MERAHPUTIH I BANYUWANGI - Banyuwangi kembali menunjukkan taringnya di panggung nasional lewat gelaran Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2025 yang resmi dibuka Gubernur Jawa Timur Khofifah di Taman Blambangan, Sabtu (12/7) sore. Mengangkat tema “Ngelukat: Usingnese Traditional Ritual,” BEC tahun ini tak hanya memukau ribuan pasang mata, tapi juga membuktikan bahwa budaya lokal bisa bersinar di kancah global.
Berstatus sebagai bagian dari Karisma Event Nusantara (KEN) 2025 Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, BEC hadir dengan ragam suguhan istimewa mulai dari parade kostum megah, pentas musik dan tari, hingga kaleidoskop budaya yang menggambarkan siklus kehidupan manusia. Para pengunjung juga disuguhkan penampilan istimewa dari Puteri Indonesia 2025 dan pertunjukan fragmen "Ngelukat-Kidung Nyurup" dari Dewan Kesenian Blambangan.
Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya
“BEC memang milik Banyuwangi, tapi gaungnya menembus batas daerah hingga dunia. Ini bukan sekadar pertunjukan, tapi narasi besar yang memperkuat budaya dan peradaban,” ujar Khofifah dalam sambutannya.
Gubernur perempuan pertama di Jawa Timur itu menilai, kekuatan BEC ada pada kemampuannya menjalin sinergi antara budaya, ekonomi, dan masyarakat. Ia mengapresiasi kolaborasi lintas sektor—mulai dari desainer, seniman, hingga panitia lokal—yang menjaga nyawa BEC tetap menyala setiap tahun.
Dukungan juga datang dari Kemenparekraf. Staf Ahli Menteri, Masruroh, menyebut BEC lolos kurasi KEN karena dinilai berkelanjutan, berdampak, dan punya nilai filosofi kuat. "Tiga kunci sukses BEC adalah: komitmen pimpinan daerah, penguatan budaya lokal, dan dampak sosial-ekonomi yang terasa,” tegasnya.
Baca juga: Jatim Ciptakan Lompatan Ekonomi, TransJatim Jadi Sorotan: Khofifah Raih Dua Penghargaan Sekaligus
Sebagai simbol pengakuan, Masruroh menyerahkan piagam KEN kepada Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani. Menurut Ipuk, tema "Ngelukat" menjadi refleksi mendalam tentang kesucian diri, hubungan manusia dengan Tuhan, dan harmoni alam.
“Setiap gerak, setiap kostum, bukan sekadar atraksi. Ini adalah bahasa kebudayaan. Sebuah pernyataan bahwa budaya adalah daya hidup yang tak boleh padam,” kata Ipuk.
Baca juga: HKTI Deklarasikan Jatim Lumbung Ternak, Inovasi Peternakan Jadi Fokus
Menariknya, gelaran BEC tahun ini turut diwarnai suasana duka. Mayoritas peserta dan pengunjung mengenakan pakaian serba hitam sebagai bentuk solidaritas atas tragedi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali.
Meski dalam suasana berempati, semangat perayaan budaya tetap menyala. BEC 2025 sekali lagi membuktikan, Banyuwangi tak hanya kaya budaya, tapi juga piawai mengemasnya menjadi kekuatan ekonomi kreatif yang menginspirasi. (red)
Editor : Redaksi