Jika PDIP Rekom WS-Eri di Pilwali 2020, Pengamat: Kawin Paksa Namanya
MERAH PUTIH | Surabaya - DPP PDI Perjuangan (PDIP) hingga kini belum merekom siapa sosok Calon Walikota dan Calon Wakil Walikota di Pilkada Surabaya 2020. Namun beredar kabar, nama Whisnu Sakti Buana yang bakal mendapat rekom Cawali. Putra tokoh PDIP Ir Sutjipto ini disebut-sebut akan diduetkan Eri Cahyadi yang saat ini menjabat Kepala Bappeko Surabaya. Lantas apa kata pengamat politik?
Menurut pengamat politik dari Lembaga Transformasi (Eltram) Mochamad Mubarok Muharam, jika PDI Perjuangan benar-benar merekomendasi Whisnu Sakti Buana berpasangan dengan Eri Cahyadi pada Pilwali nanti maka terkesan hanya demi kepentingan sesaat.
"Seandainya dipaksakan maka hanya untuk kepentingan sesaat agar kedua kubu terakomodasi dalam Pilkada," ujarnya pada siaran tertulis yang diterima, Selasa (7/7).
Menurut dia, siapapun yang disodorkan Tri Rismaharini tidak akan mewarisi kekuatan dirinya dalam mengendalikan Pemerintahan Kota Surabaya, sebab Whisnu Sakti yang memegang tongkat.
Aktivis '98 lulusan FISIP Universitas Airlangga itu juga menilai pasangan WS-Eri juga dikesankan "kawin paksa" karena partai tidak ingin kehilangan momen di 9 Desember 2020. "Itu sebenarnya keterpaksaan, karena kedua kubu tidak ingin kehilangan," ucapnya.
Sebelumnya, nama Whisnu Sakti Buana disebut sebagai calon penerima rekomendasi dari DPP PDI Perjuangan untuk maju pada bursa Pilkada Surabaya 2020.
Sedangkan, nama Eri Cahyadi juga diperkirakan maju, terlebih beberapa waktu terakhir semakin banyak banner atau spanduk yang memunculkan gambarnya sebagai alat sosialisasi pencalonan.
Mubarok yang juga Kepala Jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Darul Ulmum (Undar) Jombang memperkirakan, "kawin paksa" antara Whisnu dan Eri ini akan sangat berat.
"Mereka ini dalam keadaan konflik atau tidak, tetap tak muncul di permukaan. Tapi kan semua pihak tahu kalau ada 'perang dingin'. Kondisi itu tidak bisa dipersatukan dalam waktu sekejap," tuturnya.
Ia memperkirakan, sebenarnya kans Eri maupun Whisnu adalah sama-sama berpeluang menjadi calon wali kota, namun mepetnya waktu pendaftaran akan membuat partai keselitan mencari irisan lainnya. (an)
Editor : Ali Mahfud
Harian Merah Putih