"Dulu Peracik Bom, Kini Peramu Kopi: Umar Patek Bangkit dari Kelamnya Terorisme Lewat Kopi Ramu 1966"

harianmerahputih.id
Umar Patek saat peluncuran "Kopi Ramu 1966" di Surabaya, Selasa (3/6).

MERAHPUTIH I SURABAYA - Dulu ia diburu dunia. Namanya masuk dalam daftar hitam teroris paling dicari Amerika Serikat. Kepalanya dihargai 1 juta dollar AS. Tapi hari ini, lelaki bernama Umar Patek itu bukan lagi pembawa teror. Ia hadir dalam wajah baru: peracik kopi dengan racikan khas rempah-rempah, lahir dari refleksi panjang di balik jeruji besi. Dari sel tahanan menuju kedai kopi. Dari amarah menuju aroma.

Selasa (3/6/2025) malam, di sebuah ruang elegan di Hedon Estate Surabaya, aroma kopi berpadu dengan cerita transformasi. Di sinilah, "Kopi Ramu 1966" resmi diluncurkan. Bukan sekadar minuman, tapi narasi utuh tentang perubahan, penebusan, dan keberanian menghadapi masa lalu. Di balik cangkir-cangkir itu, ada nama yang pernah membuat dunia bergidik.

Baca juga: Kopi Ijen Raung dari Bondowoso Tembus Pasar Taiwan, Khofifah: Saatnya Buka Market Baru Dunia

Perjalanan dari Bom ke Biji Kopi

Nama aslinya Hisyam bin Alizein. Tapi dunia mengenalnya sebagai Umar Patek, anggota jaringan Jemaah Islamiyah (JI), aktor intelektual di balik aksi-aksi teror berdarah, termasuk Bom Bali 2002 dan pengeboman gereja-gereja pada malam Natal 2000. Ia adalah guru dari teroris legendaris Noordin M. Top, sebelum akhirnya ditangkap dan dijatuhi hukuman 20 tahun penjara oleh Pengadilan Indonesia pada 21 Juni 2012.

Namun, dunia berubah. Begitu pula Umar Patek. Setelah menjalani lebih dari separuh masa hukumannya, pria kelahiran 1966 itu resmi menghirup udara bebas melalui program pembebasan bersyarat pada 7 Desember 2022. Kini, ia menyandang status sebagai klien pemasyarakatan hingga April 2030, dengan kewajiban mengikuti program pembinaan dari Balai Pemasyarakatan Surabaya.

“Dulu aku dikenal karena hal yang menyakitkan dunia. Tapi kini, aku memilih jalan lain. MeRAMU rasa, menyeduh damai,” ujar Umar Patek dalam video peluncuran produk kopi terbarunya. Ucapannya seperti larik puisi yang ia tulis sendiri, merangkum perjalanan batin seorang mantan teroris yang kini ingin memberi makna baru bagi hidupnya.

Setelah pembebasan bersyarat, Umar Patek mengaku pernah melamar pekerjaan di berbagai tempat. Namun status mantan narapidana teroris menutup kesempatan untuk diterima di perusahaan yang didatanginya. 

"Stigma itu terus melekat pada diri saya, " ungkap Umar Patek. 

Transformasi Rasa, Transformasi Diri

Nama "Ramu 1966" bukan tanpa alasan. Tahun kelahiran disematkan sebagai pengingat akan asal usul, dan kata “RAMU” yang jika dibaca terbalik menjadi “UMAR” menjadi metafora sederhana namun tajam. Dulu, Umar meramu bahan peledak. Kini, ia meramu cita rasa kopi rempah yang ia klaim khas dan menyembuhkan.

Baca juga: Dorong Koperasi Naik Kelas, Diskop UKM Jatim Fasilitasi Javeast Coffee Tembus Panggung Nasional

Semua bermula dari kebiasaan sederhana selepas bebas: menyeduh kopi untuk teman dan kerabat. Siapa sangka, racikannya justru menarik perhatian drg. David Andreasmito, pemilik Hedon Estate. Dari secangkir kopi rempah di rumah sederhana Porong, kini usaha itu resmi bermitra dengan salah satu cafe eksklusif di Surabaya.

“Ini bukan sekadar kopi. Ini tentang perubahan. Tentang memilih hidup yang baru. Racikan kopi ini adalah hasil karya seorang mantan teroris yang telah menemukan kembali jati diri dan memilih untuk berkarya,” kata David dalam sambutannya.

Kopi dan Harapan: Jalan Baru Umar Patek

Bagi Umar Patek, kopi bukan hanya minuman, tapi jalan untuk berdamai dengan masa lalu. Ia tidak menyangkal masa lalunya yang kelam. Namun, ia ingin membuktikan bahwa setiap manusia punya ruang untuk bertobat dan berkontribusi. Ia ingin Ramu 1966 hadir sebagai simbol perubahan dan penyembuhan.

“Kalau dulu pahit itu menghancurkan, sekarang pahit ini menyembuhkan,” ucapnya.

Baca juga: Kontes Kopi Dorong Pemasaran dan Peningkatan Mutu Kopi Lokal Batang

Hedon Estate kini menjadi titik awal pemasaran Ramu 1966. Tempat tersebut tak hanya menjual produk, tetapi menjadi panggung bagi narasi baru Umar Patek — yang tak lagi berbicara lewat dentuman bom, melainkan lewat aroma dan rasa.

Umar tak menutup kemungkinan untuk melebarkan sayap bisnisnya ke kafe-kafe lain, bahkan ke luar negeri. Ia bermimpi membawa Ramu 1966 sebagai produk Indonesia yang tidak hanya menyajikan kopi, tapi juga membawa pesan perdamaian dan rekonsiliasi.

Dari Dendam ke Damai, dari Teror ke Cita Rasa

Transformasi Umar Patek adalah refleksi bahwa bahkan seseorang yang pernah berada di titik tergelap sejarah bisa memilih jalan terang — meski tidak mudah dan penuh skeptisisme. Masyarakat punya hak untuk mengingat dan mewaspadai, namun juga patut memberi ruang bagi mereka yang benar-benar ingin berubah.

Kini, Umar tidak lagi menyulut ketakutan, tapi menyalakan bara perubahan. Dan siapa tahu, dari cangkir-cangkir Ramu 1966 yang diseduhnya, akan lahir semangat baru bagi para eks-narapidana lainnya untuk bangkit. Bahwa bahkan dari reruntuhan, bisa tumbuh harapan. Dari pahit, bisa lahir kenikmatan. (DPR) 

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru