MERAHPUTIH | YOGYAKARTA - Dua pasien positif COVID-19 yang menjalani perawatan di Rumah Sakit Lapangan Khusus COVID-19, Kabupaten Bantul dinyatakan sembuh.
Mereka merupakan ibu dan anak dan telah menjalani perawatan selama 16 hari secara simbolis dilepas untuk kembali ke rumahnya oleh jajaran Forkompimda Kabupaten Bantul di Rumah Sakit Lapangan Khusus COVID-19 Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Jumat (8/5).
Baca juga: RSL Ijen Boulevard Siap Melayani Pasien Covid-19
Salah satu pasien yang dinyatakan sembuh sebut saja Ny. In (38) mengatakan sejak masuk di RS Lapangan Khusus COVID-19 Kabupaten Bantul mendapatkan perhatian semua perawat, dokter termasuk Dokter Glory (Direktur RS Lapangan COVID-19) Kabupaten Bantul yang sangat terbuka dan luar biasa pelayanan di rumah sakit lapangan.
"Berkali-kali saya bilang kepada anak saya, saya belum pernah menemukan rumah sakit seperti ini karena sering bolak-balik rumah sakit. Dan, ketika saya masuk rumah sakit ini sudah menyiapkan semua peralatan namun sama sekali tidak terpakai," kata In saat memberikan kesaksian usai menjalani perawatan di RS Lapangan COVID-19, Kabupaten Bantul.
"Jadi di rumah sakit ini menyediakan semua kebutuhan dari atas sampai bawah. Bahkan menu makan yang disiapkan saya cocok dengan selera sehingga seperti home sweet home," tambahnya lagi.
Pelayanan yang sangat baik, semua kebutuhan dipenuhi hingga menu makan yang sesuai dengan lidah sangat membantu dirinya bersama anaknya untuk cepat sembuh. "Ini sangat membantu saya dan anak saya untuk segera sembuh," ujarnya.
Ibu rumah tangga asal Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul ini kemudian berbagi bagaimana menghadapi penyakit COVID-19. Bahkan sejak suaminya dirawat di rumah sakit di Kota Jogja dengan positif COVID-19.
"Sebenarnya saya tidak takut dengan COVID-19, karena beberapa hari belajar terkait COVID-19. Namun yang membuat saya down adalah stigma masyarakat negatif dan media dalam pemberitaan, yang saya sendiri tidak siap," ujarnya.
Baca juga: TNI AL Dirikan Rumah Oksigen di Surabaya
Anaknya, lanjut In juga mengalami hal sama. Bahkan, sampai menjerit-jerit ketika berita negatif di media sosial namun akhirnya diputuskan berdamai dengan diri sendiri dengan COVID-19 dan mengambil satu hari untuk tenang. Kemudian memberikan edukasi kepada keluarga bahwa harus berdamai dengan keadaan.
"Kalau saya hanya diam ini tidak akan selesai, akhirnya diputuskan untuk mengendalikan informasi yang masuk dan keluarga memberikan edukasi ke keluarga untuk solid dan mulai terbuka kepada masyarakat," ucapnya.
Ketika terbuka dengan masyarakat maka masyarakat yang tidak mendapatkan edukasi yang baik maka dengan masuk grup media sosial masyarakat, pemerintahan desa dan mengambil posisi terendah sebagai keluarga terdampak.
"Ketika saya meminta warga untuk menahan informasi-informasi di media sosial dan dengan keterbukaan keluarga saya maka masyarakat justru menghormati dengan keterbukaan, bahkan sampai hari ini masyarakat melakukan "jaga tetangga", hingga hari ini mereka menunggu kedatangan di rumah," ucapnya.
Baca juga: RS Lapangan Jatim di Surabaya Rawat 16 Pasien COVID-19
Sementara K (13) putranya, mengatakan saat ayahnya menjadi pasien positif COVID-19 banyak teman yang menanyakannya dan hal tersebut membuat dirinya sock kemudian imun menurun dan akhirnya tertular COVID-19.
"Jadi yang penting adalah menjaga imun," ujarnya seraya mengucapkan terima kasih atas pelayanan selama di rawat di RS Lapangan Khusus COVID-19. (hdw/tji)
Editor : Tudji Martudji