Waspadai Kandungan Gula pada Susu Kemasan, Ancaman Tersembunyi bagi Kesehatan Gigi Anak

harianmerahputih.id
Tren konsumsi susu dengan rasa seperti cokelat dan stroberi memang tengah digemari anak-anak

MERAHPUTIH I SURABAYA — Susu merupakan salah satu asupan penting dalam masa pertumbuhan anak. Kandungan nutrisinya yang lengkap, mulai dari karbohidrat, lemak, protein, kalsium, hingga vitamin dan mineral, menjadikannya sebagai bagian tak terpisahkan dari menu harian anak-anak. Namun, manfaat besar ini bisa menjadi bumerang bila orangtua tidak cermat dalam memilih jenis susu yang dikonsumsi, khususnya susu kemasan berperisa.

Tren konsumsi susu dengan rasa seperti cokelat dan stroberi memang tengah digemari anak-anak. Rasanya yang manis dan teksturnya yang lembut membuat anak mudah menyukainya. Akan tetapi, di balik rasa manis itu tersembunyi ancaman serius bagi kesehatan gigi, yakni tingginya kadar gula tambahan yang dapat meningkatkan risiko karies atau gigi berlubang.

Baca juga: Produksi Susu dan Daging Sapi di Pasuruan Tetap Stabil Meski PMK Muncul Kembali

“Gula dalam susu kemasan bisa menyumbang 30 hingga 50 persen dari rekomendasi asupan gula harian anak, yaitu sekitar 25 gram menurut Kementerian Kesehatan,” ujar drg. Bingah Fitri Melati, Sp.KGA, dosen Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya.

Menurut Bingah, setelah dikonsumsi, sisa gula dari susu manis akan tertinggal di permukaan gigi. Di sinilah peran bakteri dalam mulut berkontribusi. Bakteri akan mengubah gula menjadi asam yang secara bertahap melarutkan mineral email gigi. Dalam jangka panjang, proses ini bisa menyebabkan terbentuknya lubang atau karies pada gigi anak.

Lebih lanjut ia menjelaskan, bukan hanya kandungan gula dalam susu yang menjadi persoalan, melainkan juga waktu dan cara konsumsinya. Salah satu kebiasaan yang kerap terjadi adalah memberikan susu kepada anak sebelum tidur malam tanpa diikuti dengan menyikat gigi.

“Kebiasaan ini sangat berisiko. Apalagi jika anak meminum susu menggunakan dot, karena cairan susu akan lebih lama menempel pada gigi depan bagian atas. Ini menjadi kondisi ideal bagi bakteri untuk bekerja,” ujar Bingah.

Untuk mencegah hal tersebut, Bingah menyarankan agar anak-anak di atas usia satu tahun minum susu menggunakan gelas atau sedotan. Setelahnya, anak dianjurkan untuk berkumur atau, yang lebih ideal, menyikat gigi sebelum tidur.

Baca juga: Pj Gubernur Jateng dan Menko Pangan Upayakan Solusi Masalah Pengepul Susu di Boyolali

“Orangtua sebaiknya mulai menanamkan kebiasaan menyikat gigi secara teratur sejak dini. Tidak cukup hanya pagi hari saja, tetapi juga malam sebelum tidur,” tambahnya.

Selain itu, pemilihan produk susu juga harus menjadi perhatian. Orangtua disarankan memilih produk susu dengan kadar gula rendah, atau bahkan tanpa tambahan pemanis. Label kandungan gizi yang tercantum pada kemasan perlu dibaca dengan teliti sebelum membeli.

“Pemeriksaan gigi secara rutin juga penting. Setidaknya dua kali dalam setahun, anak dibawa ke dokter gigi untuk memastikan tidak ada masalah yang terlewat,” kata Bingah.

Ia menegaskan, susu tetap memiliki banyak manfaat bagi pertumbuhan anak, terutama dalam mendukung perkembangan tulang dan gigi. Namun, konsumsi yang tidak bijak dapat memberikan dampak sebaliknya.

“Dengan langkah pencegahan yang tepat, manfaat susu tetap bisa diperoleh tanpa mengorbankan kesehatan gigi anak,” pungkasnya.

Keseimbangan antara nutrisi dan kesehatan gigi memang menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua. Namun, dengan informasi yang cukup dan pola pengasuhan yang sadar kesehatan, anak-anak dapat tumbuh optimal tanpa dibayangi masalah kesehatan gigi yang sejatinya bisa dicegah sejak dini.(RED)

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru