MERAHPUTIH I BANYUWANGI - Mentari baru saja menyingsing di ufuk timur ketika dua Rigid Inflatable Boat (RIB) milik Basarnas kembali melaju dari Pelabuhan Gilimanuk, Jumat pagi. Debur ombak yang menghempas lambung perahu seakan menyuarakan duka yang belum reda: pencarian terhadap puluhan korban hilang dari KMP Tunu Pratama Jaya yang tenggelam di Selat Bali, masih belum menunjukkan hasil.
Hari kedua operasi pencarian menjadi momentum krusial bagi Tim SAR gabungan. Dengan dukungan helikopter, kapal pencari, hingga tim penyelam, mereka menyisir perairan selatan dan timur Gilimanuk. Namun, sejauh Jumat malam, belum ada kabar baik yang bisa dibawa pulang.
Baca juga: Tangis Duka di Ketapang: Gubernur Khofifah Serahkan Santunan Korban KMP Tunu Pratama Jaya
“Kami masih belum menemukan korban baru hari ini,” ujar Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas, Ribut Eko Suyanto, dalam konferensi pers di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Ribut menyebut pencarian hari itu menghadapi tantangan cuaca yang tak bersahabat, jarak pandang yang menyusut drastis, gelombang yang meninggi hingga 2,5 meter, serta tiupan angin yang cukup kencang.
Tragedi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya terjadi pada Rabu (2/7) malam, sekitar pukul 23.35 WIB. Kapal yang mengangkut 53 penumpang, 12 kru, dan 22 unit kendaraan itu karam di tengah Selat Bali saat menempuh rute dari Pelabuhan Ketapang menuju Gilimanuk.
Dari 65 orang yang tercatat dalam manifes, 30 dinyatakan selamat dan enam ditemukan meninggal dunia. Sementara 29 lainnya masih dalam pencarian. Namun, dugaan baru mencuat: korban bisa jadi lebih banyak dari yang terdata.
Salah satu penumpang yang disebut tidak ada dalam manifes adalah seorang warga negara Malaysia, Fauzi Bin Awam. Istrinya, Yatini, datang ke Posko SAR di Banyuwangi dengan harapan menemukan jejak suaminya. Fauzi, kata Yatini, menggunakan jasa travel dari Kecamatan Genteng menuju Bali. “Tapi namanya tidak ada di manifes,” ujarnya pelan, menahan haru.
Kejadian ini membuka kemungkinan bahwa ada penumpang lain yang tidak tercatat secara resmi dalam manifest kapal. Situasi yang, menurut pengamat transportasi, seharusnya tak boleh terjadi di era modern seperti sekarang.
Baca juga: Harap dan Doa di Tengah Duka: Upaya Tanpa Lelah Identifikasi Korban KMP Tunu Pratama Jaya
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) turut bergerak cepat. Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan, pihaknya sedang mengumpulkan data awal dari para penyintas dan saksi mata. “Kami sudah kantongi informasi soal kondisi cuaca dan komunikasi malam itu. Akan kami lengkapi dengan keterangan langsung dari korban selamat,” ujar Soerjanto.
Selain itu, tim investigasi juga mengumpulkan dokumen dan rekaman video yang bisa menjadi petunjuk penting dalam mengungkap penyebab tragedi.
Di sisi lain, Jasa Raharja menyatakan siap memberikan santunan kepada para korban dan keluarga. “Ahli waris korban meninggal akan mendapat santunan Rp50 juta. Untuk korban luka-luka, biaya perawatan kami tanggung hingga maksimal Rp20 juta,” jelas Plt Direktur Utama Jasa Raharja, Rubi Handojo.
Hari beranjak malam ketika tim SAR menutup pencarian Jumat itu. Tak satu pun korban ditemukan, namun harapan belum padam. Di Pelabuhan Ketapang, suara tangis, doa, dan pengharapan terus bergema. Seorang ibu memeluk foto anaknya erat-erat, sementara relawan membagikan makanan ringan untuk keluarga korban yang berjaga sejak malam sebelumnya.
Selat Bali, yang sehari-hari menjadi jalur transportasi sibuk antara dua pulau besar Indonesia, kini menjadi saksi bisu atas tragedi kemanusiaan yang masih menyisakan tanda tanya dan duka mendalam.
Tim SAR akan kembali bergerak Sabtu pagi, dengan harapan yang tak surut. Sebab di tengah gelombang yang tinggi dan angin yang garang, ada nyawa-nyawa yang masih ditunggu kepulangannya. Dan selama harapan itu ada, pencarian akan terus berjalan. (red)
Editor : Redaksi