Khofifah Tinjau Sekolah Rakyat Banyuwangi, Optimistis Putus Rantai Kemiskinan Lewat Pendidikan
MERAHPUTIH I BANYUWANGI – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meninjau progres pembangunan Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi Banyuwangi di Desa Blambangan, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Sabtu (18/7). Dalam kunjungan tersebut, Khofifah memastikan pembangunan sekolah berjalan sesuai target sekaligus melihat langsung kesiapan fasilitas pendidikan yang akan menjadi bagian dari program strategis pemerintah pusat untuk memperluas akses pendidikan bagi keluarga kurang mampu.
Berdasarkan laporan per 17 Juli 2026, progres pembangunan Sekolah Rakyat Permanen Banyuwangi telah mencapai 88,48 persen. Sekolah ini diproyeksikan menampung 237 siswa, terdiri atas 57 siswa SD, 90 siswa SMP, dan 90 siswa SMA. Selain itu, terdapat 24 siswa SD yang akan melanjutkan ke jenjang SMP eksisting.

Selama berada di lokasi, Khofifah meninjau ruang-ruang kelas, fasilitas asrama, hingga lapangan olahraga. Ia juga berdialog dengan para siswa untuk mendengar langsung pengalaman mereka mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat.
Menurut Khofifah, fasilitas yang tersedia di Sekolah Rakyat Permanen Banyuwangi tergolong sangat lengkap dan bahkan sulit ditemukan di banyak sekolah lain, terlebih seluruh layanan pendidikan diberikan tanpa dipungut biaya.
"Melihat ruang kelas, kemudian area olahraga, saya rasa sulit menemukan sekolah dengan kapasitas fasilitas olahraga seperti ini. Padahal ini Sekolah Rakyat dan seluruhnya gratis. Ini merupakan program yang sangat strategis dari Pemerintah Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka," ujarnya.
Khofifah mengatakan Jawa Timur menjadi provinsi dengan jumlah Sekolah Rakyat terbanyak di Indonesia, baik yang masih dalam tahap rintisan maupun yang sudah dibangun secara permanen.
Ia menjelaskan, untuk Sekolah Rakyat permanen, pemerintah kabupaten dan kota menyediakan lahan, sedangkan pembangunan sepenuhnya dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Jawa Timur paling banyak memiliki Sekolah Rakyat. Yang permanen juga paling banyak, yang rintisan juga paling banyak. Daerah menyiapkan lahannya, sementara pembiayaan pembangunan seluruhnya berasal dari APBN," katanya.

Lebih lanjut, Khofifah menerangkan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur berperan aktif dalam proses koordinasi, khususnya pada tahapan pendataan dan rekrutmen calon peserta didik melalui jaringan relawan sosial.
Relawan tersebut berasal dari berbagai unsur, mulai dari pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), hingga relawan sosial lainnya.
Masyarakat juga dapat mengusulkan calon siswa, selama masuk dalam kategori keluarga Desil 1 dan Desil 2 berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), sehingga memenuhi syarat untuk diterima di Sekolah Rakyat.
Khofifah menegaskan penerimaan siswa tidak hanya diperuntukkan bagi peserta didik kelas awal. Sekolah Rakyat juga membuka kesempatan bagi anak-anak yang telah berada di kelas 3, kelas 4, hingga kelas 6 SD.
Menurutnya, proses tersebut membutuhkan kerja yang tidak sederhana karena harus melalui tahapan verifikasi dan validasi secara cermat.
Ia mengakui masih banyak orang tua yang semula merasa khawatir melepas anak mereka tinggal di asrama karena lokasinya jauh dari rumah. Namun, konsep pendidikan berasrama justru dirancang untuk membangun karakter, kemandirian, dan kedisiplinan anak.
"Ini adalah proses membangun kemandirian anak-anak, membangun karakter, membangun disiplin, sekaligus menyiapkan pola pendidikan yang lebih komprehensif," tutur Khofifah.

Ia bahkan menceritakan pengalamannya saat melakukan verifikasi data bersama Wakil Bupati Banyuwangi di salah satu desa. Saat itu, ia bertemu seorang anak yang diasuh neneknya karena kedua orang tuanya bekerja di luar negeri dan berharap dapat melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat.
Menurut Khofifah, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap akses pendidikan berkualitas semakin tinggi.
"Upaya ini mudah-mudahan mampu memberikan harapan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak dari keluarga Desil 1 dan Desil 2," katanya.
Khofifah optimistis keberadaan Sekolah Rakyat akan menjadi salah satu instrumen efektif untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan.
"Kalau kita bisa memaksimalkan pendidikan, maka itulah cara paling efektif memutus mata rantai kemiskinan. Anak-anak dari keluarga kurang mampu harus mendapatkan fasilitas pendidikan terbaik," ujarnya.
Untuk tahun ajaran 2026, jumlah siswa Sekolah Rakyat di Jawa Timur, baik pada sekolah rintisan maupun permanen, ditargetkan mencapai 7.651 siswa. Khofifah menambahkan bahwa penerimaan siswa jenjang SD masih terus dibuka.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMA Sekolah Rakyat Banyuwangi, Chitra Arti Maharani, mengungkapkan minat masyarakat terhadap Sekolah Rakyat terus meningkat, terutama pada jenjang SMA.
Menurutnya, kuota penerimaan untuk SMP dan SMA sebenarnya telah melebihi kapasitas yang tersedia. Namun jumlah rombongan belajar (rombel) masih dibatasi masing-masing tiga kelas.
"Animonya sangat tinggi, khususnya SMA. Mudah-mudahan tahun depan kuotanya bisa ditambah sehingga lebih banyak siswa yang dapat diterima," ujarnya.
Ia menjelaskan, asal siswa cukup beragam. Untuk jenjang SD, peserta didik terbanyak berasal dari Kecamatan Kalipuro. Jenjang SMP didominasi siswa dari Kecamatan Glagah, sedangkan SMA paling banyak berasal dari Kecamatan Songgon dan Glenmore.
Menurut Chitra, lokasi Sekolah Rakyat di Kecamatan Muncar dinilai sangat strategis karena berada di tengah wilayah Banyuwangi sehingga mudah dijangkau dari berbagai kecamatan.
"Lokasinya strategis. Dari Glenmore, Songgon maupun kawasan kota relatif mudah menuju ke sini. Ini tentu berkat dukungan pemerintah daerah dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur," katanya.
Di sisi lain, salah seorang siswa kelas VII SMP Sekolah Rakyat, Debrian Naufal Rizqi Al Ghoni, mengaku sangat senang dapat bersekolah di Sekolah Rakyat.
Siswa asal Desa Sumbersewu, Kecamatan Muncar itu mengatakan awalnya sempat ragu untuk bergabung. Namun setelah mengetahui berbagai fasilitas yang disediakan, ia mantap memilih melanjutkan pendidikan di sekolah tersebut.
"Saya senang sekolah di sini karena pendidikannya gratis dan kualitas sekolahnya lebih terjamin," ujar Debrian.
Ia mengatakan seluruh siswa memperoleh berbagai fasilitas, mulai dari asrama, perlengkapan alat tulis, tas hingga seragam baru secara cuma-cuma.
"Awalnya ragu-ragu, tetapi setelah melihat videonya saya jadi senang sekolah di sini," katanya.(pps)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih