Pencarian Korban Longsor Trenggalek Berakhir, Seluruh Jenazah Ditemukan

harianmerahputih.id
upaya pencarian korban tanah longsor di Dusun Kebonagung, Desa Depok, Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, resmi dihentikan pada Sabtu (24/5)

MERAHPUTIH I TRENGGALEK – Setelah enam hari berjibaku dengan waktu, medan, dan cuaca yang tidak menentu, upaya pencarian korban tanah longsor di Dusun Kebonagung, Desa Depok, Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, resmi dihentikan pada Sabtu (24/5) sore. Empat korban terakhir yang sebelumnya dinyatakan hilang—masing-masing atas nama Nitin (36), Tulus (65), Yatini (50), dan Torik, seorang balita berusia dua tahun—telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Dengan ditemukannya keempat korban tersebut, maka seluruh enam korban yang tertimbun longsor telah berhasil dievakuasi. Dua korban sebelumnya telah ditemukan dalam pencarian beberapa hari lalu.

Baca juga: Wagub Emil Ingatkan Ancaman Longsor di Jatim: Pegunungan hingga Pesisir Selatan Harus Siaga

"Pada pukul 16.00 WIB, pencarian korban longsor kami nyatakan selesai. Seluruh korban yang tertimbun telah ditemukan. Setelah proses visum dan identifikasi oleh tim kepolisian di RSUD dr. Soedomo Trenggalek, jenazah akan diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan," kata Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, saat ditemui di posko darurat.

Menurut Gatot, keberhasilan pencarian tak lepas dari kolaborasi berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, Basarnas, BPBD Kabupaten dan Provinsi, relawan, hingga warga setempat. Ia menyebut kerja sama lintas sektor tersebut merupakan bentuk solidaritas kemanusiaan yang patut diapresiasi.

"Alhamdulillah, hasil kolaborasi dari seluruh tim yang terlibat membuahkan hasil. Seluruh jenazah, sebanyak enam orang, kini telah ditemukan," ujarnya.

Longsor yang terjadi pada Minggu (19/5) dini hari itu disebabkan hujan deras yang mengguyur kawasan perbukitan di Kecamatan Bendungan sejak Sabtu malam. Tanah yang labil dan kontur lereng yang curam menyebabkan guguran material menimpa sejumlah rumah warga di Dusun Kebonagung.

Medan lokasi yang terjal dan kondisi tanah yang masih rawan longsor susulan menyulitkan proses pencarian. Petugas harus bekerja dengan penuh kehati-hatian, kerap menghentikan sementara pencarian jika hujan kembali turun atau ditemukan indikasi pergerakan tanah.

"Keselamatan personel menjadi prioritas. Maka, dalam proses evakuasi kami sangat memperhatikan tanda-tanda pergerakan tanah dan kondisi cuaca," ujar Gatot.

Tim SAR juga mengerahkan alat berat untuk membantu menyingkirkan timbunan tanah, batu, dan sisa reruntuhan bangunan. Namun, di beberapa titik yang sulit dijangkau, pencarian dilakukan secara manual dengan cangkul dan sekop oleh relawan dan warga.

Baca juga: Semeru Naik ke Level Awas, Erupsi Meningkat Tajam dan Radius Bahaya Diperluas

Usai proses pencarian, perhatian kini beralih pada penanganan lanjutan dan mitigasi bencana. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sebelumnya menyampaikan bahwa pemerintah provinsi akan membentuk tim teknis untuk melakukan kajian mendalam atas kondisi geologis di kawasan rawan bencana tersebut.

Gatot Soebroto menegaskan, langkah evaluasi berbasis kajian akademis sangat penting untuk menentukan kebijakan penataan kawasan dan antisipasi bencana di masa mendatang.

"Kami masih menunggu hasil kajian dari tim akademisi. Ini akan menjadi dasar dalam mengambil langkah ke depan, apakah relokasi warga akan dilakukan atau dilakukan penguatan struktur lereng dan tata ruang," katanya.

Sementara itu, sebagian warga Dusun Kebonagung masih bertahan di lokasi pengungsian yang didirikan pemerintah daerah. Mereka belum diperkenankan kembali ke rumah masing-masing karena dikhawatirkan terjadi longsor susulan. BPBD setempat bersama Dinas Sosial dan PMI juga terus menyalurkan bantuan logistik serta layanan kesehatan.

Di tengah suasana duka, keluarga korban berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap keamanan pemukiman warga. Sumarni (42), kerabat korban, mengaku pasrah dengan musibah yang menimpa keluarganya, namun berharap kejadian serupa tak terulang.

Baca juga: Pemprov Jateng Kerahkan Bantuan Cepat untuk Korban Longsor Banjarnegara

"Kami hanya bisa berdoa. Semoga ini yang terakhir. Kami minta pemerintah memperhatikan daerah rawan seperti di sini," ujarnya lirih, sembari menatap sisa puing rumah saudaranya yang rata dengan tanah.

Bencana tanah longsor di Trenggalek ini menambah daftar panjang peristiwa geologi yang terjadi di Jawa Timur dalam beberapa bulan terakhir. Wilayah perbukitan di selatan provinsi memang dikenal rawan pergerakan tanah, terutama saat musim hujan tiba.

Pemerintah daerah diharapkan mempercepat langkah mitigasi berbasis data dan peringatan dini, serta melibatkan masyarakat dalam membangun budaya sadar bencana.(DPR)

 

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru