi, pelatih berusia 43 tahun itu memilih menjejakkan kaki di lapangan sebelum menginjak kamar hotel lebih lama.
”Kesan pertama saya sangat positif. Saya merasa puas dengan sesi latihan perdana ini. Terutama karena saya mendapat banyak bantuan dari rekan pelatih, Made Wirawan,” ujar Jozic seusai latihan pagi, dalam nada penuh semangat.
Matahari pagi yang menyengat tak mengendurkan semangatnya. Dengan bahasa Inggris yang fasih, Jozic berulang kali memberi instruksi teknis kepada para penjaga gawang Maung Bandung. Gerakannya tegas, suaranya mantap. Ia tampak ingin segera menerapkan standar Eropa Timur dalam pelatihan fisik dan teknik para pemain muda dan senior di pos terakhir pertahanan ini.
Jozic bukan nama asing di dunia sepak bola Eropa Timur. Sebelum berkarier sebagai pelatih, ia pernah berdiri di bawah mistar gawang klub besar Kroasia, Dinamo Zagreb. Rekam jejak itu memberinya modal untuk memahami tekanan sekaligus kebutuhan posisi kiper secara lebih mendalam. Baginya, ketenangan dan kerja keras adalah fondasi utama dalam membentuk kiper kelas atas.
”Talenta para kiper PERSIB luar biasa. Mereka memiliki potensi besar. Saya akan bekerja keras untuk mengasah kemampuan mereka lebih jauh,” ujarnya. “Dalam setiap sesi, fokus saya adalah pada bagaimana program latihan bisa dijalankan dengan disiplin dan keseriusan.”
Keputusan manajemen PERSIB merekrut Jozic dinilai sebagai langkah serius untuk memperkuat lini pertahanan menjelang musim kompetisi Liga 1 2025/2026. Kehadirannya diharapkan mampu meningkatkan kualitas para penjaga gawang muda dan memberi stimulus bagi persaingan internal yang sehat.
Meski baru mendarat dari Zagreb, Jozic terlihat tak canggung. Ia menyebut atmosfer di PERSIB sangat hangat dan profesional. Hal ini memudahkannya untuk beradaptasi, baik secara sosial maupun teknis.
“Cuaca di Bandung cukup berbeda dengan Eropa, tapi masih nyaman bagi saya. Suasananya juga menyenangkan. Saya merasa diterima dengan baik,” katanya.
Dalam beberapa pekan ke depan, Jozic dijadwalkan menyusun dan memimpin program intensif pembinaan kiper, termasuk simulasi situasi pertandingan serta evaluasi performa individual. Ia juga akan bekerja sama erat dengan staf pelatih kepala dan analis performa dalam menyusun strategi penguatan pertahanan.
Kehadiran pelatih asing di jajaran staf PERSIB bukan hal baru. Namun, kehadiran Mario Jozic membawa nuansa berbeda, mengingat spesialisasi dan latar belakangnya sebagai mantan pemain yang pernah mencicipi ketatnya liga Eropa. Di mata para pendukung Maung Bandung, langkah ini menjadi sinyal bahwa klub tengah membangun pondasi jangka panjang, termasuk dalam regenerasi di posisi penjaga gawang.
Bagi Jozic sendiri, melatih di Indonesia bukan hanya tantangan baru, tetapi juga kesempatan untuk belajar dari budaya sepak bola Asia Tenggara. Ia menyadari ekspektasi suporter PERSIB yang tinggi, dan menyambutnya dengan kesiapan mental serta komitmen kerja keras.
”Saya datang ke sini untuk membantu tim ini berkembang, bukan hanya para kiper, tetapi juga keseluruhan struktur pertahanan. Saya percaya, dengan kerja keras dan semangat tim, kita bisa mencapai target yang diinginkan,” ujarnya, menutup wawancara dengan senyum optimistis. (red)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih