MERAHPUTIH I SEMARANG — Matahari belum tinggi, tapi di GOR Tri Lomba Juang, Semarang, suasana sudah terasa panas. Bukan karena cuaca semata, melainkan karena ratusan pemuda yang tampak serius mempersiapkan diri mengikuti tes fisik seleksi magang ke Jepang, Rabu (23/7/2025). Mereka berlari, melompat, menahan beban, dan menahan lelah semua demi satu kata: masa depan.
Di antara keringat yang menetes dan napas yang terengah, terselip tekad yang tak main-main. Mereka bukan sekadar peserta seleksi. Mereka adalah anak-anak muda yang memikul harapan keluarga, dan membidik masa depan yang lebih baik melalui program magang ke Negeri Sakura.
Baca juga: Delegasi Connect Souq Sambangi Jateng, Bidik Kopi hingga Kelapa untuk Pasar Global
“Harapannya pingin lulus semua, sampai ke Jakarta dan ke Jepang,” kata Afif, seorang peserta, dengan suara lirih namun pasti. “Orang tua saya bilang, jangan minder. Harus optimistis.”
Afif bukan satu-satunya yang membawa doa keluarga. Ibad, pemuda asal Pekalongan, bahkan menyebut perjuangannya sebagai bentuk ikhtiar mengangkat derajat orang tuanya yang seorang buruh. “Sudah dua bulan saya latihan di LPK, dari fisik, matematika sampai wawancara. Ini semua demi bisa kerja di Jepang dan membuat orang tua bangga,” ujarnya.
Program ini bukan program biasa. Dibuka secara resmi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bekerja sama dengan International Manpower Development Organization, Japan (IM Japan), seleksi magang ke Jepang telah menjadi salah satu program paling diminati anak muda Jateng.
Dari 461 pendaftar, sebanyak 340 peserta hadir dan mengikuti proses seleksi sejak awal pekan ini, Senin (21/7). Mereka harus melewati serangkaian tahapan, mulai dari tes logika, kesemaptaan, kemampuan fisik, wawancara, hingga pemeriksaan kesehatan. Bagi yang lolos, pelatihan intensif bahasa Jepang sudah menanti, sebelum akhirnya diterbangkan ke Jepang untuk masa magang tiga tahun, bahkan bisa diperpanjang hingga lima tahun.
“Harapan kami, banyak dari mereka yang lolos dan bisa menyelesaikan program. Setelah itu, kembali ke Indonesia dan menjadi orang-orang yang sukses,” ujar Mrs. Shirakawa, perwakilan IM Japan dari Tokyo. Ia hadir langsung menyaksikan seleksi, bersama Mr. Uchida, perwakilan dari IM Japan Bangladesh.
Keduanya memuji proses seleksi yang dilakukan Pemprov Jateng serta semangat para peserta. “Pekerja Indonesia, khususnya dari Jawa Tengah, adalah pribadi yang semangat dan patuh pada aturan. Kami sangat menghargai itu,” kata Shirakawa.
Baca juga: ASN Diminta Jadi Garda Terdepan Pembangunan, Gubernur Luthfi Ingatkan Korpri Perkuat Layanan Publik
Setiap tahapan seleksi di GOR Tri Lomba Juang adalah fragmen dari perjalanan panjang menuju Jepang. Di sana, para pemuda ini akan bekerja di sektor manufaktur, konstruksi, dan berbagai bidang lainnya. Tak hanya bekerja, mereka juga akan belajar budaya disiplin, kerja keras, dan kemandirian.
Sejak kerja sama ini dimulai pada 1993, lebih dari 50.000 warga Indonesia telah mengikuti program IM Japan dan menetap sementara di Jepang. Beberapa di antaranya kembali ke tanah air dan membangun usaha sendiri, mengaplikasikan keterampilan yang mereka pelajari.
Kini, giliran ratusan pemuda Jateng mencoba membuka pintu itu. “Kami ingin peserta yang tahan banting, dan mampu menunjukkan performa terbaik di tempat kerja nanti,” ujar Shirakawa.
Bagi para peserta, program ini bukan soal gengsi bekerja di luar negeri. Ini tentang keluar dari lingkaran keterbatasan. Tentang membayar kembali pengorbanan orang tua. Tentang mimpi-mimpi yang tidak ingin tinggal sebagai angan.
Baca juga: DPN Soroti Kerentanan Jateng, Pertahanan Nonmiliter Jadi Fokus Utama
“Magang ke Jepang bukan akhir, tapi awal. Mereka harus bawa pulang. (red)
Editor : Redaksi