Warga Diberi Rp 300-500 Ribu, Uang Tutup Mulut?
MERAH PUTIH | Surabaya – Dugaan pembuangan limbah medis secara sembarangan oleh Rumah Sakit (RS) Wiyung Sejahtera, belum tuntas. Warga sekitar tak hanya mengeluhkan bau tak sedap. Mereka juga mengungkap adanya limbah yang membanjiri rumah warga dan mencemari sumur warga lainnya. Jika keluhan warga ini benar, sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) RS Wiyung Sejahtera patut dipertanyakan. Mengingat limbah medis termasuk limbah B3 (bahan berbahaya beracun).
Sejumlah warga kembali mengeluhkan limbah RS Wiyung Sejahtera yang berlokasi di jalan raya Kecamatan Wiyung, Kota Surabaya. Terlebih lagi Kamis (28/5) terjadi hujan lebat hingga enam jam. Warga sekitar kembali mencium bau tidak sedap yang berasal dari parit di belakang RS Wiyung Sejahtera.
"Iya mas, kalau hujan deras seperti Kamis kemarin itu tercium bau busuk yang berasal dari parit yang berada tepat di belakang rumah sakit," kata salah satu warga Karangan I Surabaya yang meminta agar namanya tidak dipublikasikan, kemarin.
Ibu rumah tangga itu juga sempat menegur tetangganya karena mengira bau busuk itu berasal dari septic tank-nya. "Malah saya sempat negur tetangga saya karena saya kira bau busuk itu dari pembuangan septic tank tetangga saya, eh ternyata setelah dicari asal bau tersebut berasal dari belakang rumah sakit," ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan warga RT 09 Karangan, Surabaya. Pria parubaya itu juga sering mencium bau busuk yang diduga berasal dari limbah medis RS Wiyung Sejahtera. "Ya mas, saya juga sering mencium bau kurang sedap. Tapi sekarang ini sudah agak berkurang, karena mungkin sudah ada yang mengambil limbah medis di rumah sakit Wiyung Sejahtera," katanya sembari berpesan agar namanya tidak dikorankan.
Dia mengungkapkan pernah sekali menemukan ada mobil tangki yang mengambil cairan limbah medis dari rumah sakit tersebut. "Pernah sekali saya melihat ada mobil tangki seperti mobil sedot wc yang menyedot cairan dari parit yang berada di belakang rumah sakit, ngambilnya pas malam hari," terangnya.
Pria yang juga selaku sekretaris RT itu juga mengatakan jika dulu pernah ada rumah warga yang kemasukan limbah medis dari RS Wiyung Sejahtera. Bahkan, ada juga warga yang sumurnya tidak bisa dipakai karena tercemar oleh limbah medis.
"Dulu sempat ada rumah tetangga yang kemasukan limbah cair, melalui tembok rumahnya, tapi dari pihak rumah sakit hanya melakukan perbaikan tembok rumah tanpa memberikan kompensasi. Bahkan ada juga warga yang sumurnya tidak bisa dipakai karena tercemar limbah medis dari rumah sakit," ungkapnya.
Ditanya terkait kompensasi yang diberikan kepada warga, dirinya mengaku baru mulai bulan April kemarin ada uang yang diberikan pihak RS Wiyung Sejahtera kepada warga terdampak. Rencananya kompensasi itu akan diberikan setiap tiga bulan sekali. Nominalnya pun beragam, ada yang mendapatkan Rp 500 ribu, ada yang mendapat Rp 300 ribu.
"Kalau kompensasi baru mulai bulan April kemarin, nominalnya antara Rp 300 - 500 ribu. Itupun setelah saya mengajukan ke pihak rumah sakit pada pertengahan bulan April kemarin," ujarnya.
Sementara itu, pihak Rumah Sakit Wiyung Sejahtera membantah tudingan warga itu. Turmidi, Kepala Bagian Instalasi Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit Wiyung Sejahtera saat dikonfirmasi mengatakan tidak benar RS Wiyung Sejahtera membuang limbah sembarang, apalagi ke Sungai atau selokan yang mengakibatkan merusak lingkungan. Sebab, setiap pembuangan limbah dari RS Wiyung sejahtera dilakukan secara SOP. "Kita tidak ada pembuangan ke parit atau sungai mas, itu tidak benar mas. Kalau benar, silahkan pihak-pihak terkait untuk mengambil sampel air bersama tim dari kami dan dilakukan cek laboratorium," kata Turmidi ditemui wartawan Harian Merah Putih.
Selama ini, limbah cair dan padat RS Wiyung tidak dibakar melalui insinerator atau dijual ke perusahaan penampung limbah. Namun limbah-limbah tersebut oleh RS Wiyung diserahkan kepada PT Putra Restu Ibu Abadi (PRIA) yang berada di Mojokerto. "Kami serahkan kepada PT PRIA, dan itu sudah berjalan kurang lebih 4 tahunan," sebut Turmidi. (jim/her)
Editor : Ali Mahfud
Harian Merah Putih