Konsumen Kecewa, Mitra10 Surabaya Menjual Keramik Afkiran

Keramik Diamond ditemukan tidak presisi, diduga produk afkiran. Keramik tersebut dibeli di Mitra10 Wiyung
Keramik Diamond ditemukan tidak presisi, diduga produk afkiran. Keramik tersebut dibeli di Mitra10 Wiyung

MERAH PUTIH | Surabaya – Hati-hati membeli keramik di toko bangunan. Jika tidak teliti, bisa-bisa tertipu. Seperti dialami konsumen Mitra10 Wiyung yang merasa dirugikan karena keramik yang dibelinya berkualitas jelek. Diduga keramik yang dijual di ritel modern bahan bangunan dan perlengkapan rumah di Jalan Babatan, Wiyung, Surabaya itu  afkiran atau bahkan aspal (asli tapi palsu).

Sebut saja konsumen ini bernama Jojo (nama disamarkan). Warga Graha Family Surabaya ini merasa dirugikan karena membeli keramik yang memiliki kualitas jelek dengan harga relatif mahal. Ia membeli keramik merek Diamond yang diproduksi PT Keramik Diamond Industries, Gresik di Mitra10 Wiyung, kemarin.

Masalah muncul ketika membeli puluhan dus keramik merek Diamond ukuran 25x25 yang sedianya mau dibuat kolam itu, ketika dipasang ternyata tidak presisi. Pojok-pojok keramik juga ada yang pecah. "Jujur saya sangat kecewa dengan Mitra10, karena keramik merk Diamond yang saya beli di Mitra10 Wiyung ketika dipasang tidak presisi," kata Jojo kepada Harian Merah Putih, Minggu (14/6/2020).

Dijelaskannya, ketika dipasang oleh tukang, terdapat perbedaan ukuran keramik yang membuat tukang susah untuk mengerjakan kolamnya. Ada perbedaan ukuran sekitar dua milimeter di setiap keramik, padahal keramik tersebut berada dalam satu kardus. "Ini kan aneh, masak dalam satu kardus bisa berbeda-beda ukuranya, kan jadi susah untuk dipasang," ungkapnya.

Ia mempertanyakan apakah keramik yang dibelinya di Mitra10 itu termasuk barang tiruan atau barang afkir. "Masa di Mitra10 ada barang afkir yang dijual ke masyarakat, harusnya kan barang sebelum masuk untuk dijual harus dipastikan dulu kualitasnya," terang Joni.

“Harusnya yang ini afkiran bukan orsinil, tapi kok bisa masuk jual ke Mitra10 ya. Jangan-jangan pabriknya memberi (pasok ke Mitra10, red) dengan keramik kualitas jelek,” lanjut dia.

Lantara dirugikan, konsumen yang juga seorang pengusaha ini bakal mempermasalahkan PT Keramik Diamond Industries ke jalur hukum. Pasalnya, pabrik tersebut memasok keramik Diamond kualitas jelek ke Mitra10 dan merugikan dirinya sebagai konsumen. “Saya jelas dirugikan. Kalau pihak pabrik tidak mau bertangung jawab saya akan laporkan mereka dengan Undang-undang Perlindungan Konsumen,” tandasnya.

Sementara itu, dari pantauan di lokasi, sebanyak ratusan merek keramik di pajang di lantai 1 toko Mitra 10 Wiyung. Tak hanya kedamik, puluhan granit dengan merek berbeda juga di pajang di toko tersebut.

Saat tim Merah Putih mencoba membeli keramik, Olin salah satu pegawai yang menjaga keramik mengatakan semua produk keramik yang dijual Mitra 10 adalah KW 1 dan tidak ada KW 2 maupun KW 3. "Semua yang ada disini adalah KW 1 mas atau kelas 1," kata Olin.

Ditanya terkait adanya keramik yang tidak presisi dan pecah bagian pojoknya (cuil), menurut Olin jika pecah tersebut merupakan kesalahan dari pabriknya. Sebab, saat pengangkutan hal tersebut bisa terjadi saat pengangkatan menggunakan forklip. "Kalau cuil itu biasanya dari pabrik pak, makanya sebelum di bawa pulang, kita sarankan untuk dicek terlebih dahulu setelah membayar di kasir. Jika ditemukan ada yang pecah, maka kita ganti pak. Tapi kalau sudah dibawa pulang, kita tak bisa ganti, " cetus Olin.

Jika tidak presisi, lanjut Olin, penyebabnya bisa produksi dari pabrik atau juga dari tukang bangunan yang memasang keramik. "Biasanya tukangnya pak, karena granit saja kadang gak presisi ketika tukangnya ndak bisa masang. Atau juga bisa dari pabrik pak," terangnya.

Untuk memastikan itu, Harian Merah Putih ingin menanyakan langsung kepada Management Mitra 10 cara menyeleksi barang dari distributor atau pabrik yang akan dijual Mitra10. Namun saat mendatangi customer service, pihak management tidak mau menemui wartawan dengan alasan karena tidak ada surat pengantar dari perusahaan. Padahal, wartawan Merah Putih sudah menunjukan ID Card Press. "Maaf Pak, pihak HRD mengatakan harus ada surat tugas atau surat Jalan Pak, kalau ID Card saha tidak boleh Pak," kata customer service tersebut. (jim/her/red)

Editor : Ali Mahfud