Surabaya Kembangkan Model Sekolah Rakyat, Unesa Berikan Dukungan Penuh

harianmerahputih.id
Pemkot Surabaya mengembangkan empat jenjang pendidikan berbasis Sekolah Rakyat, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi

MERAHPUTIH I SURABAYA — Upaya Pemerintah Kota Surabaya dalam merealisasikan konsep Sekolah Rakyat mendapat apresiasi dari kalangan akademisi. Wakil Rektor I Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Dr. Martadi, M.Sn., menilai langkah Surabaya patut menjadi contoh nasional dalam membuka akses pendidikan bagi keluarga kurang mampu.

Sekolah Rakyat, yang merupakan gagasan Presiden RI Prabowo Subianto, bertujuan mencetak agen perubahan di setiap keluarga miskin melalui pendidikan berkualitas. Program ini mengusung visi memutus mata rantai kemiskinan antargenerasi.

Baca juga: Wisuda SOTH 2025 Surabaya: Eri Cahyadi Tekankan Peran Orang Tua sebagai Fondasi Kemajuan Kota

Pemkot Surabaya mengembangkan empat jenjang pendidikan berbasis Sekolah Rakyat, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Untuk tingkat SD dan SMP, program ini dilaksanakan di UPTD Kampung Anak Negeri di Jalan Wonorejo Timur. Jenjang SMA dikembangkan di kawasan Unesa Kampus II Lidah Wetan, sementara untuk perguruan tinggi hadir melalui "Omah Ilmu Arek Suroboyo" di wilayah Kalijudan.

"Gerak cepat Surabaya luar biasa. Mereka tidak hanya mengembangkan satu model, tapi membuat variasi yang menyesuaikan dengan kebutuhan kota besar," ujar Dr. Martadi, Senin (28/4/2025).

Menurut dia, pendekatan yang diterapkan Surabaya tidak terpaku pada pola terpusat semata. Di samping Sekolah Rakyat dengan sistem asrama dan pendidikan formal terdekat, Pemkot juga menerapkan model inklusif. Anak-anak dari keluarga miskin dapat tinggal di asrama, tetapi tetap bersekolah di sekolah umum di sekitarnya.

Ia menambahkan, harmonisasi kurikulum antara pendidikan akademik di sekolah dan pendidikan karakter di asrama menjadi faktor penting keberhasilan program ini.

"Tinggal bagaimana menyelaraskan kurikulum di sekolah dengan program pembinaan di asrama. Ini penting agar pendidikan karakter anak-anak kita berjalan paralel dengan akademik mereka," katanya.

Baca juga: Pemkot Surabaya Selamatkan Aset Rp55,2 Miliar, Eri Cahyadi Tegaskan Prioritas untuk Kesejahteraan Warga

Adapun kualifikasi calon peserta Sekolah Rakyat meliputi beberapa syarat utama, di antaranya berasal dari keluarga miskin atau miskin ekstrem, memiliki motivasi belajar yang tinggi, sehat jasmani dan rohani, serta mendapatkan dukungan penuh dari orang tua atau wali. Proses seleksi juga menjadi tahapan penting untuk memastikan kesiapan calon siswa.

Unesa sendiri telah menyatakan kesiapannya menjadi bagian dari program ini. Kampus II Unesa di Lidah Wetan disiapkan untuk menerima siswa Sekolah Rakyat tingkat SMA mulai tahun ajaran baru, Juni 2025 mendatang. Kesiapan tersebut telah melalui tahap peninjauan oleh berbagai pihak, termasuk Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

"Sebagai kota besar, Surabaya harus bisa menjadi contoh pelaksanaan Sekolah Rakyat. Kami di Unesa sangat siap mendukung dan menjalankan amanah ini," ujar Dr. Martadi.

Model ganda — antara Sekolah Rakyat terpusat dan model inklusif — dinilai sebagai solusi cerdas mengingat keterbatasan lahan di kota besar. Menurut Dr. Martadi, tidak semua anak harus ditampung dalam satu kompleks. Jalur afirmasi di sekolah umum tetap membuka ruang kesempatan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera.

Baca juga: Jagat Maya Bergejolak, Pemuda Pancasila Surabaya Geram terhadap Konten Bermuatan SARA

“Untuk kota seperti Surabaya, keberagaman model ini penting. Ini membuka lebih banyak jalan untuk anak-anak berprestasi dari latar belakang kurang mampu,” pungkasnya.

Dengan pendekatan inklusif dan kolaboratif ini, Surabaya diharapkan dapat menjadi kota percontohan dalam pengembangan Sekolah Rakyat di Indonesia, sekaligus memperkuat komitmen nasional dalam mewujudkan pendidikan yang merata dan berkeadilan. (red)


 

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru