Gelar Kesiapsiagaan Bencana 2025 Berakhir, Jatim Perkuat Budaya Tangguh Hadapi Risiko Alam Alam

harianmerahputih.id
Setelah berlangsung selama empat hari sejak Minggu (20/7/2025), kegiatan Gelar Peralatan Penanggulangan Bencana resmi ditutup pada Rabu (23/7/2025).

MERAHPUTIH I PASURUAN — Di tengah keremangan malam Kebun Raya Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Rabu (23/7/2025), semangat kebersamaan dan kesiapsiagaan terpancar jelas. Setelah berlangsung selama empat hari penuh sejak Minggu (20/7), kegiatan Gelar Peralatan Penanggulangan Bencana 2025 resmi ditutup. Penutupan dilakukan langsung oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, ditandai dengan penyerahan penghargaan kepada para juara peserta lomba dalam rangkaian gelaran tersebut.

Lebih dari sekadar pameran peralatan atau latihan teknis, kegiatan ini menjadi ruang pembuktian bagi kesiapan ratusan personel dari berbagai unsur, mulai dari BPBD kabupaten/kota se-Jatim, BPBD Provinsi Jatim, unsur TNI dan Polri, serta pemangku kepentingan lainnya. Sebanyak 440 personel terlibat aktif, menunjukkan sinergi dan kolaborasi lintas lembaga dalam menghadapi kemungkinan bencana di wilayah yang dikenal rawan gempa dan banjir ini.

Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya

Dalam sambutannya, Gubernur Khofifah menekankan bahwa peran personel penanggulangan bencana jauh melampaui sekadar tugas administratif atau operasional. Bagi Khofifah, kehadiran para relawan dan petugas BPBD di titik-titik bencana adalah bagian dari panggilan kemanusiaan.

“Ketika mereka datang ke lokasi bencana, memberikan pertolongan, menyelamatkan jiwa itu bukan hanya pekerjaan. Itu ladang pahala. Ini tugas mulia,” ujar Khofifah, yang dikenal aktif mendorong penguatan sistem tanggap darurat di Jawa Timur.

Khofifah menekankan pentingnya penyelenggaraan kegiatan semacam ini secara rutin, bukan hanya untuk memperbarui keterampilan teknis personel, tetapi juga membangun jejaring dan komunikasi antarinstansi yang lebih solid. Ia berharap Jawa Timur dijauhkan dari bencana, tetapi menegaskan bahwa kesiapsiagaan tidak boleh lengah.

“Kita tidak pernah tahu kapan bencana akan datang. Tapi kita bisa pastikan bahwa ketika itu terjadi, semua sudah siap,” katanya.

Kepala Pelaksana BPBD Jatim, Gatot Soebroto, menegaskan bahwa selama gelaran berlangsung, pihaknya memeriksa seluruh kelengkapan logistik dan peralatan penanggulangan bencana. Menurutnya, aspek kesiapan tidak boleh hanya bersifat simbolik, tetapi harus teruji secara teknis dan operasional.

“Kami cek secara menyeluruh. Mulai dari tenda darurat, alat komunikasi, logistik dapur umum, hingga peralatan evakuasi di daerah banjir dan longsor. Semua harus siap digunakan kapan pun dibutuhkan,” tutur Gatot.

Kegiatan ini juga menjadi ajang uji keterampilan personel dalam skenario darurat, termasuk simulasi evakuasi korban dan penyelamatan di area rawan.

Baca juga: Imam Utomo Kembali Pimpin PMI Jawa Timur: Aklamasi yang Menegaskan Soliditas dan Kepercayaan Publik

Deputi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Lilik Kurniawan, yang turut hadir dalam kegiatan penutupan, memberikan catatan penting tentang profil kerawanan Jawa Timur. Menurut Lilik, berdasarkan pemetaan risiko nasional, Jatim menyimpan ancaman serius dari dua sisi: gempa dan banjir.

“Sekitar 19,1 juta warga tinggal di zona rawan gempa. Sementara 17,1 juta lainnya berada di kawasan yang rawan banjir. Ini angka yang besar dan tidak boleh diabaikan,” jelas Lilik.

Ia menambahkan, wilayah selatan Jawa Timur berpotensi mengalami tsunami besar akibat aktivitas subduksi di zona megathrust selatan Jawa. Oleh sebab itu, menurutnya, penguatan budaya tangguh bencana harus dimulai dari hulu, yakni dari masyarakat.

“Kita tidak bisa hanya mengandalkan BPBD. Kesiapsiagaan harus tumbuh dari masyarakat. Mulai dari tahu jalur evakuasi, hingga tahu apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi,” katanya.

Baca juga: Jatim Ciptakan Lompatan Ekonomi, TransJatim Jadi Sorotan: Khofifah Raih Dua Penghargaan Sekaligus

Lilik menyambut baik komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang secara konsisten menyelenggarakan kegiatan pelatihan dan gelar peralatan seperti ini. Ia menilai bahwa pola tersebut bisa direplikasi oleh daerah-daerah lain yang memiliki kerentanan serupa.

Menurutnya, kegiatan seperti Gelar Peralatan Penanggulangan Bencana bukan hanya soal unjuk alat, melainkan juga ruang belajar kolektif bagi para pemangku kepentingan di level tapak hingga pusat.

“Ini bukan kompetisi, ini konsolidasi. Kita bangun ketahanan bersama-sama,” tuturnya.

Di tengah dinamika perubahan iklim, urbanisasi, dan kerentanan geografis yang terus meningkat, Jawa Timur dihadapkan pada kebutuhan mendesak untuk memperkuat kapasitas penanganan bencana berbasis komunitas. Melalui kegiatan ini, semangat untuk membangun ketangguhan itu mendapat tempat, dihidupkan kembali dari lapangan, bukan hanya dari balik meja kebijakan. (dpr) 

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru