Benarkah Ledakan Beirut Setara dengan Bom Atum Hirosima dan Nagasaki?

SERUPA TAPI SAMA: Ledakan dahysat di Beirut, Lebanon pada 4 Agustus 2020 dan ledakan bom atum di Hiroshima, Jepang pada 6 Agustus 1945.
SERUPA TAPI SAMA: Ledakan dahysat di Beirut, Lebanon pada 4 Agustus 2020 dan ledakan bom atum di Hiroshima, Jepang pada 6 Agustus 1945.

MERAH PUTIH|Beirut- Bom Atum Hirosima dan Nagasaki di Jepang yang terjadi pada Agustus 1945 menjadi salah peristiwa mengerikan dalam sejarah perang dunia. 75 tahun kemudian, ledakan mengerikan terjadi di Beirut, Lebanon yang hingga Kamis (6/8/2020) telah menewaskan sedikitnya 135 orang dan lebih dari 5.000 lainnya luka-luka. Lebih dahsyat mana dua ledakan itu?

Ledakan yang meluluhlantakan Pelabuhan Beirut di ibu Kota Lebanon, membuat beberapa orang membandingkannya dengan dampak bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki 75 tahun lalu. Apalagi dampak dan waktunya hampir bertepatan. Ledakan di Beirut terjadi 4 Agustus 2020. Sedang bom Hiroshima dan Nagasaki terjadi 6 dan 9 Agustus 1945.

Kesimpulan awal pejabat Lebanon menyebutkan amonium nitrat seberat 2.750 ton sebagai pemicu ledakan di Pelabuhan Beirut. Apakah ini bisa dikategorikan setara dengan bom plutonium jenis implosi (Fat Man) yang meledak di dua kota di Jepang itu? Yang pasti, dampak ledakan di Jepang itu menewaskan 90.000–146.000 orang di Hiroshima dan 39.000–80.000 di Nagasaki dalam kurun dua sampai empat bulan pertama setelah pengeboman terjadi.

Pakar efek kesehatan dari radiasi ion yang juga menjabat sebagai Sekretaris Ilmiah Komite Eropa tentang Risiko Radiasi Christopher Busby meyakini bahwa kesamaan antara ledakan di Beirut dan yang dihasilkan kedua bom atom bersejarah itu bisa dijelaskan.

Dia menjelaskan bahwa amonium nitrat, bahan pupuk yang telah tersimpan di pelabuhan itu selama enam tahun, memiliki energi reaksi kimia yang mirip dengan TNT. Itu berarti ledakan 2.700 ton amonium nitrat kira-kira sama dengan kekuatan 2,7 kiloton TNT.

Perkiraan itu menempatkan ledakan di Beirut di tempat ketiga di antara ledakan terkuat yang telah mengguncang sebuah kota dalam sejarah, dengan Hiroshima dan Nagasaki berada di tempat pertama dan kedua.

"Bom Hiroshima diperkirakan antara 10 dan 12 kiloton setara TNT. Jadi, Anda dapat melihat bahwa ledakan ini sekitar 1/4 ukuran bom Hiroshima. Sekarang (para peneliti mengatakan) bahwa bom atom Jepang seberat 20 kiloton. Tapi itu revisi. Pokoknya, itu tetap menjadikan Beirut nomor tiga dalam ukuran ledakan," sebut Busby sebagaimana dilansir Sputnik, Kamis (6/8/2020).

Pakar nuklir itu kemudian menjelaskan bahwa munculnya awan jamur dapat dijelaskan dengan fakta bahwa gelombang kejut yang sangat besar dari ledakan menciptakan cincin kompresi dalam uap air seperti perangkat nuklir yang kuat jika diledakkan cukup dekat ke pantai.

Busby menunjukkan bahwa ledakan amonium nitrat yang serupa telah terjadi di masa lalu, meskipun tidak sekuat yang terjadi di Beirut. "Ada satu di Texas yang menghancurkan pelabuhan dan satu di Jerman pada 1920-an di gudang penyimpanan. Tapi yang ini pasti bisa menjadi yang terbesar setelah Hiroshima dan Nagasaki," papar Busby.

Sebelumnya, Gubernur Beirut menggambarkan bahwa ledakan pada Selasa (4/8/2020) seperti bom atom yang menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki pada Perang Dunia II. "Selama saya hidup, saya belum pernah melihat kehancuran dengan energi sebesar ini," katanya.

Dengan energi ledakan beberapa ratus ton TNT, ledakan di Lebanon puluhan kali lebih kuat dari bom atom yang menghancurkan Hiroshima, yang diperkirakan menghasilkan sekitar 15 kiloton. Daya ledaknya sebanding dengan hasil terendah bom gravitasi nuklir B61 yang diyakini memiliki daya ledak sekitar 300 ton.

Beberapa ahli memperkirakan energi ledakan di Beirut, Lebanon, setara 1-2 kiloton. Energi sebesar ini lebih kuat daripada beberapa nuklir taktis AS yang lebih kecil. "Perbandingannya seperti itu," cetus Hans Kristensen, ahli senjata nuklir dari Federasi Ilmuwan Amerika kepada Insider. (jta/ant/net)

Editor : Ali Mahfud