MERAHPUTIH I JAKARTA — PT Kereta Api Indonesia mencatat lonjakan jumlah penumpang Kereta Panoramic hingga 40 persen pada kuartal pertama 2025. Sejak awal tahun hingga Maret 2025, tercatat 24.968 pelanggan telah menikmati layanan kereta dengan desain kaca panorama ini. Pada periode yang sama tahun lalu, jumlahnya tercatat sebanyak 17.804 penumpang.
Lonjakan ini menunjukkan minat masyarakat yang semakin tinggi terhadap moda transportasi berbasis pengalaman. Kereta Panoramic menawarkan sensasi menikmati bentang alam Indonesia dengan lebih leluasa melalui jendela kaca besar dan atap transparan (sunroof).
Baca juga: Pemprov Jatim Kebut Pemasangan Palang Pintu, Upaya Redam Fatalitas di Perlintasan Kereta
Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo menyebut peningkatan penumpang tak lepas dari strategi perusahaan yang merangkai Kereta Panoramic ke rute-rute dengan pemandangan alam ikonik. Beberapa di antaranya adalah rute Gambir–Garut via Bandung, yang melintasi terowongan Sasaksaat dan jembatan Cisomang, dua infrastruktur warisan kolonial yang kini menjadi daya tarik tersendiri.
“Kami melihat masyarakat tidak hanya ingin sampai tujuan, tapi juga menikmati proses perjalanan. Panorama alam Indonesia menjadi keunggulan yang kami kemas dalam konsep perjalanan yang lebih imersif,” kata Didiek, Jumat (3/5/2025).
Kereta Panoramic dikelola oleh anak usaha KAI, yakni KAI Wisata, dan dirangkai secara reguler dengan sejumlah kereta api seperti KA Argo Wilis dan Turangga (Bandung–Surabaya Gubeng PP), KA Pangandaran (Banjar–Gambir PP), serta KA Papandayan (Garut–Gambir PP).
Sejak diperkenalkan pertama kali lewat KA Taksaka Tambahan (Gambir–Yogyakarta PP) pada Desember 2022, Kereta Panoramic terus mencatatkan tren positif. Hanya dalam sepekan pertama peluncurannya, tercatat 911 penumpang telah menjajal kereta ini. Angka tersebut melonjak menjadi 31.699 penumpang pada 2023 dan terus meningkat hingga 107.119 orang pada 2024, atau tumbuh lebih dari 200 persen.
Baca juga: KA Batara Kresna Catat Lonjakan Penumpang, Makin Kokoh sebagai Ikon Wisata Solo Raya
Di jalur selatan Jawa, seperti antara Bandung dan Garut, penumpang disuguhi pemandangan Gunung Guntur, Gunung Mandalawangi, dan Gunung Cikuray. Di sekitar Stasiun Leles, panorama persawahan dan kontur rel yang berkelok di ketinggian 697 meter di atas permukaan laut menciptakan pengalaman visual yang mengesankan, terutama bagi pencinta fotografi.
Vice President Public Relations KAI Anne Purba menambahkan, wilayah Parahyangan memang menjadi favorit karena karakter alamnya yang kaya akan lanskap pegunungan dan lembah hijau. “Itulah sebabnya salah satu kereta kami diberi nama Parahyangan, sebagai bentuk penghargaan terhadap keindahan kawasan ini,” kata Anne.
Uji coba Kereta Panoramic di jalur timur Jawa pun mendapat sambutan hangat, terutama saat masa angkutan Lebaran dan Natal-Tahun Baru. Pada rute Surabaya Gubeng–Ketapang, penumpang dapat menikmati panorama Gunung Raung, Argopuro, hingga Ijen, yang membentang dari kejauhan.
Baca juga: Tiket Kereta Api Libur Nataru Mulai Diserbu, KAI Siapkan Operasi Khusus Jelang
Dengan desain kaca anti panas dan sistem pendingin yang optimal, penumpang tetap nyaman menikmati perjalanan meskipun terik matahari menyinari dari luar. Jendela lebar dan sunroof dapat dibuka untuk menciptakan pengalaman menatap lanskap 360 derajat, namun tetap terlindungi dari panas dan silau.
“Inovasi ini menjadi langkah KAI dalam mentransformasi layanan kereta api dari sekadar alat transportasi menjadi bagian dari pengalaman wisata,” ujar Anne.
Dengan menggabungkan aspek fungsional dan rekreasi, KAI berharap Kereta Panoramic menjadi alternatif perjalanan yang menyenangkan sekaligus memperkuat potensi pariwisata domestik.(red)
Editor : Redaksi