MERAH PUTIH | SURABAYA – Memasuki hari ketujuh penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo dan Gresik belum menunjukkan hasil positif. Buktinya, angka kasus postif Covid-19 terus melonjak. Itu terutamanya di Kota Surabaya.
Hingga Minggu (3/5) malam, data sebaran Covid-19 di Jatim bertambah 80 kasus baru dalam 24 jam terakhir. Totalnya menjadi 1.117 kasus positif. Tambahan signifikan angka kasus Covid-19 di Jatim ini disumbang Kota Surabaya dengan meledaknya pasien positif di kluster PT HM Sampoerna Tbk.
Sejak kasus meninggalnya dua karyawan HM Sampoerna yang terkonfirmasi positif pada 14 April 2020 lalu, laju penularan virus Corona tak terbendung. Sampai Minggu kemarin, sudah ada 63 karyawan dinyatakan positif terpapar dan ratusan lainnya menjadi pasien dalam pengawasan (PDP).
Upaya cepat untuk memutus mata rantai penyebaran virus pun langsung dilakukan. Sayangnya, dalam situasi darurat ini, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini masih menyisakan gengsi politik dan benih persaingan klasik untuk pengaruh kekuasaan. Sentimen kedua penguasa ini terpercik lagi seiring mencuatnya kasus corona di PT HM Sampoerna.
Seyogyanya, kondisi ini bisa dijadikan momentum bersama untuk menangani penyebaran virus secara serius. Apalagi alarm sebaran Covid-19 di Indonesia sudah didengungkan pemerintah pusat. Selain Makasar dan Semarang, Surabaya dinyatakan sebagai kota yang memiliki potensi besar menjadi episentrum baru penyebaran Covid-19 di Indonesia. (*)
Editor : Simon Templar