Ini Perkembangan Pembangunan Indonesia Islamic Science Park
MERAHPUTIH I BANGKALAN - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) NU ke-99 di Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur, dengan tema 'Merawat Jagat Membangun Peradaban' Kamis (17/2/2022)
Pada kesempatan tersebut Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan perkembangan pembangunan Indonesia Islamic Science Park (IISP).
Khofifah mengatakan, Peraturan Presiden (Perpres) tentang pembangunan Indonesia Islamic Science Park (IISP) yang akan dibangun di Suramadu Kaki Bangkalan Madura telah keluar.
"Saat ini, kami tengah menunggu penyerahan lahan dari PUPR," kata Khofifah.
Orang nomor satu di Jatim itu menambahkan, pembangunan IISP diyakini mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat khususnya yang tinggal di pulau Madura. Pihaknya berharap, ke depan pertemuan Organisasi Konferensi Islam (OKI) bisa digelar di Madura, di IISP.
"Ketika diadakannya Konferensi Islam dan jika ada tamu datang dari Timur Tengah ke Madura di fasilitasi dengan hotel yang terbaik dengan layanan bintang tujuh," ujarnya.
Lebih jauh Khofifah berharap, adanya pembangunan IISP menjadi tempat pembelajaran keilmuan Islam. IISP ini akan didukung ketersediaan infrastruktur terpadu sebagai pusat edukasi, budaya dan wisata.
"Kedepannya akan menjadi pusat keuangan syariah dunia dan mensejahterakan masyarakat muslim di Madura," jelasnya.
Sementara Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menyampaikan, alasan dipilihnya Bangkalan, Madura sebagai tempat puncak Harlah NU adalah dalam rangka menyuplai energi spiritual di tubuh NU.
Energi itu penting sebagai kekuatan NU untuk membangun peradaban sesuai dengan tema besar harlah, yaitu Menyongsong 100 Tahun Nahdlatul Ulama: Merawat Jagat, Membangun Peradaban.
Menurut Gus Yahya, Bangkalan, Madura adalah tempat Syekhona Kholil Bangkalan, sosok yang ikut menentukan lahirnya NU, karena menjadi rujukan spiritual Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari sebelum mendirikan NU.
"NU membutuhkan energi spiritual yang kokoh karena NU bukan hanya akan berurusan dengan dinamika fisik, tapi juga dinamika sosial dan mental dari seluruh pergulatan umat manusia di seluruh dunia," ungkap Gus Yahya. (red)
Editor : prass prasetyo
Harian Merah Putih