MERAH PUTIH | Surabaya – Ada yang janggal dari insiden jebolnya pipa induk PDAM akibat terkena pancang proyek pembangunan Kampus II Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) di Gunung Anyar, Surabaya. Tak hanya merugikan 30 ribu pelanggan PDAM. Tapi sikap PT Adhi Karya (Persero) yang terkesan terutup atas kejadian itu membuat publik curiga. Ada apa dengan proyek yang didanai APBN Rp 453,3 miliar itu? Sampai-sampai anggota DPRD pun dilarang masuk lokasi.
Seperti dialami anggota Komisi A DPRD Kota Surabaya Arif Fathoni yang ingin meninjau lokasi jebolnya pipa utama PDAM di lokasi proyek, Selasa (19/5/2020). Namun politisi Partai Golkar ini dihalang-halangi oleh sejumlah security proyek. Keributan pun tak terhindarkan, hingga Arif Fathoni ngamuk-ngamuk di lokasi.
Baca juga: Pipa di Jalan Kertajaya Bocor, PDAM Surabaya Pasang Pipa Baru
Pria yang juga Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Surabaya ini tampak beradu argumen dengan petugas keamanan proyek. Walau telah memberitahu kalau dirinya merupakan wakil rakyat, satpam proyek pun bersikukuh tidak mengizinkan Arif Fathoni masuk lokasi proyek.
“Saya ini hanya ingin ngecek pipa itu sudah selesai atau belum. Saya nggak ngurus itu proyeknya Adhi Karya,” kata Fathoni dengan nada agak tinggi di hadapan tiga security yang mencegatnya.
Namun petugas security itu tetap meminta agar Fathoni keluar lokasi. “Nggak usah nyuruh-nyuruh (keluar, red). Saya tadi sudah hubungi Dirut PDAM yang menyatakan pipa di sini sudah selesai. Kebetulan di lokasi Anda (proyek yang dikerjakan PT Adhi Karya,” ucap Arif Fathoni kepada petugas keamanan yang menenakan helm proyek berlogo PT Adhi Karya.
“Saya ini sudah sopan menunggu satu jam. Jangan kurang ajar,” imbuh anggota dewan yang pernah menjadi wartawan ini.
Melihat anggota dewan ini marah-marah, petugas kemanan ini menyatakan akan memanggil pihak atasannya (PT Adhi Karya). “Sebentar pak ini mau saya panggilkan,” ucap salah satu security.
“Berapa lama saya tunggu, kalau nggak ruwet ini,” kata legislator yang tinggal di daerah Rungkut ini. “Ini ada perizinan yang masih keliru, saya persoalkan,” lanjutnya menegaskan. Namun setelah ditunggu sekitar 10 menitan, pihak PT Adhi Karya tak juga menemui anggota dewan ini.
Saat dihubungi lagi, Selasa (19/5) malam, Arif Fathoni mengatakan belum ada penjelasan dari PT Adhi Karya. Padahal dirinya ke lokasi hanya ingin memastikan pekerjaan perbaikan pipa PDAM. Tapi di lokasi dilarang masuk oleh pihak kontraktor PT Adhi Karya.
"Kehadiran saya tadi untuk memastikan bahwa proyek perbaikan pipa PDAM sudah selesai sebagaimana yang diinformasikan oleh Dirut PDAM, karena masyarakat Gunung Anyar dan Rungkut sangat terdampak akibat jebolnya pipa PDAM," terang Toni.
Sebelumnya, Arif Fathoni akan mengajukan class action atas jebolnya pipa PDAM tersebut bersama Wakil Ketua DPRD Surabaya dari Fraksi Gerindra A.H. Thony. Mereka menggugat ke pengadilan dengan menuntut ganti rugi Rp 5 miliar, karena sedikitnya 30 ribu pelanggan terdampak akibat jebolnya pipa PDAM. "Pelanggan sangat dirugikan. Siapapun kontraktornya harus bertanggup jawab, bukan hanya soal perbaikan tetapi juga bertanggung jawab terhadap pelanggan," kata M. Sholeh, pengacara yang diberi kuasa untuk mengajukan class action.
Dipanggil Komisi C
Komisi C DPRD Surabaya juga menyikapi sikap PT Adhi Karya. BUMN ini pun dipanggil untuk didengar keterangannya terkait jebolnya pipa PDAM. Buchori Imron, anggota Komisi C (bidang pembangunan) mengatakan aktivitas PT. Adhi Karya telah membuat pasokan air bersih di kawasan Surabaya Timur dan Utara terhenti.
“Kita akan minta penjelasan ke Adhi Karya, mengapa sampai terjadi kelalaian saat pengerjaan tiang pancang, yang mengakibatkan jebolnya pipa utama PDAM,” ujarnya kepada wartawan di gedung DPRD Surabaya, Selasa (19/5).
Ia menambahkan, informasi yang diterima Komisi C dari Dirut PDAM Surya Sembada Surabaya, Mujiaman, bahwa pihak PDAM sudah memberitahu ke Adhi Karya jika lahan yang akan digarap ada utilitas pipa utama PDAM. “Tapi mengapa Adhi Karya tetap melakukan pengerjaan tiang pancang, ini yang perlu kita ketahui,” jelas politisi senior PPP ini.
Buchori kembali mengatakan, sekelas Adhi Karya yang merupakan BUMN kontraktor papan atas tidak mungkin tidak mengetahui, jika ada jaringan utilitas sebelum tiang pancang dikerjakan. Terlebih gambarnya sudah dikasih tahu sama PDAM. “Ini jelas human error,”tegasnya.
