MERAHPUTIH I SURABAYA - Wisata alam Air Terjun Tumpak Sewu yang terletak di Desa Sidomulyo, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, kini tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial. Sayangnya, bukan karena keindahan alamnya yang luar biasa, melainkan karena keluhan wisatawan terkait sistem penarikan tiket masuk yang dianggap tidak wajar.
Dalam sebuah video yang viral, seorang perempuan mengungkapkan kekecewaannya setelah diminta membayar tiket masuk hingga tiga kali. Ia menceritakan pengalaman tidak menyenangkan tersebut saat mengunjungi air terjun yang juga dikenal sebagai "Niagara versi Indonesia" itu.
Baca juga: Tarif Murah, Fasilitas Nyaman: Trans Jatim Gajayana Jadi Idola Baru Malang Raya
"Ini kami berdua ke Tumpak Sewu, tapi bayar sampai tiga kali. Pertama di atas bayar, di tengah bayar, terus di sini bayar lagi," ungkapnya dalam video yang kini ramai diperbincangkan.
Menurut pengakuan wisatawan, penarikan tiket terjadi di tiga titik berbeda. Titik pertama adalah di pintu masuk atas, saat wisatawan mulai memasuki kawasan wisata Tumpak Sewu. Titik kedua berada di tengah perjalanan, setelah tangga turun menuju air terjun. Dan yang terakhir, di aliran sungai sekitar 20 meter sebelum sampai ke lokasi utama air terjun.
Hal ini memicu kemarahan banyak orang di media sosial, yang menilai praktik tersebut tidak hanya membingungkan, tetapi juga merugikan wisatawan. Tidak sedikit yang mendesak pihak pengelola untuk segera memperbaiki sistem pengelolaan tiket agar pengalaman wisata menjadi lebih nyaman.
Menanggapi polemik ini, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Evy Afianasari, memberikan klarifikasi. Menurutnya, pihaknya telah mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan masalah tersebut.
"Saat ini, kami (Pemprov Jatim melalui dinas terkait) sedang melakukan penertiban izin usaha pemanfaatan aliran sungai di kawasan tersebut," ujar Evy, Kamis (19/12). Ia juga menjelaskan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah Kabupaten Lumajang dan Malang untuk menyelesaikan polemik ini.
Baca juga: Jatim Kirim Bantuan Rp5 Miliar untuk Sumatera, Khofifah: Ini Amanah dari Warga Kami
Evy berharap agar semua titik pintu masuk ke kawasan wisata Tumpak Sewu dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). "Dengan pengelolaan oleh desa, penarikan tiket masuk dapat dilakukan hanya sekali dan berada di pintu masuk atas," tambahnya.
Sebagai kawasan wisata yang memiliki beberapa daya tarik, termasuk jalur trekking, pemandangan lembah, dan air terjun yang megah, Tumpak Sewu memiliki potensi besar sebagai destinasi unggulan. Namun, praktik penarikan tiket di beberapa titik saat ini dianggap kontraproduktif.
Evy menjelaskan bahwa pengelolaan tunggal melalui BUMDes diharapkan tidak hanya meningkatkan transparansi, tetapi juga memberikan pengalaman yang lebih baik bagi wisatawan. Meskipun nantinya harga tiket mungkin akan lebih besar karena mencakup seluruh akses, setidaknya penarikan hanya terjadi di satu tempat.
Baca juga: Kendal Kian Berlari: Gelaran Fun Run Picu Ekonomi, Gairahkan Wisata, dan Tanamkan Budaya Sehat
Para wisatawan tentu berharap polemik ini segera teratasi. Mereka menginginkan transparansi dalam sistem pengelolaan tiket dan kejelasan mengenai besaran biaya yang harus dibayarkan. Keindahan alam Tumpak Sewu seharusnya menjadi daya tarik utama yang membuat pengunjung datang, bukan menjadi alasan kekecewaan.
Dengan langkah koordinasi yang sudah dilakukan Pemprov Jawa Timur bersama pemerintah daerah, harapan besar tertuju pada perbaikan sistem pengelolaan di kawasan Tumpak Sewu. Pengelolaan yang lebih baik tidak hanya akan meningkatkan kenyamanan wisatawan tetapi juga mendukung pembangunan ekonomi desa melalui sektor pariwisata.
Kita semua berharap, ke depan, Air Terjun Tumpak Sewu dapat kembali dikenal karena pesonanya yang memukau, bukan karena permasalahan sistem tiket yang menyertainya. (red)
Editor : prass prasetyo