Monumen Ayam Jago, Ikon Baru di Surabaya Barat yang Hidupkan Legenda Sawunggaling
MERAHPUTIH I SURABAYA – Wajah Surabaya Barat kini memiliki penanda baru yang sarat makna sejarah. Sebuah monumen berbentuk Ayam Jago menjulang setinggi tujuh meter berdiri megah di Jalan Raya Menganti, Kelurahan Lidah Wetan, Kecamatan Lakarsantri. Bagi masyarakat setempat, keberadaan monumen ini bukan sekadar hiasan kota, melainkan pengingat perjuangan tokoh legendaris Joko Berek alias Raden Sawunggaling, yang dipercaya sebagai salah satu cikal bakal berdirinya Kota Pahlawan.
Camat Lakarsantri, Yongky Kuspriyanto Wibowo, menegaskan bahwa monumen tersebut hadir atas permintaan masyarakat yang ingin sejarah daerah mereka terus hidup di tengah arus modernisasi. “Ini penanda perjalanan sejarah. Dari cerita turun-temurun para sesepuh, Sawunggaling bukan hanya legenda, tetapi juga simbol awal berdirinya Surabaya,” ungkapnya, Selasa (9/9/2025).
Yongky mengisahkan kembali bagaimana legenda Sawunggaling bermula. Joko Berek, yang hanya dibesarkan oleh ibunya, Dewi Sangkrah, suatu hari mencari tahu tentang ayah kandungnya. Sang ibu kemudian memberinya selendang kuning sebagai tanda pengenal untuk dibawa ke Kadipaten Surabaya, tempat Adipati Jayengrono memimpin.
Di sana, ia bertemu dua saudara tirinya, Sawungrana dan Sawungsari, yang meragukan pengakuannya sebagai anak Jayengrono. Joko Berek kemudian ditantang adu ayam dan memanah. Dengan ayam jago kesayangannya, ia berhasil menaklukkan lawan dan membuktikan jati dirinya. Pertemuan dengan sang ayah pun terjadi, setelah selendang kuning itu diserahkan.
Namun perjuangan Joko Berek tidak berhenti di situ. Adipati Jayengrono memberi syarat agar ia bisa diterima di Kadipaten: menaklukkan hutan lebat di Wonokromo. Kawasan inilah yang kemudian diyakini menjadi titik awal berkembangnya Kota Surabaya. “Kenapa ayam menjadi simbol? Karena ayam jago itulah yang selalu menemaninya, dan setiap kali diadu selalu menang,” jelas Yongky.
Keberadaan monumen ini disambut meriah oleh masyarakat setempat. Lokasinya pun strategis, tak jauh dari makam Raden Sawunggaling yang berada di gang kecil Kelurahan Lidah Wetan. Monumen ini menjadi semacam pintu gerbang simbolis menuju kawasan makam.
Menurut Yongky, warga sudah lama menyuarakan aspirasi pembangunan monumen. Bahkan, sejak tahun 2023, permintaan itu berulang kali disampaikan kepada Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi. “Harapan warga sederhana: monumen ini bisa jadi penanda sejarah sekaligus pendorong wisata di Lidah Wetan. Kini sudah terwujud, tinggal kita benahi infrastruktur pendukung seperti taman dan parkir,” ujarnya.
Ketua LPMK Lidah Wetan, M. Andi Bocor, menambahkan bahwa sesungguhnya monumen ayam jago pernah ada di masa lalu. Sayangnya, bangunan tersebut hilang pada era kolonial Belanda. “Itu sebabnya warga melakukan napak tilas berjalan kaki hingga Balai Kota, meminta agar monumen ini dibangun kembali. Ini bukan barang baru, tapi sesuatu yang dikembalikan,” kata Andi.
Monumen yang baru rampung ini dikerjakan selama tiga minggu dengan melibatkan seniman lokal Surabaya. Tingginya mencapai tujuh meter, jauh lebih besar dibanding monumen lama. Bagi warga, kehadiran ikon ini adalah jawaban dari penantian panjang.
Lebih dari sekadar karya seni, monumen Ayam Jago diyakini bisa menjadi daya tarik wisata baru. Letaknya berdekatan dengan makam Sawunggaling membuka peluang pengembangan wisata sejarah sekaligus religi. “Jika kelak dikemas dengan baik, bisa menjadi wisata edukasi bagi anak-anak tentang kearifan lokal, budaya, dan sejarah Surabaya,” ujar Andi.
Pemerintah kecamatan pun berencana memperkuat fasilitas penunjang. Dengan begitu, kawasan Lidah Wetan tak hanya dikenal sebagai daerah hunian, melainkan juga destinasi sejarah dan budaya yang hidup berdampingan dengan denyut modern Surabaya.
Dengan monumen Ayam Jago yang kini berdiri tegak, Surabaya Barat seolah kembali meneguhkan jejak masa lalunya: bahwa di balik gemerlap kota metropolitan, masih ada cerita rakyat dan simbol perjuangan yang abadi. (red)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih