Belajar dari Ladang: Cara Surabaya Membentuk Anak Hebat Sejak Dini
MERAHPUTIH I SURABAYA — Rabu pagi yang cerah di Mini Agrowisata milik Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya terasa berbeda. Keceriaan anak-anak dari berbagai taman kanak-kanak dan sekolah dasar memenuhi hamparan kebun dan peternakan kecil di kawasan itu. Mereka menyambut Hari Anak Nasional (HAN) 2025 bukan di dalam ruang kelas, melainkan di tengah ladang, kolam ikan, dan petak-petak sayuran.
Dengan tangan mungil yang masih belepotan tanah, mereka memanen cabai, melon, hingga brokoli, sembari bertanya polos kepada para pendamping tentang nama-nama tanaman dan hewan yang baru mereka lihat. Hari itu, proses belajar tidak datang dari buku atau papan tulis, melainkan dari pengalaman langsung: menyentuh tanah, mencium aroma segar tanaman, dan memberi makan ayam atau ikan.
"Ini pertama kalinya saya lihat padi dari dekat," kata Nanda, siswa kelas 2 SD yang dengan penuh semangat menunjukkan hasil panen kecilnya. Ia bukan satu-satunya yang tampak kagum.
Ketua Bunda PAUD Surabaya, Rini Indriyani, yang turut mendampingi para siswa, mengatakan bahwa pengalaman semacam ini dirancang untuk lebih dari sekadar bermain. "Kita ingin mengenalkan anak-anak pada pentingnya makanan bergizi dan asal-usulnya," ujarnya. "Ketika mereka tahu dari mana makanan berasal, mereka akan lebih menghargai makanan, orang tua, dan juga kerja keras petani."
Sebagai Ketua Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (Forikan) Surabaya, Rini juga menekankan peran gizi sejak usia dini. Usai berkeliling kebun, para siswa diajak makan bersama dengan menu sehat berbasis protein: ikan dan telur. Sambil duduk bersila di atas tikar, mereka menyantap makanan yang mereka ketahui asalnya sebuah pelajaran sederhana namun bermakna.
Namun edukasi anak di Surabaya tidak berhenti di ladang. Di SDN Kedung Baruk, ratusan siswa juga mengikuti senam pagi bersama. Di tengah gelak tawa dan lantunan lagu Indonesia Raya, Rini memperkenalkan “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” yang kini diterapkan di seluruh TK dan SD se-Surabaya. “Kami ingin membentuk karakter sejak dini. Tidak bisa instan, tapi harus dibiasakan,” tegasnya.
Kepala DKPP Surabaya, Antiek Sugiharti, menyebut Mini Agrowisata kini menjadi pusat pembelajaran pangan sehat. “Anak-anak harus tahu bahwa makanan itu bukan datang dari warung atau supermarket, tapi dari proses yang panjang,” kata dia.
Menurutnya, pemahaman ini penting untuk menumbuhkan generasi yang peduli pangan lokal, sehat, dan berkelanjutan. Maka tak heran jika setiap hari Mini Agrowisata tak pernah sepi dari kunjungan sekolah—dari TK hingga mahasiswa.
Di sisi lain, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan KB (DP3APPKB) Surabaya juga mengaitkan kegiatan ini dengan inisiatif kota ramah anak (Child Friendly Cities Initiative/CFCI). Kepala dinas, Ida Widayati, menyebut pendekatan ini sebagai wujud nyata pemenuhan hak anak.
"Pemerintah kota hadir untuk memastikan anak-anak mendapat pendidikan, kesehatan, dan pengasuhan yang layak," kata Ida. Ia juga menyinggung pentingnya pengawasan orang tua, termasuk melalui kebijakan jam malam anak. “Anak nakal itu tidak ada. Yang ada adalah pola asuh yang perlu kita perbaiki bersama.”
Kegiatan edukatif di Mini Agrowisata, yang tampak sederhana di permukaan, ternyata membawa visi besar: membentuk anak-anak Surabaya menjadi pribadi yang cerdas, sehat, dan peduli lingkungan sejak dini. Dan mungkin, dalam genggaman tangan kecil yang memanen padi pagi itu, tersimpan harapan besar tentang masa depan bangsa. (red)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih