MERAHPUTIH I BOJONEGORO — Di tengah hamparan alam Bojonegoro yang menyimpan warisan geologi dan budaya, sekelompok perempuan penjelajah menapaki jejak masa lalu sekaligus merayakan kekayaan lokal. Kamis (19/6/2025), para anggota Jawa Timur Woman Touring (JWT) memulai perjalanan wisata yang menjadi bagian dari perhelatan Bojonegoro Wastra Batik Festival (BWBF) 2025, yang memasuki hari kedua pelaksanaannya.
Rangkaian kunjungan ini tak sekadar berlabel wisata. Ia membawa pesan: bahwa Bojonegoro bukan sekadar titik di peta Jawa Timur, melainkan ruang yang kaya akan cerita, wastra, dan warisan peradaban.
Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya
Prosesi keberangkatan para peserta dilakukan dari Gedung Putih, kompleks Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Hadir dalam pelepasan itu Wakil Bupati Nurul Azizah, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sri Budi Cantika dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Welly Fitrama.
“Kami ingin festival ini menjadi milik semua, bukan hanya untuk warga Bojonegoro,” ujar Wakil Bupati Nurul Azizah dalam sambutannya. “Semakin banyak masyarakat luar datang, semakin kuat dampak sosial dan ekonomi yang tumbuh dari kegiatan budaya.”
Sementara itu, Cantika menekankan pentingnya membangun ruang silaturahmi antardaerah melalui medium kebudayaan dan pariwisata. “Ini adalah momen menjalin kembali jembatan antarwilayah lewat warisan lokal,” katanya. Ia juga menyebut bahwa festival yang berlangsung selama empat hari itu menyediakan 105 stan bazar yang menyajikan produk UMKM lokal, termasuk batik khas Bojonegoro.
Perjalanan wisata dimulai dari Pusat Informasi Geologi (PIG) Geopark Bojonegoro di Jalan Panglima Sudirman. Di sini, peserta diperkenalkan pada sejarah geologi wilayah Bojonegoro, yang masuk dalam kawasan pegunungan kapur dan dikenal sebagai daerah penghasil minyak dan gas bumi.
Baca juga: Imam Utomo Kembali Pimpin PMI Jawa Timur: Aklamasi yang Menegaskan Soliditas dan Kepercayaan Publik
Perjalanan berlanjut ke Geosite Petroleum Teksas Wonocolo di Kecamatan Kedewan. Wilayah ini dikenal luas karena aktivitas tambang minyak tradisionalnya yang masih aktif dijalankan warga secara turun-temurun, menggunakan peralatan konvensional.
Dari kawasan perminyakan, rombongan bergerak menuju Desa Rendeng, Kecamatan Malo, untuk menengok sentra produksi gerabah. Di Wisata Edukasi Gerabah (WEG), para peserta melihat langsung proses pembuatan aneka kerajinan dari tanah liat dan bahkan ikut serta mencoba membentuk gerabah dengan teknik tradisional.
Senja mengantar perjalanan menuju destinasi penutup: Kayangan Api, sumber api abadi di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem. Konon, api ini telah menyala sejak masa Majapahit dan digunakan oleh Mpu Supa, empu legendaris pembuat keris sakti yang dipercaya menjadi ageman Patih Gajah Mada: Keris Dapur Jangkung Luk Telu Blong Pok Gonjo.
Baca juga: Jatim Ciptakan Lompatan Ekonomi, TransJatim Jadi Sorotan: Khofifah Raih Dua Penghargaan Sekaligus
Tak hanya api abadi, kawasan Kayangan Api juga menyimpan jejak-jejak sejarah lain, mulai dari petilasan Mpu Kriyokisumo, tugu replika keris, hingga sumber mata air banyu blukutuk yang dipercaya memiliki kisah mistik.
Festival ini bukan hanya tentang batik dan bazar. Ia juga menjadi ruang temu antara warisan dan masa kini. Di tengah geliat pembangunan, Bojonegoro sedang merintis jalan panjang agar kekayaan lokal tak sekadar dikenang, melainkan dihidupi dan dinikmati lintas generasi.
Melalui langkah-langkah kecil semacam ini, Pemkab Bojonegoro ingin menegaskan bahwa pariwisata berbasis budaya dan alam bisa menjadi pilar ekonomi daerah. Dan di balik riuhnya festival, ada satu pesan yang terus menggaung: bahwa mengenali warisan sendiri adalah langkah awal untuk menjaganya. (red)
Editor : Redaksi