MERAHPUTIH I MALANG - Tragedi di Stadion Kanjurahan Malang, membuat pentingnya literasi standar pertandingan sesuai aturan FIFA.
Tragedi Kanjuruhan, Sabtu 1 Oktober meninggalkan luka mendalam bagi bangsa Indonesia. Tragedi sepakbola yang menewaskan lebih 127 suporter tersebut, menjadi yang terbesar di Indonesia dari jumlah korban meninggal.
Baca juga: Sidang Restitusi Korban Kanjuruhan: Harapan yang Pupus di Pengadilan Negeri Surabaya
Meski penyelidikan penyebab kasus ini baru saja dilakukan, banyak pihak menduga kekurangpahaman dan kurangnya sosialisasi aturan pertandingan yang dikeluarkan FIFA menjadi penyebab tingginya angka korban tersebut.
Baca juga: Pemerintah Tunjuk Waskita Untuk Renovasi Stadion Kanjuruhan Dengan Nilai Kontrak Sebesar Rp332 M
Dari mulai jam pertandingan yang digelar malam hari, padahal sudah diminta pihak kepolisian untuk dilangsungkan sore hari, masalah kelebihan jumlah penonton karena Panpel mencetak tiket yang jauh lebih banyak, hingga masalah keamanan penonton yang tidak menggunakan acuan regilulasi FIFA.
Sayangnya PSSI dan LIB kelihatannya kurang melakukan sosialisasi permasalahan-permasalahan tersebut hingga ke tingkat perangkat pertandingan, suporter hingga pihak keamanan.
Baca juga: Gubernur Khofifah Siapkan Bantuan Usaha dan Akses Prioritas Masuk SMA/SMK Negeri
Pakar komunikasi Rahmat Edi Irawan melihat perlunya PSSI serta operator kompetisi LIB membuat standart penyelenggaraan pertandingan, yang mengacu pada aturan FIFA. "Peraturan-peraturan tersebut harus disosialisasikan dengan massif, agar setiap stake holder sepakbola Indonesia, termasuk pihak keamanan mengetahui harus melakukan atau menghindari apa saja. Tanpa aturan main yang ditegakkan, kasus ini berpotensi berulang kali. (red)
Editor : prass prasetyo