Baca juga: Anggota DPRD Mencak-mencak Dilarang Masuk Lokasi Jebolnya Pipa PDAM
Kesalahan Prosedur
Ahli konstruksi bangunan Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS) , Ir Mudji Irmawan MT menerangkan ada banyak prosedur yang harus dilalui sebelum membangun sebuah gedung. Mudji memaparkan pentingnya koordinasi dengan pihak terkait. Dalam hal ini Pemkot Surabaya. Ini terkait ada utilitas di bawahnya lokasi yang akan dibangun seperti pipa gas, pipa PDAM dan kabel telepon.
"Khususnya koordinasi dengan pihak PDAM, jika semua itu sudah dilalui langkah awalnya adalah survei lokasi," papar Mudji.
Jika ingin menancapkan paku bumi, lanjut Mudji, harus ada proteksinya atau pengaman terhadap pipa yang ada di bawahnya. "Apa kontraktor (Adhi Karya, red) sudah melaksanakan hal tersebut? Jika tidak ada proteksinya langsung pasang tiang pancang ini jelas keliru," urai Mudji.
"Kontraktornya yang salah, tetapi jika sudah ada proteksinya apakah sudah dihitung, disesuaikan dengan deformasi tanah atau pergeseran tekanan tanah," imbuhnya.
Menurutnya jika semua prosedur sudah dilaksanakan, namun tetap terjadi kebocoran pipa PDAM, menurut Mudji perlu dievaluasi. “Kenapa ini bisa terjadi. Apakah deformasi atau pergeseran akibat tekanan tanah sudah diperhitungkan betul? Atau ada hal lain misalnya proteksi atau pengaman yang ada kurang memenuhi syarat,” jelasnya.
Jika semua prosedur sudah dilalui dan proteksinya dijalankan, lanjut dia, seharusnya tidak akan terjadi sampai merusak pipa PDAM seperti di Gunung Anyar. "Ini harus turun langsung ke lapangan biar tahu apa yang sebenarnya terjadi," ujar dosen di Fakultas Teknik Sipil, Perencanaan, dan Kebumian ITS.
Baca juga: Pipa Bocor, PDAM Pastikan Suplai Air Masih Mengalir
Sebelumnya, Direktur Utama PDAM Surabaya Mujiman mengatakan pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan pihak kontraktor yang melakukan pembangunan proyek tersebut. Bahkan prosedur agar tidak kena pipa PDAM juga sudah dilakukan. "Orangnya bandel, sudah koordinasi sudah dibilangi. Kalau mancang prosedurnya ini-ini," tutur Mujiaman.
Pihak UINSA juga terkesan menyalahkan PT Adhi Karya. Rektor UINSA Prof. Dr. Masdar Hilmy mengungkapkan pihaknya sudah jauh-jauh hari melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kota Surabaya dan PDAM. "Bahkan, saya audiensi langsung dengan Pak Mujiaman (Dirut PDAM Surabaya) dan Bu Wali Kota (Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini) juga. Setelah itu pihak proyek (PT Adhi Karya, red) yang lebih tahu," kata Masdar.
Sayangnya, pihak PT Adhi Karya terkesan tertutup. Abdul Somad, perwakilan PT Adhi Karya untuk proyek pembangunan kampus II UINSA, mengatakan pihaknya belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut seputar ganti rugi maupun memanggapi adanya pengajuan gugatan class action. "Untuk keterangan soal itu satu pintu ya," katanya singkat saat dihubungi melalui ponselnya.
Perbaikan Pipa
Sementara itu, PDAM mengklaim telah menyelesaikan perbaikan pipa utama yang jebol akibat terkena tiang pancang proyek Kampus II UINSA di Gunung Anyar. "Alhamdulillah. Kabar baik untuk warga Surabaya. Perbaikan pipa PDAM yang jebol Minggu (17/5) lalu akhirnya selesai," kata Direktur Utama PDAM Surya Sembada Kota Surabaya Mujiaman Sukirno, Selasa (19/5).
Untuk mempercepat proses perbaikan, Mujiaman mengaku telah memilih metode cara kerja lain. Jika pada kasus sebelumnya, peralatan seperti alat berat dan para pekerja ditempatkan di titik yang sama, namun tidak untuk sekarang. "Ada 50 personel yang kami kerahkan. Ada juga (operator alat berat) dari Dinas PU Bina Marga dan Pematusan, kemudian sub kontraktor. Untuk alat berat ekskavator ada 4 unit," katanya.
Menurutnya, pengerjaan pengelasan pipa baru bisa dimulai Senin (18/5) karena Minggu (17/5) semburan air masih terlalu deras. Untuk itu, lanjut dia, pada tahap awal, pihaknya harus menyelesaikan pengerukan tanah radius 20 meter dari titik central untuk supporting penyambungan pipa.
Menurutnya, pipa yang jebol berdiameter 1.000 milimeter itu mampu mengalirkan 1 liter air per detik kepada 80 pelanggan. Sedangkan air yang terbuang saat ini sekitar 300 liter per detik, sementara lainnya masih tetap berjalan. "Jadi sekitar 30 ribuan pelanggan saat ini yang terganggu. Sedangkan yang paling terdampak wilayah Gunung Anyar," katanya. (tri/ton/red)
Editor : Eko Yudiono