MERAHPUTIH TRENGGALEK – Memasuki hari kelima pascabencana tanah longsor di Dusun Kebonagung, Desa Depok, Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek, upaya pencarian korban terus dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari aparat TNI, Polri, hingga relawan dan instansi lintas daerah. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur Gatot Soebroto menyatakan bahwa pencarian kali ini akan lebih intensif dengan dukungan anjing pelacak.
“Pagi ini pencarian korban akan tetap dilakukan dengan menggunakan anjing pelacak dan melibatkan seluruh komponen yang ada, baik dari TNI, Polri, maupun OPD terkait. Ada Basarnas, BPBD kabupaten/kota, bahkan BPBD dari Kota Batu dan Kabupaten Jombang turut turun tangan,” kata Gatot saat ditemui di posko utama penanganan bencana, Jumat (23/5/2025) pagi.
Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya
Langkah ini diambil setelah pada pencarian hari keempat kemarin sore, Kamis (22/5), dua korban yakni Yatemi (70) dan Mesinem (90) dalam kondisi meninggal dunia. Penemuan tersebut memberikan harapan baru sekaligus titik terang bagi tim pencari untuk menemukan korban lainnya yang masih dinyatakan hilang.
“Semoga dengan adanya penemuan dua korban kemarin, bisa memberikan petunjuk-petunjuk untuk menemukan korban-korban berikutnya,” ujar Gatot.
Kendati demikian, medan pencarian masih menyimpan sejumlah tantangan besar. Material longsor yang menimbun wilayah terdampak berupa tanah yang masih sangat gembur. Kondisi ini membuat pengerahan alat berat menjadi berisiko tinggi, terutama terhadap kemungkinan terjadinya longsor susulan.
“Kendala utama di lapangan adalah kondisi tanah yang masih gembur sekali. Kami sangat menghindari terlalu banyak pergerakan, apalagi dengan alat berat. Bahkan, penggunaan penyemprotan air atau alkon juga sangat dibatasi,” jelas Gatot.
Menurutnya, penyemprotan air pada timbunan material bisa mengganggu stabilitas tanah dan memperbesar potensi longsor susulan yang membahayakan keselamatan tim pencari.
Baca juga: Imam Utomo Kembali Pimpin PMI Jawa Timur: Aklamasi yang Menegaskan Soliditas dan Kepercayaan Publik
Selain itu, cuaca yang berubah-ubah menjadi kendala tambahan. “Di lokasi cuaca tidak menentu, kadang mendung, kadang tiba-tiba hujan. Ini sangat menyulitkan karena kami harus betul-betul memperhitungkan waktu dan keselamatan para petugas serta relawan di lapangan,” imbuhnya.
Dengan kondisi geografis Dusun Kebonagung yang berada di lereng perbukitan serta akses yang sempat terputus, seluruh tim di lapangan diminta untuk meningkatkan kewaspadaan. Gatot menekankan pentingnya kehati-hatian dalam setiap langkah proses evakuasi.
“Karena lokasi longsor ada di atas, dan material yang menumpuk masih banyak, semua pihak harus meningkatkan kehati-hatian. Keselamatan personel pencarian menjadi prioritas utama,” tegasnya.
Seiring dengan dibukanya kembali akses jalan menuju lokasi terdampak, sejumlah warga pemilik rumah mulai kembali untuk melakukan pembersihan rumah dan lingkungan sekitar. Meski begitu, BPBD tetap mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap potensi bencana susulan, khususnya mengingat cuaca yang belum stabil dan tanah yang masih labil.
Baca juga: Jatim Ciptakan Lompatan Ekonomi, TransJatim Jadi Sorotan: Khofifah Raih Dua Penghargaan Sekaligus
Sejak hari pertama bencana, penanganan dilakukan secara terpadu oleh berbagai pihak. Selain BPBD Jatim dan BPBD Trenggalek, turut membantu pula personel Basarnas, relawan dari berbagai organisasi kemanusiaan, serta instansi lintas kabupaten/kota di Jawa Timur.
Hingga berita ini diturunkan, jumlah korban yang berhasil ditemukan tercatat dua orang, sementara korban Nitin (36), Tulus (65), Yatini (50), dan Torik, balita berusia dua tahun masih dalam proses pencarian. BPBD belum merinci jumlah pasti korban hilang karena proses pendataan warga terdampak masih berlangsung.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Pemerintah Kabupaten Trenggalek berkomitmen untuk terus memperkuat koordinasi penanganan bencana, termasuk dalam hal dukungan logistik, perlindungan pengungsi, hingga pemulihan pascabencana.(dpr)
Editor : Redaksi