Ngaku Terkena Virus dari RS Wiyung Sejahtera, Warga Diopname

Mesin insinerator RS Wiyung Sejahtera yang lokasinya berhimpitan dengan rumah warga sekitar.
Mesin insinerator RS Wiyung Sejahtera yang lokasinya berhimpitan dengan rumah warga sekitar.

MERAH PUTIH | Surabaya- Keberadaan Rumah Sakit (RS) Wiyung Sejahtera, Surabaya, terus mendapat keluhan dari warga. Mulai dari bocornya limbah medis yang diduga mencemari sumur warga, hingga masuk merembes ke dalam rumah warga yang berada di samping Rumah Sakit.

Seperti dituturkan warga Karangan I Surabaya yang mengaku rumahnya pada sekitar 2019 silam kemasukan limbah cair hingga menjebol tembok rumahnya. "Jadi pada 2019 lalu rumah saya pernah kemasukan limbah cair dari Rumah Sakit Wiyung Sejahtera mas. Tembok itu sampai jebol bahkan lemari saya yang baru beli juga ikut pecah kacanya lantaran limbah tersebut," kata  warga Karangan I Surabaya inisial RA kepada Harian Merah Putih ditemui di rumahnya, Senin (1/6).

RA menjelaskan letak rumahnya memang berdempetan dengan bangunan Rumah Sakit Wiyung Sejahtera. Bahkan RA sengaja menutup lubang ventilasi rumahnya karena khawatir terdampak virus dari Rumah Sakit tersebut.

"Namanya rumah sakit ini kan banyak virus yang tidak kasat mata, untuk itu saya sengaja menutup lubang ventilator rumah saya untuk mengantisipasi masuknya virus dari rumah sakit," jelas RA.

Pria yang dulu berprofesi sebagai advokat itu juga mengaku pernah terkena virus pada paru-parunya, dan sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Darmo. Menurut dokter yang merawatnya, sakit yang dideritanya itu kemungkinan karena tempat tinggalnya yang berdekatan dengan Rumah Sakit.

"Pernah dulu saya sakit paru-paru dan dirawat di Rumah Sakit Darmo. Menurut dokter yang menangani penyakit saya, sakit saya ini disebabkan karena situasi tempat tinggal saya yang dekat dengan rumah sakit. Bahkan dokter tersebut menyarankan saya agar pindah rumah saja," ungkapnya.

Senada dengan RA, MM ibu rumah tangga yang juga tinggal di Karangan I Surabaya itu juga mengeluhkan pihak Rumah Sakit Sejahtera Wiyung yang dirasa tidak peka dengan dampak lingkungan akibat keberadaan rumah sakit yang berdempetan dengan rumah warga.

MM juga menyesalkan lokasi bangunan rumah sakit yang seakan tidak ada jarak dengan rumah warga. "Yang namanya rumah sakit itu jelas sangat berdampak pada lingkungan sekitar, mulai dari limbah medis, penyebaran virus, dan lain lainya. Apalagi Rumah Sakit Sejahtera ini sangat berdempetan dengan rumah kami, ini kan jelas berbahaya bagi kelangsungan hidup kami," kata MM.

MM mengatakan bagaimanapun cara rumah sakit membuang limbah medis, tetap akan menimbulkan dampak kesehatan bagi warga sekitar. Apalagi rumahnya juga pernah kemasukan limbah medis dari rumah sakit.

"Kita bicara secara rasional saja, bagaimanapun limbah itu dibuang mau dibuang kedalam tanah berapa meter pun tetap akan berdampak bagi kesehatan masyarakat sekitar. Apalagi setelah rumah saya kemasukan limbah dari rumah sakit pada 2019 lalu, suami saya langsung dirawat di rumah sakit lantaran terkena virus," jelas MM.

Sebenarnya MM ingin mengadukan permasalahan ini ke Dinas Lingkungan Hidup hingga Ombudsman Jatim. Dengan harapan para pihak terkait mau turun ke warga untuk menanyakan dampak yang ditimbulkan Rumah Sakit Sejahtera Wiyung bagi kesehatan warga.

"Saya pinginya buat laporan ke Ombudsman atau ke DLH agar pihak rumah sakit Sejahtera Wiyung tidak seenaknya saja mendirikan rumah sakit tanpa mempertimbangkan kesehatan dan kesejahteraan warga setempat," jelasnya.

Ditanya terkait kompensasi berbentuk CSR dari Rumah Sakit Wiyung Sejahtera, MM mengaku dirinya memang terdaftar sebagai penerima CSR dengan jumlah Rp. 500 ribu tiap empat bulan sekali. Namun, MM menyatakan uang itu tidak sebanding dengan risiko warga yang tempat tinggalnya berdempetan dengan rumah sakit.

"Saya memang terdaftar dalam CSR tersebut, dengan tolal Rp. 500 ribu per empat bulan, artinya perbulan kami mendapatkan Rp. 125 ribu. Nominal segitu apa cukup untuk biaya berobat kami apabila sampai terdampak virus dari rumah sakit," tegasnya.

Sebelumnya, pihak Rumah Sakit Wiyung Sejahtera membantah tudingan warga itu. Turmidi, Kepala Bagian Instalasi Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit Wiyung Sejahtera saat dikonfirmasi mengatakan tidak benar RS Wiyung Sejahtera membuang limbah sembarang, apalagi ke Sungai atau selokan yang mengakibatkan merusak lingkungan. Sebab, setiap pembuangan limbah dari RS Wiyung sejahtera dilakukan secara SOP.

"Kita tidak ada pembuangan ke parit atau sungai mas, itu tidak benar mas. Kalau benar, silahkan pihak-pihak terkait untuk mengambil sampel air bersama tim dari kami dan dilakukan cek laboratorium," kata Turmidi ditemui wartawan Harian Merah Putih.

Selama ini, limbah  cair dan padat RS Wiyung tidak dibakar melalui insinerator atau dijual ke perusahaan penampung limbah. Namun limbah-limbah tersebut oleh RS Wiyung diserahkan kepada PT Putra Restu Ibu Abadi (PRIA) yang berada di Mojokerto. "Kami serahkan kepada PT PRIA, dan itu sudah berjalan kurang lebih 4 tahunan," sebut Turmidi. (jim/her)

Editor : Ali Mahfud