Dorong Desa Mandiri Kelola Sampah, Gubernur Khofifah Tinjau TPS 3R di Lumajang

harianmerahputih.id
Gubernur Khofifah saat meninjau langsung sekaligus meresmikan pengolahan sampah mandiri "Pengayoman" berbasis desa di Desa Purworejo, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Minggu (25/5)

MERAHPUTIH I LUMAJANG – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meninjau langsung sekaligus meresmikan pengolahan sampah mandiri "Pengayoman" berbasis desa di Desa Purworejo, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Minggu (25/5). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya konkret Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam mendorong penguatan ekonomi sirkular melalui pengelolaan sampah berbasis masyarakat dan teknologi tepat guna.

Dalam kunjungannya, Gubernur Khofifah menegaskan pentingnya membangun kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah secara mandiri. Ia menyebut bahwa pengelolaan sampah kini bukan hanya menjadi isu lingkungan, tetapi juga bagian dari strategi menuju ekonomi hijau (green economy) dan bahkan ekonomi biru (blue economy), yang menekankan prinsip “no waste” atau tanpa sampah.

Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya

"Orang bicara green economy, itu artinya sampah harus bisa dikelola. Tapi ke depan, kita akan masuk ke era blue economy, yaitu era tanpa sampah. Di situlah kita harus melakukan penjangkauan proses pengelolaan sampai ke level paling bawah," ujar Khofifah di hadapan perangkat desa dan warga setempat.

Ia mengapresiasi pengelolaan sampah berbasis 3R (reduce, reuse, recycle) yang telah diterapkan di Desa Purworejo. Menurutnya, inisiatif ini bisa dimulai dari teknologi tepat guna yang sederhana, namun berdampak besar bagi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Khofifah juga mencontohkan pemanfaatan limbah organik untuk budidaya maggot, yang saat ini mulai berkembang di desa tersebut. Maggot atau larva lalat Black Soldier Fly (BSF) dikenal memiliki nilai ekonomis tinggi sebagai pakan ternak, khususnya untuk ikan lele.

"Kalau ada budidaya maggot seperti di sini dan market-nya bagus, ini sangat potensial. Sementara untuk limbah organik lainnya bisa dikonversi menjadi kompos. Kompos ini bisa menjadi alternatif pupuk yang lebih ramah lingkungan dibanding pupuk kimia, dan proses konversinya bisa dilakukan bertahap," jelasnya.

Ia menambahkan, dengan pengolahan yang baik, sampah yang selama ini dianggap sebagai beban lingkungan bisa diubah menjadi sumber penghasilan. “Mudah-mudahan nanti sampah bisa jadi rupiah, bisa jadi berkah,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya Provinsi Jawa Timur, I Nyoman Gunadi, menekankan pentingnya replikasi program pengelolaan sampah desa ke wilayah lain di Jawa Timur. Menurutnya, inisiatif seperti di Desa Purworejo harus menjadi contoh bagi daerah-daerah lain, mengingat target nasional pada tahun 2045 mengharuskan seluruh wilayah Indonesia mengelola sampah secara mandiri.

Baca juga: Imam Utomo Kembali Pimpin PMI Jawa Timur: Aklamasi yang Menegaskan Soliditas dan Kepercayaan Publik

"Di sini memang sangat dibutuhkan pengolahan sampah karena sebelumnya belum ada. Kami harap desa-desa lain bisa mengembangkan program serupa. Dari awalnya hanya 200 pemanfaat, kami yakin angka itu akan terus bertambah,” kata Nyoman.

Bupati Lumajang Indah Amperawati, atau yang akrab disapa Bunda Indah, menyampaikan apresiasi atas perhatian Gubernur Khofifah terhadap isu pengelolaan sampah, termasuk di tingkat desa.

"Terima kasih Ibu Gubernur yang sampai sekecil-kecilnya pengolahan sampah pun menjadi perhatian beliau. Bantuan Ibu Gubernur untuk dua desa telah membantu menyusun kisah sukses, salah satunya di Senduro yang sudah berjalan dan berkembang pesat selama tiga tahun terakhir," ujar Bunda Indah.

Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Lumajang berharap setiap desa ke depan bisa memiliki sistem 3R sendiri, sehingga masyarakat dapat langsung merasakan manfaat dari pengelolaan sampah yang tepat.

Baca juga: Jatim Ciptakan Lompatan Ekonomi, TransJatim Jadi Sorotan: Khofifah Raih Dua Penghargaan Sekaligus

Program pengelolaan sampah mandiri berbasis desa ini sejalan dengan upaya provinsi untuk menurunkan volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) serta memperkuat ketahanan lingkungan dan ekonomi masyarakat desa.

Dengan partisipasi aktif masyarakat, dukungan pemerintah, dan pemanfaatan teknologi tepat guna, program ini diharapkan menjadi model percontohan dalam pengelolaan sampah berkelanjutan di Jawa Timur. (red) 

 

 

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru