"Main" di Telkomsel Putri Chairul Tanjung Tuai Antipati

harianmerahputih.id
Putri Tanjung bersama ayahnya pengusaha Chairul Tanjung

MERAH PUTIH| JAKARTA- Ruang kerja Presiden, tepat di tengah Istana Negara, Jakarta. Saban hari Rabu jadi tempat tujuh staf khusus milenial bertemu dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Tujuh orang milenial ini berdiskusi serta memberikan masukan Presiden, terkadang publik tak merasakan masukan staf khusus ini. Justru kini jadi sorotan. Padahal belum genap setahun mereka menjabat, sejak dilantik pada 21 November 2019

Baca juga: Peduli Pelajar, Telkomsel Sumbang 40 Ribu Kartu Perdana

Sorotannya yakni para stafsus diduga bermain proyek uang negara dengan pengaruh jabatannya. Satu persatu terungkap ke publik bak dikuliti.

Berawal CEO Ruangguru Belva Devara yang publik melihat tengah menjadi mitra proyek pelatihan Kartu Prakerja. Kemudian Founder dan CEO Amartha Syah Devara Andi Taufan Garuda Putra (33), yang lebih telanjang meminta proyek dengan menggunakan kop surat Sekretariat Negara (Setneg).

Lalu nama Billy Mambrasar, Stafsus Milenial Presiden Jokowi, disebut-sebut mendapatkan proyek penyaluran dana bergulir bagi usaha kecil menengah (UKM) di Papua.

Terbaru, Founder dan CEO Creativepreneur Putri Tanjung (23) disorot publik karena menggandeng BUMN untuk sebuah acara live Instagramnya pribadinya.
Ternyata Putri telah menggelar acara berkonsep talk show dengan mengundang konten kreator hingga tokoh publik tengah memasuki episode kelima.

Alih-alih mempromosikan, Telkomsel dengan percaya dirinya mengunggah flyer acara dari anak Chairul Tanjung tersebut. Bukan simpati yang diperoleh warganet, justru sebaliknya antipati yang didapat Telkomsel.

"Mana ini katanya pelayanan prima tapi sdh 2 hari tidak ada tanggapan," ujar Yuniari Catur Indra Ningrum seorang warganet dengan akun IG @cyuniari, sepertri ditulis dalam komen, Selasa (28/4/2020).

Dalam pengamatan Harian Merah Putih, mayoritas warganet mengeluhkan pelayanan yang dilakukan Telkomsel, ketimbang acara Putri Tanjung yang disponsori Telkomsel.

Sebagaimana diketahui, Jokowi melantik staf khusus milenial pada November 2019 lalu. Mereka mendapatkan gaji dari negara sebesar Rp 51 juta per bulan. "Tugas mereka adalah menyampaikan gagasan-gagasan segar dan inovatif kepada Presiden," ujar Juru Bicara Presiden, Fadjroel Rahman.

Konflik Kepentingan
Para stafsus milenial ini tak ubahnya dengan perbuatan kelompok lebih tua darinya, khususnya terkait penghasilan melalui proyek negara. Demikin disampaikan eks Komisioner KPK Laode M Syarif, kepada harian Merah Putih.

"Staf khusus presiden menunjukkan tidak ada bedanya antara pejabat dari kelompok milenial dan kelompok yang lebih tua dalam hal dugaan konflik kepentingan," ujar Syarief.

Padahal, sambung Syarief, anak-anak muda ini sebetulnya sosok-sosok yang mempunyai rekam jejak dan masa depan menjanjikan. "Bukan malah terjerumus dengan praktik kotor," tegas La Ode.

Senada dengan La Ode, Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno pun memandang para stafsus milenial banyak melakukan hal yang membuahkan sebuah polemik, bukan hal baik dalam kepemimpinan Presiden Jokowi.

Adi juga mengeaskan, pada pertengahan Maret 2020, stafsus milenial Angkie Yudistia pernah blunder dengan menyebar unggahan di akun Instagram miliknya tentang cara sederhana mendeteksi tertular virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan Covid-19.

Angkie menulis, menarik napas selama 10 detik setelah bangun pagi bisa dijadikan cara mendeteksi ada atau tidak virus mematikan di dalam tubuh kita. Setelah ramai komentar warganet karena metode itu tak pernah ada penelitiannya dan dianggap hoaks, maka Angkie minta maaf dan unggahan tersebut dihapus.

"Dengan pelbagai kasus ini, seyogianya Presiden angan pernah mengangkat orang yang belum teruji, yang tak bisa memilah mana wilayah pribadi dan kenegaraan," tutup Adi. (sjt)

Editor : Ali Mahfud

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru