Eri Cahyadi Didukung Kiai-Santri, Pengamat: NU Miliki Akar Kuat

Kumpulan para santri yang tergabung dalam RGeR mendeklarasikan dukungannya pada Eri Cahyadi pada Pilwali Surabaya 2020.
Kumpulan para santri yang tergabung dalam RGeR mendeklarasikan dukungannya pada Eri Cahyadi pada Pilwali Surabaya 2020.

MERAH PUTIH|Surabaya– Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya Eri Cahyadi terus menjadi buah bibir. Menjelang turunnya rekomendasi dari PDIP pada Pemilihan Walikota (Pilwali) Surabaya 2020, dukungan Eri dari kalangan nahdhiyyin terus mengalir. Mulai dari kiai-kiai pondok pesantren se-Surabaya, ratusan majelis taklim dan Bu Nyai se-Surabaya, hingga para santri.

Terbaru, Eri Cahyadi mendapat dukungan dari para santri yang tergabung dalam RGeR (Relawan GuseRi) yang mendeklarasikan di Graha Rungkut Lor, Kota Surabaya, Kamis (27/8/2020). Mereka mengajak seluruh santri dari berbagai perkumpulan jami’iyah mendukung sepenuhnya Eri Cahyadi sebagai calon walikota (Cawali) pada Pilwali Surabaya yang digelar Desember 2020.

Dukungan itu sebagai bentuk rasa hormat kepada para kiai-kiai sepuh Surabaya yang sebelumnya telah mendeklarasikan dukungannya kepada Eri Cahyadi. “Sebagai Santri dari para Kyai wajib hormat dan patuh mengikuti langkah yang dilakukan oleh para Kyai, Dan Pak Eri Cahyadi adalah sosok yang tepat untuk melanjutkan estafet kepemimpinan Tri Rismaharini,” ujar Ali Mahfud, relawan RGeR.

Menurutnya, pembangunan di Kota Surabaya saat ini telah diakui banyak pihak menunjukkan kinerja yang membanggakan. Program-program prorakyat hingga perwujudan pemerintahan yang bersih berbasis teknologi informasi telah membawa Kota Surabaya berkelas dunia dan mampu menyejahterakan warganya.

Selain itu, lanjut dia, banyak pula program prorakyat yang dikawal Eri, mulai pemerataan pembangunan infrastruktur untuk warga, pembukaan lapangan kerja, hingga program-program sosial untuk warga kurang mampu. Oleh karena itu, pihaknya bersama RGeR sepenuhnya akan berjuang bersama mendukung Eri Cahyadi untuk menjadi Wali Kota Surabaya.

Sementara itu, Direktur Surabaya Survey Center (SSC) Mochtar W. Oetomo menilai skema nasionalis-religius masih sangat berpeluang untuk memenangkan Pilwali Surabaya. "Karena, bagaimanapun, di Jawa Timur ini skema nasionalis-religius masih memiliki peluang ceruk pemilih yang cukup besar. Sudah terbukti sejak era Pakde Karwo-Gus Ipul dan Khofifah-Emil," ujar Mochtar.

Terkait peluang ceruk pemilih, Ia mengungkapkan besarnya potensi yang ada bagi paslon nasionalis-religius. "Untuk Surabaya ini sampai 70 persen dari total pemilih," ungkapnya.

Lebih lanjut, dosen Universitas Trunojoyo Madura (UTM) ini menandaskan NU di Kota Surabaya masih memiliki akar yang kuat. Meskipun, status Kota Pahlawan yang merupakan Kota Metropolitan. "Akarnya, secara kultural, ini masih sangat kuat. Secara faktual di kampung-kampung ini sangat kuat. Meskipun, kepemimpinan PDIP atau nasionalis di Surabaya juga tidak bisa dipungkiri. Maka dari itu, peluang dari pasangan nasionalis-religius atau NU ini sangat besar," tandas Mochtar.

Untuk diketahui, Eri Cahyadi disebut-sebut sebagai penerus Walikota Tri Rismaharini. Eri merupakan putra asli Surabaya. Ia lahir di Kota Pahlawan itu pada 27 Mei 1977. Ia menyelesaikan studi di Fakultas Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada 1999.

Eri mulai menjadi pegawai negeri sipil pada 2001 dan ditempatkan di Dinas Bangunan Kota Surabaya. Kariernya terus moncer hingga mampu menjabat sebagai Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman, Cipta Karya dan Tata Ruang.

Pada 2018 ia mengemban tugas sebagai Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota Surabaya. Ia juga sempat menjabat sebagai pelaksana tugas Kepala Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH).

Karier Eri disebut mirip Risma sebelum kader PDIP itu menjadi Wali Kota Surabaya dua periode. Seperti diketahui, Tri Rismaharini pernah menjabat sebagai Kepala Bagian Bina Pembangunan (2002), Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya (2005), dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya (2008). (rga)

Editor : Ali Mahfud