Proyek Jembatan Joyoboyo Rp 39 M Digarap Kontraktor Milik Koruptor
MERAH PUTIH|Surabaya – Pantas saja anggota DPRD Kota Surabaya was-was dengan proyek Jembatan Joyoboyo yang dikerjakan PT. Rudy Jaya. Tak hanya karena akan menghabiskan dana APBD Rp 39 miliar. Tapi kontraktor pelaksana itu ternyata milik Ibnu Ghofur, terpidana kasus suap Rp 1,8 miliar terhadap Bupati Sidoarjo Saiful Ilah.
Seperti diketahui, Direktur PT Rudy Jaya, Ibnu Gopur dan Totok Sumedi ditangkap KPK dalam operasi tangkap tangan (OTT) pada 7 Januari 2020. Kontraktor yang kantornya berada di Desa Janti, Kecamatan Tarik, Kabupaten Sidoarjo ini memberikan suap kepada Bupati Sidoarjo Saiful Ilah dan sejumlah pejabat di Dinas PU Bina Marga dan Sumber Daya Air Sidoarjo, senilai Rp 1,8 miliar.
Suap itu untuk memuluskan proyek infrastruktur yang dikerjakan Ibnu Gopur dan Totok Sumedi. Diantaranya, Pasar Porong dengan kontrak Rp 17,4 miliar, proyek Wisma Atlet Sidoarjo Rp 13,4 miliar, proyek jalan Candi-Prasung Rp 21,4 miliar dan proyek peningkatan Afr Kali Pucang Pagerwojo Rp 5,5 miliar.
Ibnu Ghofur dan Totok Sumedi sudah divonis 1 tahun 8 bulan oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor Surabaya. Bahkan, kontraktor ini sudah dieksekusi ke Lapas Klas I Surabaya di Porong. Sedang Saiful Ilah Cs masih dalam proses sidang.
Tanpa disadar publik Surabaya, ternyata PT Rudi Jaya milik terpidana kasus korupsi itu mengerjakan proyek besar di Dinas PU Bina Marga dan Pematusan Kota Surabaya. Yakni, Jembatan Joyoboyo yang merupakan proyek prestisius Walikota Tri Rismaharini. Berdasar informasi di LPSE, proyek ini didanai APBD Kota Surabaya sebesar Rp 39 miliar. Tepatnya, Rp 39.863.911.894,36. Jembatan Joyoboyo ini pun menjadi proyek prestisius Walikota Tri Rismaharini, selain Jembatan Suroboyo di Kenjeran dan Alun-Alun Surabaya di kompleks Balai Pemuda Jl Yos Sudarso.
Menanggapi hal itu, Sekretaris Komisi C Agoeng Prasodjo memilih positive thinking. Ia menyatakan pihaknya sudah melakukan sidak beberapa waktu lalu, karena target penyelesaian proyek Jembatan Joyoboyo pada Desember 2020 nanti. Ini berarti tinggal 4 bulan lagi, proyek itu harus selesai. “Waktu kita sidak, konsultan dan kontraktornya optimis selesai. Kita positive thinking saja" kata Agoeng kepada Harian Merah Putih, Kamis (27/8/2020).
Namun, Agoeng menekankan bahwa jika sampai pekerjaan Jembatan Joyoboyo tidak dapat diselesaikan tepat waktu, maka pihaknya meminta agar Dinas PU Binamarga memblacklist kontraktor dan konsultan proyek yang menghabiskan anggaran Rp 39 miliar itu. "Waktu sidak, kita tanya gak perlu adendum ya, mereka jawab tidak. Ya sdh kita tunggu saja. Tapi kalau gak selesai tepat waktu, kita minta PU memblacklist konsultan dan kontraktornya. Karena jembatan ini ditunggu kehadirannya oleh masyarakat Surabaya," tandas Politisi Partai Golkar itu.
