Erick Thohir Dorong Regulasi Agen Pemain dan Standarisasi Pemain Asing di Liga Indonesia

harianmerahputih.id
Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Erick Thohir

MERAHPUTIH I JAKARTA - Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Erick Thohir, kembali menegaskan perlunya pembenahan menyeluruh dalam ekosistem sepak bola nasional. Salah satu sorotan utama yang ia utarakan dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (24/7/2025), adalah tentang regulasi agen pemain dan standar perekrutan pemain asing di Liga Indonesia.

Menurut Erick, salah satu langkah krusial untuk meningkatkan profesionalisme dalam tata kelola sepak bola nasional adalah dengan memastikan seluruh agen pemain yang terlibat di kompetisi domestik memiliki lisensi resmi dari FIFA. Ia menolak praktik "agen bodong" yang kerap membanjiri pasar pemain Indonesia tanpa standar yang jelas.

Baca juga: PERSIB Bidik Kebangkitan di Pamekasan, Andrew Jung: “Saatnya Bangkit dan Fokus Penuh!”

"Pertama kita mensyaratkan agen-agen harus ada lisensi FIFA, tidak bodong-bodongan. Jangan sampai pangsa sepak bola kita jadi tempat orang cari makan dengan standar yang jelek," ujar Erick.

Langkah ini dinilai sebagai bagian dari proses panjang menuju penyelenggaraan kompetisi yang lebih transparan dan berdaya saing, seiring dengan transformasi yang tengah diusung PSSI bersama operator baru Liga Indonesia, I.League.

Dalam kesempatan yang sama, Erick juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas kompetisi nasional melalui evaluasi menyeluruh terhadap pemain asing. Ia menekankan perlunya parameter objektif dalam merekrut pemain asing agar tidak sekadar menjadi pengisi slot, tetapi benar-benar memberi kontribusi terhadap permainan dan kualitas liga.

"Saya juga ingin di 2027, standar pemain asing di liga ada hitungannya. Kalau di Inggris, Italia, ada. Kita juga mesti ada hitungannya supaya liga kita meningkat kualitasnya," katanya.

Erick menyadari bahwa saat ini masih terdapat perbedaan pendekatan antara PSSI dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dalam mengukur kualitas kompetisi. Namun, menurutnya, ada indikator-indikator spesifik yang bisa digunakan untuk membaca perkembangan liga domestik.

Ia menyebutkan beberapa tolok ukur, seperti apakah kompetisi dikuasai oleh satu klub saja, jumlah penonton di stadion, kesehatan finansial klub, serta kiprah klub Indonesia di ajang kompetisi Asia.

Baca juga: Persebaya Gagal Amankan Kemenangan, Kebobolan di Ujung Laga: Duel Sengit di Lampung Berakhir 1-1

"Kalau semua klub bisa bersaing dan punya daya saing di Asia, itu menunjukkan kualitas liga. Tapi kalau cuma satu tim yang juara terus, itu bisa jadi sinyal bahwa liganya belum kompetitif," jelas Erick.

Dalam kaitannya dengan pemain diaspora dan naturalisasi, Erick menolak narasi bahwa mereka yang bermain di liga Indonesia berarti mengalami kemunduran dalam karier. Ia mengajak publik melihat kenyataan bahwa banyak pemain Asia, termasuk Jepang dan Korea Selatan, yang tersebar di berbagai kasta liga Eropa maupun Asia.

"Pemain ya pasti mereka tak hanya ingin bermain di Timnas, mereka ingin main profesional di klub yang memainkan dan membutuhkan mereka, di mana pun kesempatan itu ada," katanya.

Ia mencontohkan, saat Jepang kini menduduki peringkat ke-17 dunia dalam peringkat FIFA, para pemainnya tersebar tidak hanya di Premier League atau Serie A, tapi juga bermain di kasta kedua liga Inggris, Bundesliga 2, bahkan liga-liga kecil Eropa.

Baca juga: PERSIB Fokus Menatap Kebangkitan, Klok: “Dua Pekan ke Depan Penentu!”

"Itu tidak salah atau benar, karena mereka memang butuh penghidupan dan itu jadi pilihan mereka dalam berkarier. Jadi ketika para pemain Indonesia ada yang bisa main di Eropa, kita bersyukur, mereka bisa bersaing di level tinggi, meski tergantung liganya juga," ucap Erick.

Sejak menjabat sebagai Ketua Umum PSSI, Erick Thohir konsisten mendorong agenda reformasi menyeluruh, dari perbaikan infrastruktur, sistem kompetisi usia dini, hingga profesionalisme manajemen klub. Ia menilai keberadaan liga yang sehat dan kompetitif adalah fondasi utama bagi prestasi sepak bola nasional di tingkat internasional.

Langkah pengaturan agen pemain dan peningkatan kualitas pemain asing merupakan bagian dari proses jangka panjang tersebut. Dengan kehadiran operator baru, I.League, dan sejumlah regulasi baru yang tengah disusun, Erick berharap ada lompatan signifikan dalam pengelolaan sepak bola Indonesia.

"Kita tidak ingin sekadar bermain bola, kita ingin punya industri bola yang sehat, profesional, dan berprestasi. Itu butuh kerja keras semua pihak," pungkasnya. (red)

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru