Tertular Orang Tua, 50 Balita di Jatim Positip Covid-19
MERAHPUTIH|Surabaya - Penyebaran Covid 19 di Jawa Timur semakin meluas. Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jawa Timur menegaskan kembali bahwa peran orang tua sangat berarti termasuk sebagai orang yang menulari anak-anak.
Ketua Tim Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jawa Timur, Joni Wahyuhadi mengatakan, bahwa berdasarkan data yang dikumpulkan Gugus Tugas Jatim, ada sebanyak 130 anak positip Covid-19, untuk anak berusia antara 0-9 tahun. Sementara untuk balita sebanyak 50 balita positip yang terdiri dari 22 laki-laki dan 28 perempuan, dan satu anak meninggal usia 1,6 tahun akibat penyakit penyertanya, yakni Demam Berdarah. Kebanyakan balita ini terpapar Corona dari orang dewasa yang berkontak erat dengan anak-anak tersebut. Yang akhirnya mereka terinfeksi Covid-19.
Balita yang terpapar Covid 19, jelas Joni karena dengan penerapan PSBB ini maka anak-anak lebih banyak di rumah saja. Maka kemungkinan besar tertularnya para balita ini tidak lain karena terpapar dari orang dewasa yang berkontak erat dengan balita tersebut, antara lain orang tua mereka.
“Ada tiga hal yang berpengaruh erat dalam penularan virus. Pertama adalah host (manusia) nya, virusnya yang cepat menular, dan juga lingkungannya,” kata Joni.
Joni menambahkan selain balita, data anak-anak remaja yang terinfeksi Covid-19 dengan rentang usia 6-19 tahun sebanyak 6,82 persen. Yang tertinggi terinfeksi Covid-19 adalah orang dewasa dengan rentang usia 40-49 tahun yaitu sebanyak 23,7 persen. Dari kasus terbanyak tersebut mayoritas adalah laki-laki.
“Mengapa terbanyak laki-laki? memang belum ada hasil penelitian yang berpengaruh hormon sex pada penularan Covid-19. Namun ada kemungkinan hal itu terjadi karena interaksi dan mobilitas gender laki-laki lebih besar,” kata Joni.
Dalam keterangan persnya Joni menjelaskan, anak-anak yang positip Covid-19 tersebut akan dirawat di rumah sakit bersama dengan aya atau ibunya yang juga positip, sementara bila orang tuanya negatif, maka anak tersebut akan dirawat oleh perawat saja.
“Jadi virus Covid-19 ini sangat cepat penularannya. Siapapun akan tertular ketika terpapar, dari bersinnya. Maka kita harus berhati-hati dengan mereka yang sudah terpapar. Tetapi syukurlah kita masih dilindungi Allah, dengan menjaga jarak, sering mencuci tangan dengan sabun maka akan terhindar dari virus tersebut,” tegas Joni.
Sementara itu disampaikan oleh Koordinator Bidang Pencegahan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Surabaya Febria Rachmanita, menjelaskan untuk anak yang terpapar Covid-19 dan dirawat di rumah sakit, akan diarahkan ke ruang anak dan mendapat penanganan khusus dari dokter spesialis anak. Sebagian anak-anak tersebut tertular dari orang tuanya dan anggota keluarga lainnya.
Untuk anak-anak yang masih dirawat di rumah masing-masing, jelas Febria, peran orang tua sangat dibutuhkan untuk merawat mereka. Oleh sebab itu, pihak puskesmas juga terus memantau pasien berdasarkan konsultasi dengan dokter spesialis anak.
"Jadi tetap terus kami pantau. Kami pun juga berkonsultasi dengan dokter spesialis anak," kata Feny sapaan lekat Febria Rachmanita.
Lanjut dia, jika yang terpapar COVID-19 adalah sang orang tua, maka mau tidak mau memang harus menyentuh anak dengan catatan tetap mematuhi protokol kesehatan, misalnya saat sebelum memegang bayi, maka orang tua wajib menggunakan cairan pembersih tangan dan alat pelindung wajah.
"Sebelum dia pegang bayi atau anak harus pakai cairan pembersih tangan atau mencuci tangan dengan sabun," katanya.
Namun demikian, Feny juga berpesan kepada para orang tua agar dapat mempertahankan imun tubuhnya, terutama saat dirinya atau anaknya yang terkonfirmasi, terutama bagi para ibu yang mengasuh anaknya. "Pertahankan imun. Ibunya imunnya harus kuat," tandasnya. (sis/ayn)
Editor : Ayun Rahmawati
Harian Merah Putih