Sebelumnya, Ketua Komisi C DPRD Surabaya Baktiono mengingatkan pengerjaan proyek Jembatan Suroboyo tinggal empat bulan lagi. Jika sampai pada 7 Desember 2020 fisik jembatan tidak tuntas, maka tidak ada perpanjangan kontrak. "Tidak boleh ada adendum atau perpanjangan kontrak lagi. Pemkot jangan mau diakali pelaksana proyek," tandas Baktiono.
Jembatan Joyoboyo memiliki panjang 170 meter dengan lebar 17 meter dan tinggi pilonnya 20 meter. Sedangkan struktur jembatannya dari beton bertulang dan voided slab. Untuk jembatan yang melintang sungai panjangnya 75 meter. Jadi, total panjang 170 meter mulai Terminal Intermoda Joyoboyo (TIJ) hingga Jalan Pulo Wonokromo.
Sementara itu, Ganjar Siswo Pramono Kabid Jalan dan Jembatan Dinas PU Bina Marga dan Pematusan Kota Surabaya mengatakan bahwa proyek Jembatan Joyoboyo itu pekerjaanya sudah sesuai schedule, dan menyatakan bahwa proyek itu akan selesai pada Desember nanti. "Pekerjaan (Jembatan Joyoboyo) sudah on schedule progresnya. Kontrak kita memang sampai dengan Desember," kata Ganjar melalui pesan whatsapp-nya, Kamis (27/8/2020).
Ganjar mengakui bahwa pekerjaan proyek Jembatan Joyoboyo itu dulu sempat terkendala terkait pembebasan lahan. "Ada sedikit halangan kemarin karena pembebasan lahan yang baru selesai bulan Mei 2020," terang Ganjar.
Selain pembebasan lahan, Ganjar juga mengatakan bahwa pandemi Covid-19 juga menjadi kendala pekerjaan Jembatan Joyoboyo. Selain itu, juga ada halangan terkait adanya kabel tegangan tinggi milik PLN. "Penerapan PSBB juga menjadi kendala, dan juga adanya halangan kabel tegangan tinggi di sisi utara sehingga perlu waktu untuk re-disain posisi abutmen jembatan," ungkap Ganjar.
Ganjar menambahkan untuk mempercepat proses pekerjaan Jembatan Joyoboyo juga dilakukan penambahan tenaga kerja dan juga penambahan waktu pekerjaan. "Saat ini kita lakukan percepatan dengan menambah tenaga dan waktu pekerjaan," imbuhnya.
Senada dengan Ganjar, Taufan Wibowo selaku pelaksana pekerjaan Jembatan Joyoboyo juga menyatakan bahwa pihaknya optimis pembangunan Jembatan yang digadang-gadang sebagai proyek prestisius Walikota Surabaya Tri Rismaharini itu akan selesai tepat waktu. "Kita optimis pasti selesai mas," kata Taufan ditemui di lokasi pekerjaan Jembatan Joyoboyo, Kamis (27/8/2020).
Ditanya terkait progres pekerjaan Jembatan Joyoboyo, Taufan menyatakan bahwa proyek tersebut saat ini sudah selesai 60 persen. Bahkan, Taufan meyakini jika akhir September nanti proyek ini akan terselesaikan sekitar 70 persen. "Ini sekarang sudah 60 persen mas, dan akhir September nanti saya yakin sudah mencapai 70 persen untuk pekerjaan Jembatan Joyoboyo," terang Taufan.
Taufan juga menyatakan bahwa pihaknya juga tidak ingin proyek ini tidak dapat selesai tepat waktu. Karena kalau tidak selesai sesuai jadwal, maka tentunya pihak kontraktor pelaksana akan mengalami kerugian. "Kita pastinya juga rugi mas kalau pekerjaan tidak selesai pada waktunya, jadi kita optimis proyek ini akan selesai pada waktu yang sudah ditentukan," jelasnya. (her)
Editor : Ali Mahfud
Harian Merah Putih