Persebaya Pulang Tanpa Poin, Laga di Bandung Jadi Cermin Kerapuhan Green Force

Mihailo Perovic mendapat penjagaan ketat dari pemain Persib Bandung. (Persebaya)
Mihailo Perovic mendapat penjagaan ketat dari pemain Persib Bandung. (Persebaya)

MERAHPUTIH I BANDUNG – Kekalahan tipis 0-1 dari Persib Bandung di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Jumat (12/9), kembali menegaskan bahwa Persebaya masih berada dalam fase yang rapuh. Satu gol Uilliam Barros pada menit ke-53 sudah cukup untuk membuat Green Force tersungkur, sekaligus pulang tanpa sebiji poin pun.

Pertandingan ini seolah menjadi potret klasik Persebaya musim ini: rapuh di momen krusial, kehilangan konsentrasi, dan tumpul ketika peluang hadir. Padahal, dari sisi permainan, ada tanda-tanda kebangkitan terutama di babak kedua. Tekanan demi tekanan dilepaskan ke jantung pertahanan Maung Bandung, tetapi tak satupun berbuah gol.

Pelatih Eduardo Pérez menyadari paradoks ini. Dalam evaluasinya, ia membagi pertandingan ke dalam dua babak yang berbeda: dominasi Persib di paruh pertama, lalu kebangkitan Persebaya di paruh kedua.

“Untuk saya, permainan ini memiliki dua bagian yang berbeda. Babak pertama untuk Persib, dan babak kedua untuk Persebaya,” ungkapnya.

Namun, analisis itu tidak menghapus fakta: Persebaya kalah. Edu Pérez memang memberi apresiasi kepada semangat juang pemainnya, tapi publik Surabaya jelas butuh lebih dari sekadar pujian. Kekalahan demi kekalahan hanya akan memperburuk posisi tim di klasemen, dan waktu untuk bereksperimen sudah semakin sempit.

Penjaga gawang Ernando Ari bahkan bicara lebih lugas. Ia menyoroti masalah klasik: inefisiensi.

“Banyak waktu terbuang, kita terlalu lama membuang-buang waktu. Itu harus diperbaiki,” katanya. Pernyataan Ernando ini menyiratkan bahwa Persebaya belum memiliki kedisiplinan bermain yang konsisten selama 90 menit penuh.

Kritiknya tepat. Sebab di sepakbola level kompetitif, membuang momentum sama saja dengan menyerahkan kemenangan kepada lawan. Persib hanya butuh satu kelengahan untuk mencetak gol. Persebaya, sebaliknya, punya sederet peluang namun tak satu pun dimaksimalkan.

Kini, perhatian beralih ke laga berikutnya melawan Semen Padang, Jumat (19/9). Waktu sepekan jelas tidak panjang, tapi cukup untuk melakukan evaluasi. Pertanyaannya: apakah evaluasi itu hanya berhenti di ruang konferensi pers, atau benar-benar diterjemahkan di lapangan?

Green Force perlu menjawabnya dengan kemenangan. Sebab, bila pola rapuh ini berlanjut, Persebaya tidak hanya kehilangan poin, tetapi juga kehilangan kepercayaan diri, hal yang lebih berbahaya dari sekadar kekalahan.(red) 

 

 

 

Editor : Redaksi