MERAHPUTIH I SURABAYA - Jawa Timur semakin menunjukkan komitmennya dalam mendukung kebijakan unggulan Presiden Prabowo Subianto, yakni Program Makan Bergizi Gratis. Program ini selaras dengan visi Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, yang ingin menjadikan provinsi ini sebagai Lumbung Pangan dan pusat Hilirisasi Pertanian.
Sebagai motor penggerak dalam ekosistem pangan daerah, PT Jatim Grha Utama (JGU), BUMD milik Provinsi Jawa Timur, mengambil peran strategis dalam mendukung keberhasilan program ini. Salah satu inovasi unggulannya adalah produksi beras fortifikasi, yang dirancang untuk meningkatkan asupan gizi anak-anak sekolah.
Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya
Melalui kerja sama dengan Koperasi Produsen Multi Pihak (KMP), yang melibatkan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), PT JGU memastikan bahwa produksi beras fortifikasi tidak hanya mendukung pemenuhan gizi nasional tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi petani. Dengan demikian, sistem ini menciptakan rantai pasok pangan yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Menurut Direktur PT JGU, Mirza Muttaqien, SH, beras fortifikasi bukan sekadar solusi peningkatan gizi anak-anak, tetapi juga bagian dari strategi besar untuk memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani.
"Saat ini, KMP di Madiun dan Jombang telah mulai memproduksi beras premium dan bersiap memasuki tahap produksi beras fortifikasi. Ke depan, model ini akan diperluas ke berbagai sentra produksi lainnya di Jawa Timur, memperkuat peran daerah sebagai pusat industri pangan bernilai tambah," jelas Mirza usai pelepasan Mobil Lumbung Pangan Etalase Pengendali Inflasi Kab/Kota (EPIK) di Grahadi, Senin (17/3).
Baca juga: Imam Utomo Kembali Pimpin PMI Jawa Timur: Aklamasi yang Menegaskan Soliditas dan Kepercayaan Publik
Beras fortifikasi diproduksi melalui pencampuran Kernel Beras Fortifikan (Fortified Rice Kernel/FRK) ke dalam beras lokal. Proses ini mengikuti standar SNI 9314:2024 dan rekomendasi World Food Programme (WFP), serta telah memperoleh izin edar dari BPOM RI, memastikan kualitas dan keamanannya.
Kandungan Gizi Beras Fortifikasi:
- Zat Besi – Mencegah anemia dan meningkatkan konsentrasi belajar.
- Asam Folat – Mendukung perkembangan otak dan kesehatan saraf.
- Vitamin A – Menjaga kesehatan mata dan memperkuat sistem imun.
- Vitamin B1, B3, B6, B12 – Membantu metabolisme energi dan fungsi saraf.
- Zinc – Meningkatkan daya tahan tubuh agar anak tidak mudah sakit.
Tahapan Produksi dan Distribusi:
- Pengolahan: Pencampuran Kernel Beras Fortifikan (FRK) ke dalam beras lokal dengan teknologi modern agar nutrisi tersebar merata.
- Distribusi: PT JGU bekerja sama dengan BUMD Kabupaten/Kota dan Koperasi Desa untuk menyalurkan beras fortifikasi ke sekolah-sekolah di Jawa Timur.
- Pemasaran: Selain untuk Program Makan Bergizi Gratis, beras fortifikasi juga tersedia di pasaran sebagai opsi pangan sehat dengan harga terjangkau.
Sebagai provinsi dengan surplus produksi beras terbesar di Indonesia, Jawa Timur memiliki potensi besar untuk menjadi pusat produksi beras fortifikasi bagi kebutuhan nasional. Dengan strategi hilirisasi yang tepat, Jawa Timur dapat mengoptimalkan hasil panen petani sekaligus meningkatkan nilai tambah produk pertanian.
Baca juga: Jatim Ciptakan Lompatan Ekonomi, TransJatim Jadi Sorotan: Khofifah Raih Dua Penghargaan Sekaligus
Keuntungan ekonomi dari sistem ini meliputi:
- Efisiensi biaya distribusi, Produksi dekat sentra pertanian mengurangi ongkos logistik.
- Peningkatan kesejahteraan petani, Kepastian pasar dan harga stabil bagi petani.
- Dukungan terhadap industrialisasi pertanian, Petani dan koperasi berperan lebih aktif dalam rantai nilai pangan.
Dengan pendekatan yang inovatif ini, Jawa Timur siap menjadi model nasional dalam penerapan Program Makan Bergizi Gratis berbasis hilirisasi pertanian. Melalui sinergi pemerintah, BUMD, koperasi, dan petani, program ini tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek, tetapi juga membangun ketahanan pangan nasional, meningkatkan kesejahteraan petani, serta menciptakan generasi yang lebih sehat dan cerdas.
“Dengan sistem distribusi yang lebih efisien, kita tidak hanya menekan biaya logistik, tetapi juga memastikan petani semakin sejahtera dan anak-anak mendapatkan beras berkualitas,” pungkas Mirza Muttaqien. (red)
Editor : prass prasetyo