MERAHPUTIH I SURABAYA - Dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, hadir dan menyampaikan pesan mendalam dalam acara Halal Bihalal Keluarga Besar Yayasan Khadijah yang digelar di Aula Yayasan, Jalan Ahmad Yani, Kamis (9/4/2025).
Di hadapan para guru, pengurus yayasan, santri, dan tamu undangan lainnya, Khofifah menyampaikan rasa bangga sekaligus harapan besar atas kualitas pendidikan yang terus meningkat di lingkungan Yayasan Khadijah. Sebagai alumni SMP dan SMA Khadijah, Khofifah tak sekadar berbicara sebagai pemimpin daerah, namun juga sebagai bagian dari keluarga besar yang memahami betul denyut dan ruh lembaga ini.
Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya
“Sekolah ini bukan sekadar terafiliasi, tapi benar-benar milik Nahdlatul Ulama. SK kepengurusannya langsung dari PBNU sejak pertama kali berdiri pada tahun 1953,” ujar Khofifah dengan nada tegas namun penuh kebanggaan.
Lebih dari sekadar tempat menimba ilmu, menurut Khofifah, Yayasan Khadijah merupakan ladang subur untuk menumbuhkan karakter dan kesalehan sosial. Di sinilah pendidikan karakter dipadukan secara harmonis dengan pencapaian akademik dan nilai-nilai keislaman yang kuat.
“Transfer of attitude menjadi nilai penting di sini. Kita ingin mencetak generasi yang tak hanya cerdas, tapi juga berakhlak,” katanya.
Khofifah mengungkapkan bahwa saat ini Yayasan Khadijah telah mengelola lima unit lembaga pendidikan, mulai dari PAUD hingga SMA, serta enam unit panti asuhan. Bahkan, penguatan konsep pesantren terus dikembangkan.
“Pesantren putra sudah berjalan, pesantren putri sedang dalam proses. Kami juga sedang siapkan pengembangan konsep boarding school di Rungkut. Kita punya lahan 14,5 hektare, dan saat ini sudah berdiri PAUD, TK, dan SD. SMP-nya baru berjalan tahun ini,” jelasnya antusias.
Keberhasilan sistem pendidikan Khadijah juga tercermin dari hasil Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2025. Dari 81 siswa SMA Khadijah yang mendaftar, sebanyak 31 di antaranya lolos ke perguruan tinggi negeri tanpa harus mengikuti tes.
Dari 31 siswa tersebut, 12 orang diterima di Universitas Airlangga (Unair), 7 orang di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), 4 orang di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), 3 siswa diterima di Universitas Brawijaya Malang (UB), 2 orang diterima di Universitas Veteran Jawa Timur (UPN), 1 orang diterima di Universitas Gajahmada Yogyakarta (UGM), 1 orang diterima di PEN Surabaya dan 1 orang diterima di Polinema Malang.
Baca juga: Jatim Ciptakan Lompatan Ekonomi, TransJatim Jadi Sorotan: Khofifah Raih Dua Penghargaan Sekaligus
“Ini bukti nyata bahwa pendidikan di Khadijah terus melahirkan generasi unggul,” ujar Khofifah bangga.
Tak lupa, Khofifah juga mengingatkan para kepala sekolah dan guru untuk terus meningkatkan kualitas pengabdian, terutama di tengah kekosongan kepemimpinan yayasan pasca wafatnya Prof. Dr. Ridwan Nashir.
“Mandat dari NU ini bukan perkara ringan. Maka jangan pernah ada yang kendur. Satukan kembali niat kita dalam semangat Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari,” pesannya.
Sebagai bentuk semangat untuk melanjutkan perjuangan para ulama, Khofifah membagikan puluhan buku “Hadratussyekh KH. M. Hasyim Asy’ari: Pemersatu Umat Islam Indonesia” karya KH Abdul Hakim Mahfudz kepada para siswa SMP dan SMA Khadijah. Buku ini diharapkan bisa menjadi jendela untuk mengenal lebih dekat tokoh besar pendiri NU dan nilai-nilai perjuangannya.
Baca juga: HKTI Deklarasikan Jatim Lumbung Ternak, Inovasi Peternakan Jadi Fokus
Dalam kesempatan yang sama, Pembina Yayasan Khadijah, Masruroh Wachid, juga menyampaikan pentingnya tradisi Halal Bihalal sebagai budaya adi luhung bangsa Indonesia.
“Tradisi ini tidak ditemukan di negara-negara Muslim lainnya. Ini khas Indonesia, dan berpijak pada nilai-nilai Al-Qur’an, khususnya dalam Surat Ali Imran ayat 133-134,” tuturnya.
Masruroh meyakini, dengan saling memaafkan, seluruh keluarga besar Yayasan Khadijah dapat memperkuat ukhuwah dan melanjutkan perjuangan para pendiri dengan penuh semangat.
Acara Halal Bihalal ini pun tak hanya menjadi ajang silaturahmi, namun juga momen refleksi dan konsolidasi, untuk terus menata langkah menuju pendidikan Islam yang maju, inklusif, dan berkarakter. Khadijah bukan sekadar nama, tapi warisan perjuangan untuk umat dan masa depan Indonesia. (dpr)
Editor : prass prasetyo