Sakit Paru Divonis Covid, Hingga Meninggal Hasil Swab Belum Keluar

RS Mitra Keluarga, Waru, Sidoarjo, Jawa Timur (Foto: HMP/Tim)
RS Mitra Keluarga, Waru, Sidoarjo, Jawa Timur (Foto: HMP/Tim)

MERAHPUTIH | SURABAYA - Di masa pandemi Covid-19 saat ini ada baiknya berpikir ulang jika ingin merawat anggota keluarga yang sedang sakit ke rumah sakit. Dalam banyak kasus ditemukan ada pasien yang mengalami sakit kemudian meninggal, divonis Covid-19. Seperti yang dialami oleh salah satu pasien di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Waru, Sidoarjo. Lantaran mengalami sakit paru-paru akhirnya Heri membawa mertuanya ke RS Mitra Keluarga di Waru.

Selama dirawat di rumah sakit tersebut kondisi mertuanya bukan membaik namun semakin memburuk hingga berlanjut ke ruang ICU di lantai 2. Kepada pihak keluarga dokter jaga sempat mengatakan jika pasien tersebut sakit Covid-19. Meski hasil tes swabnya belum keluar. Kamis dini hari (4/6) saat kondisi pasien kritis, harianmerahputih.id yang saat itu berada di rumah sakit berusaha menemui dokter jaga. Tujuannya, menanyakan kondisi pasien, namun hanya ditemui security.

"Saya sambungkan lewat telephone ke dokter jaga, silahkan ditunggu," kata petugas security.

Dokter Deny, dokter jaga malam itu menerangkan jika kondisi pasien sedang dirawat di ruang isolasi dan dia juga tidak bisa menemui tim dari media ini, sambil menyebut lantaran dirinya sedang di ruang isolasi.

"Untuk informasi medis terkait kondisi pasien, kami tidak bisa memberi keterangan selain hanya kepada pihak keluarga," terang dr Deny, Kamis (4/6)

Disinggung sakit yang diderita pasien adalah paru-paru, tetapi dokter memvonis Covid, dokter Deny berkelit.

"Saya tidak bisa memberi keterangan apapun," singkatnya, sambil berdiri di depan meja informasi, saat menemui harianmerahputih. 

Meski sudah dalam perawatan ICU, namun takdir berkata lain. Pasien yang datang dengan keluhan sakit paru-paru tersebut akhirnya meninggal.

Sementara itu, Direktur RS Mitra Keluarga Waru saat dikonfirmasi melalui humasnya, dokter Monita kepada media ini mengatakan, pihak rumah sakit tidak bisa menjelaskan hasil rekam medis pasien kepada orang lain selain anggota keluarga.

"Mohon pengertiannya ya Pak, karena ini terkait kerahasiaan pasien," terang dokter Monita yang menemui harianmerahputih setelah menunggu di luar pintu lobi sekitar lebih satu jam, baru dipersilahkan masuk, depan meja Informasi Rumah Sakit Mitra Keluarga.

Disinggung lebih jauh, tentang vonis Covid-19 terhadap almarhum yang hasil Swabnya hingga saat ini belum keluar, dokter Monita berkelit dengan mengatakan semuanya ada di dokumen yang sudah disampaikan ke pihak keluarga.

"Kami berkewajiban menyampaikan rekam medis hanya ke pihak keluarga," tegasnya.

Terkait pelayanan dari Rumah Sakit Mitra Keluarga terhadap pasien yang dirawat, dalam masa pandemi Covid ini memang banyak dikeluhkan warga. Salah satunya adalah Arief warga sepanjang. Kepada harianmerahputih, Arif menceritakan, ibunya sudah hampir satu minggu dirawat di RS Mitra Keluarga itu.

"Saat datang kesini, keluhannya sakit stroke ringan dan akhirnya dirawat inap, namun sekarang saya tidak boleh menjenguknya sama sekali karena ada diruang isolasi," ujar Arief.

Saat saya bawa kesini, lanjut Arief, hanya sakit stroke ringan dan bukan sakit Covid. "Sudah di tes Swab, namun hasilnya belum keluar. Kan belum pasti Covid. Kenapa kok malah dirawat di ruang isolasi, dan tidak boleh dijenguk," papar Arief.

Dia juga mengaku sudah membayar biaya rapid tes Rp 600 ribu dan swab sebesar Rp 2.5 juta. Senada dengan Arief, H Umar warga Sidoarjo menyampaikan kekesalannya jika dia mau menjenguk kerabatnya tidak diperbolehkan masuk oleh security RS Mitra Keluarga.

"Saya sudah pakai masker, dan sudah ditembak suhunya 36.4, kok masih tidak diperbolehkan menjenguk di atas," kesalnya.

Pantauan di lapangan memang RS Mitra Keluarga Waru sudah menerapkan protokol Covid, seperti harus pakai masker, cuci tangan bahkan di cek suhu juga. Sayangnya, masih ada security yang terlalu berlebihan.

"Mau kemana, mau ketemu siapa," cegat petugas security ke setiap pengunjung. Alhasil, banyak yang kembali mengurungkan niatnya karena merasa dipersulit.

"Walah sulitnya, saya ini dari luar kota, hanya sekedar menjenguk kerabat," kata seorang lelaki di pintu masuk penkjagaan. 

Sementara, ini penting diketahui oleh masyarakat, bahwa Pemerintah melalui Menteri Keuangan memastikan menanggung seluruh biaya perawatan pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19. Alokasi anggaran untuk perawatan pasien Corona disentralisasi melalui Kementerian Kesehatan.

Pembiayaan pasien positif Corona diambilkan dari Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2020 atau APBD. Itu juga untuk memberikan kepastian bagi rumah sakit yang menangani pasien Corona mendapatkan pembiayaan pembayaran. (tim/red)

 

(tim/red)

Editor : Tudji Martudji