MERAHPUTIH|Jakarta- Memperingati hari Lupus Sedunia yang jatuh pada 10 Mei, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengajak masyarakat di Tanah Air, khususnya para orang tua, untuk mengenali penyakit lupus pada anak sejak dini. Ajakan ini bertujuan mencegah terjadinya penyakit atau komplikasi bahkan kematian.
"Lupus sering disebut sebagai penyakit dengan seribu wajah yang bisa menyerupai berbagai penyakit lainnya sehingga memerlukan pengenalan secara dini," kata Konsultan Alergi Imunologi Anak Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung sekaligus Anggota IDAI Dr Reni Ghrahani Dewi Majangsari saat diskusi daring "Mengenali Lupus Pada Anak" di Jakarta, Selasa lalu.
Baca juga: Menkes Dorong Deteksi Dini TBC, Targetkan Penurunan Kematian Secara Signifikan
Ia menjelaskan lupus merupakan penyakit yang mengenai sistem imun, di mana sistem imun tersebut seharusnya melindungi terhadap berbagai infeksi virus, bakteri, atau jamur dari luar, namun malah berbalik menyerang kepada sistem dan organ tubuh sendiri.
"Sementara sistem imun itu bekerja dengan begitu hebatnya melawan virus dari luar, ini malah menyerang kepada organ sendiri," lanjutnya.
Apalagi dengan terbentuknya autoantibodi, kata dia, penyakit itu dapat menyerang segala organ mulai dari kulit, persendian, otak, ginjal, jantung, paru-paru sehingga pada perjalanan penyakit yang progresif itu bisa menyebabkan kematian.
Ia menjelaskan anak-anak dengan penyakit lupus umumnya terlahir dengan suatu potensi genetik untuk menderita penyakit autoimun.
Baca juga: Pemkot Surabaya Siaga Hadapi Lonjakan ISPA, Balita Jadi Fokus Utama
Namun, tambahnya, tidak semua anak yang memiliki potensi genetik tersebut akan sakit. Umumnya itu memiliki pencetus dari luar atau lingkungan misalnya ultraviolet, infeksi virus tertentu atau beberapa obat-obatan tertentu.
"Jadi tidak hanya potensi, tapi juga memerlukan pencetus dari lingkungan," ujar dia.
Hal penting lainnya, ia mengingatkan bahwa lupus secara umum terjadi terutama pada masa reproduksi yakni mulai dari masa remaja hingga sepanjang masa reproduksi. Khusus untuk anak, katanya, paling sering terjadi pada usia 9 hingga 15 tahun.
Baca juga: Paramesti Tak Takut Jarum Suntik: Cerita Anak-anak SLB N Semarang Jalani Cek Kesehatan Gratis
Bahkan, dalam salah satu penelitian yang pernah ia lakukan di Bandung, data menunjukkan anak usia 11 hingga 13 terbanyak menderita lupus. (ant/ayn)
Editor : Ayun Rahmawati