Enam September Ibadah Serempak Seluruh Jemaat GPM
MERAHPUTIH| AMBON- Sejarah gereja ini selalu menceritakan bahwa kita membawa suara Injil yang membebaskan dan memanusiakan, karena 6 September 1935 menjadi tonggak iman untuk memproklamasikan kebebasan dalam bentuk keterlepasan dari dominasi pemerintah Hindia Belanda.
Suatu spirit keagamaan yang menunjukkan bahwa orang percaya hanya bergantung kepada Tuhan dan hidup dari berkat Tuhan. Hal ini dikatakan oleh Ketua MPH Sinode Gereja Protestan Maluku(GPM) Pdt Elifas T Maspaitella kepada harianmerahputih.id, Sabtu, (4/9/2021).
Dia menambahkan, spirit itu yang membuat GPM percaya dan mengaku "Yesus Kristus adalah Tuhan dan Kepala Gereja, Tuhan atas sejarah bangsa-bangsa dan alam semesta dan Juru selamat Dunia", imbuhnya.
“Jarahlah sebabnya dalam tiap babakan sejarahnya, GPM selalu bermisi di tengah masyarakat, bangsa dan di tengah dunia, karena itu pula di alam semesta pemberian Tuhan ini,” lanjutnya.
“Kami sadar bahwa dalam masalah yang berat sekalipun, baik internal, seperti pada 1960 di mana lahirnya Pesan Tobat GPM, atau dalam hiruk pikuk di tengah bangsa, pada 1950 atau 1999, GPM tetap pada pendiriannya menjadi gereja yang menghadirkan pembebasan dan perdamaian. Lagi-lagi itu karena Tuhan bekerja secara nyata dalam hidup semua umat,” terang Elthom.
Elthom melanjutkan, bertubi-tubi dihantam bencana alam hingga Pandemi Covid-19, GPM tetap menjadi gereja dengan berusaha hadir lebih dahulu dan selalu hadir untuk mencerahkan pemahaman umat, menumbuhkan harapan, memulihkan kondisi hidup individu dan sosial, dan memastikan bahwa Tuhan ada dan tetap bekerja di dalam dan melalui gereja-NYA.
“Semua itu terjadi dan kita lakukan karena kita yakin, Tuhan selalu menunjukkan kebajikan dan kemurahan hatiNya kepada kita, karena Ia tetap menemukan kita sebagai gerejaNya dan memakai kita untuk menuntun semua dombaNYA. Hal itu selaras dengan Tema HUT 86 GPM, "Bersyukur atas kebajikan dan kemurahan Tuhan, Gembala yang baik" (Mazmur 23:1-6),” paparnya.
Pada spirit iman itulah, Elthom mengajak semua jemaat untuk memahami puncak perayaan syukur HUT GPM sejak tahun ini dan seterusnya akan berlangsung dan berpusat di dalam Kebaktian Jemaat. “Karena itu setiap 6 September, di seluruh Jemaat GPM, pada jam 09.00 sebagai jam kebaktian Jemaat GPM, akan ada kebaktian khusus HUT GPM,” tutur Pdt yang karib disapa Elthom ini.
Untuk tahun ini, Majelis Pekerja Harian (MPH) sudah menyurati semua Pemerintah Daerah di Maluku dan Maluku Utara agar warga GPM yang ASN dapat beribadah pada jam 09.00 di gereja pada jemaatnya.
“Semacam mendapat libur fakutatif. Semoga dengan begitu, suasana syukur secara bersama-sama menjadi suatu tanda pertumbuhan iman kita dan melaluinya kita membentuk masyarakat dan bangsa yang religius serta memiliki ketangguhan dalam menghadapi berbagai persoalan hidup, bangsa dan alam semesta,” tutupnya. (boy)
Editor : Eko Yudiono
Harian Merah Putih